¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Mengenal Neoplasma Urotelial pada Kandung Kemih dari Data Sebelas Tahun di Rumah Sakit Rujukan Tersier

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kencing berdarah sering kali diabaikan, terutama jika tidak disertai rasa nyeri. Padahal, kencing berdarah atau hematuria meskipun tanpa nyeri merupakan salah satu gejala awal kanker kandung kemih yang paling sering ditemukan. Mengenali gejala tersebut sejak dini dapat meningkatkan peluang diagnosis dan pengobatan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut.

Neoplasma urotelial merupakan kelompok tumor yang berasal dari sel urotelium, yaitu lapisan sel yang melapisi bagian dalam kandung kemih. Kelompok ini mencakup berbagai jenis lesi, mulai dari tumor dengan potensi keganasan rendah hingga karsinoma kandung kemih yang bersifat invasif. Di antara berbagai jenis tersebut, urothelial carcinoma merupakan bentuk yang paling sering ditemukan dan menjadi penyebab utama keganasan kandung kemih.

Gejala yang paling sering dijumpai pada neoplasma kandung kemih adalah hematuria atau keluarnya darah bersama urin. Berbeda dengan infeksi saluran kemih yang umumnya disertai nyeri saat berkemih, hematuria pada neoplasma kandung kemih sering muncul tanpa rasa nyeri. Kondisi inilah yang menyebabkan banyak pasien menganggap keluhannya tidak serius sehingga memilih menunggu daripada segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Penelitian menunjukkan bahwa pasien sering menunda pemeriksaan ketika mengalami hematuria tanpa nyeri. Pasien baru mencari pertolongan medis setelah perdarahan semakin sering, muncul nyeri, atau disertai gangguan berkemih lainnya. Keterlambatan diagnosis tersebut dapat menyebabkan kanker ditemukan pada stadium yang lebih lanjut sehingga pilihan terapi menjadi lebih kompleks dan prognosis pasien menjadi kurang baik.

Data gambaran neoplasma urotelial kandung kemih di Indonesia masih belum diketahui dengan baik. Dilakukan penelitian retrospektif di Instalasi Patologi Anatomi RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama periode 2013–2023 untuk mengetahui epidemiologi dari neoplasma urotelial. Penelitian ini menggunakan data kasus neoplasma urotelial kandung kemih yang diagnosisnya ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi pada kurun waktu tersebut.

Penelitian tersebut menemukan 618 kasus neoplasma urotelial kandung kemih yang memenuhi kriteria penelitian. Sebagian besar pasien berada pada kelompok usia 51-60 tahun dengan rerata usia 59,17 tahun. Kasus juga lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio 1:7. Dominasi pasien laki-laki telah banyak dilaporkan dalam penelitian di berbagai negara. Salah satu faktor yang diduga berperan adalah tingginya paparan rokok pada laki-laki yang dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan sel menjadi ganas.

Pada pasien yang memiliki data klinis lengkap, hematuria merupakan keluhan yang paling sering ditemukan. Jarak waktu antara munculnya hematuria hingga diagnosis bervariasi, mulai dari satu minggu hingga empat tahun, dengan median sekitar tiga bulan. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian pasien masih menunda pemeriksaan meskipun telah mengalami hematuria. Akibatnya, kesempatan untuk mendeteksi penyakit pada tahap yang lebih dini dapat terlewatkan.

Berdasarkan pemeriksaan histopatologi, jenis neoplasma yang paling banyak ditemukan adalah urothelial carcinoma, merupakan jenis neoplasma urotelial yang sudah ganas, diikuti oleh urothelial papilloma dan Papillary urothelial neoplasm of low malignant potential (PUNLMP). Sebagian besar karsinoma termasuk dalam kategori high-grade (81%), yang menunjukkan derajat keganasan tinggi. Selain itu, mayoritas kasus telah menginvasi otot kandung kemih atau dikenal sebagai muscle-invasive bladder cancer (MIBC), sedangkan hanya sebagian kecil yang masih terbatas pada lapisan permukaan kandung kemih (non-muscle invasive bladder cancer atau NMIBC).

Temuan tersebut memiliki makna klinis yang penting. Kanker yang telah menginvasi otot kandung kemih umumnya memerlukan terapi yang lebih agresif, seperti pengangkatan kandung kemih (radikal sistektomi) yang dapat dikombinasikan dengan kemoterapi. Sebaliknya, kasus yang masih terbatas pada lapisan permukaan kandung kemih umumnya memiliki pilihan terapi yang lebih sederhana dan prognosis yang lebih baik. Oleh karena itu, keterlambatan diagnosis dapat berdampak pada semakin beratnya penanganan yang harus dijalani pasien.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan pola yang serupa dengan berbagai penelitian internasional, yaitu dominasi pasien laki-laki usia lanjut dengan urothelial carcinoma sebagai jenis histopatologi yang paling sering ditemukan. Data epidemiologi lokal seperti ini penting sebagai dasar pengembangan pelayanan kesehatan, penelitian lanjutan, serta penyusunan strategi deteksi dini di Indonesia.

Kencing berdarah bukanlah gejala yang boleh dianggap sepele, meskipun tidak disertai rasa nyeri. Pemeriksaan sejak dini dapat meningkatkan peluang menemukan neoplasma kandung kemih sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih invasif. Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengenali hematuria, mengendalikan faktor risiko seperti kebiasaan merokok, serta segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan diharapkan dapat membantu meningkatkan deteksi dini dan memperbaiki luaran pasien dengan neoplasma kandung kemih.

Penulis: Khafidhotul Ilmiah, Irene Lingkan Parengkuan, Anny Setijo Rahaju, Gondo Mastutik dan Wahjoe Djatisoesanto

Judul artikel: ÌýKencing Berdarah Tak Boleh Dipandang Sebelah Mata: Mengenal Neoplasma Urotelial pada Kandung Kemih dari Data Sebelas Tahun di Rumah Sakit Rujukan Tersier

Link artikel: 

AKSES CEPAT