Ketika seseorang mengalami serangan jantung atau sindrom koroner akut, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Semakin cepat aliran darah ke otot jantung dipulihkan, semakin besar peluang untuk menyelamatkan jaringan jantung yang masih dapat bertahan. Salah satu tindakan yang banyak dilakukan adalah percutaneous coronary intervention atau PCI, yang lebih dikenal masyarakat sebagai pemasangan ring jantung. Melalui prosedur ini, pembuluh darah koroner yang tersumbat atau menyempit dibuka kembali agar darah dapat mengalir menuju otot jantung.
Namun, keberhasilan pemasangan ring tidak selalu berarti seluruh risiko telah selesai. Pada sebagian pasien, ancaman masih dapat muncul setelah tindakan. Mereka tetap dapat mengalami serangan jantung berulang, stroke, gagal jantung, rawat inap kembali, bahkan kematian akibat penyakit kardiovaskular. Salah satu petunjuk penting ternyata dapat ditemukan dalam darah. Pada pasien dengan sindrom koroner akut, biomarker dalam darah ternyata dapat memberi gambaran tentang peradangan, stres oksidatif, kerusakan otot jantung, ketidakstabilan plak pembuluh darah, hingga proses perubahan struktur jantung setelah serangan akut. Dengan kata lain, darah dapat menunjukkan proses penyakit yang sedang berlangsung.
Untuk membuktikan peranan biomarker dalam darah dalam memprediksi risiko pasien setelah pemasangan ring jantung, kami melakukan kajian sistematis dan meta-analisis. Terdapat enam biomarker yang diteliti, meliputi sST2, GDF-15, OPG, sLOX-1, H-FABP, dan Galectin-3. Penelitian ini menggabungkan 40 studi dengan total 18.933 pasien. Penelitian ini tidak hanya menilai apakah biomarker tersebut dapat memprediksi risiko, tetapi juga kapan waktu terbaik untuk mengukurnya, apakah sebelum atau sesudah tindakan PCI. Biomarker yang diukur sebelum PCI dapat menggambarkan kondisi dasar pasien, termasuk beban peradangan, tingkat stres jantung, dan ketidakstabilan plak sebelum prosedur dilakukan. Sebaliknya, biomarker yang diukur setelah PCI dapat mencerminkan respons tubuh terhadap tindakan, termasuk cedera pembuluh darah, aktivasi sitokin, stres oksidatif, dan kemungkinan cedera reperfusi saat aliran darah kembali masuk ke jaringan yang sebelumnya kekurangan oksigen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa biomarker dalam darah lebih kuat bila diperiksa sebelum PCI. Dua biomarker yang paling menonjol adalah Soluble Suppression of Tumorigenicity-2 (sST2) dan Growth Differentiation Factor 15 (GDF-15). Kadar sST2 yang tinggi sebelum PCI berhubungan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular mayor sekitar tiga kali lipat. GDF-15 juga menunjukkan hubungan yang kuat, dengan peningkatan risiko sekitar tiga kali. Temuan ini menunjukkan bahwa tubuh pasien sebenarnya sudah memberikan sinyal risiko bahkan sebelum ring dipasang.
sST2 dapat digunakan sebagai penanda bahwa jantung sedang berada dalam tekanan. Secara biologis, sST2 berkaitan dengan jalur IL-33/ST2, yaitu jalur yang berperan dalam perlindungan jantung terhadap peradangan dan fibrosis. Ketika sST2 meningkat, molekul ini dapat menghambat efek protektif IL-33. Akibatnya, proses peradangan, fibrosis, dan remodeling jantung dapat berlangsung lebih dominan. Temuan ini mendukung sST2 sebagai penanda gagal jantung setelah sindrom koroner akut. Menariknya, sST2 sebelum PCI tampak kuat dalam memprediksi risiko rawat inap akibat gagal jantung. Hal ini sangat relevan karena pasien setelah serangan jantung tidak hanya berisiko mengalami sumbatan ulang, tetapi juga dapat mengalami penurunan fungsi pompa jantung. Dengan demikian, sST2 berpotensi membantu mengenali pasien yang membutuhkan pemantauan lebih ketat terhadap tanda-tanda gagal jantung setelah fase akut berlalu. GDF-15 memberikan informasi yang sedikit berbeda. Biomarker ini dikenal sebagai sitokin yang meningkat saat tubuh menghadapi stres biologis, peradangan, stres oksidatif, dan kerusakan jaringan. Kami mendapatkan bahwa GDF-15 muncul sebagai prediktor yang konsisten, baik dalam pengukuran sebelum maupun sesudah prosedur.
Biomarker lain juga memberi gambaran penting. Heart-Type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP) merupakan protein kecil yang cepat dilepaskan ke darah ketika sel otot jantung mengalami cedera. Karena pelepasannya relatif cepat, H-FABP dapat menangkap fase awal kerusakan miokard yang mungkin belum sepenuhnya tercermin oleh pemeriksaan lain. Dalam konteks pasien sindrom koroner akut, kadar H-FABP yang lebih tinggi sebelum PCI dapat menunjukkan bahwa beban cedera otot jantung saat pasien datang sudah lebih berat, sehingga risiko kejadian buruk berikutnya juga meningkat.
Soluble Lectin-like Oxidized Low-Density Lipoprotein Receptor-1 (sLOX-1) berkaitan erat dengan stres oksidatif dan ketidakstabilan plak aterosklerosis. Biomarker ini berhubungan dengan reseptor untuk komponen lemak pada dinding pembuluh darah. Aktivasi jalur ini dapat mendorong disfungsi endotel, peradangan, stres oksidatif, dan kerapuhan plak. Berbeda dengan biomarker lain, sLOX-1 lebih mencerminkan dimensi ketidakstabilan plak dan inflamasi vaskular. Dengan demikian, sLOX-1 berpotensi melengkapi penanda konvensional yang lebih fokus pada kerusakan otot jantung.
Galectin-3 menunjukkan pola yang lebih kompleks. Pemeriksaan Galectin-3 sebelum PCI tidak selalu menunjukkan hubungan yang bermakna dengan luaran buruk. Namun, kadar Galectin-3 setelah PCI justru menunjukkan efek prognostik yang lebih jelas. Hal ini diduga karena Galectin-3 lebih banyak mencerminkan respons tubuh terhadap cedera iskemia-reperfusi. Saat pembuluh darah yang tersumbat dibuka kembali, aliran darah memang menyelamatkan jaringan, tetapi proses tersebut juga dapat memicu lonjakan stres oksidatif dan peradangan. Galectin-3 dapat meningkat sebagai bagian dari respons makrofag, kerusakan kardiomiosit, dan proses remodeling awal. Karena itu, nilai prognostiknya lebih jelas setelah prosedur pemasangan ring dilakukan.
Temuan ini menegaskan bahwa tidak semua biomarker berbicara pada waktu yang sama. Ada biomarker yang lebih berguna untuk membaca risiko dasar pasien sebelum tindakan, seperti sST2 dan GDF-15. Ada pula biomarker yang lebih mencerminkan respons tubuh setelah tindakan, seperti Galectin-3. Inilah pentingnya memahami waktu pengambilan sampel darah, bukan sekadar melihat apakah suatu biomarker tinggi atau rendah.
Dalam praktik klinis, dokter telah menggunakan berbagai skor risiko seperti GRACE dan TIMI untuk memperkirakan prognosis pasien sindrom koroner akut. Skor tersebut memasukkan data klinis seperti usia, tekanan darah, denyut jantung, kondisi hemodinamik, dan parameter laboratorium rutin. Namun, biomarker seperti sST2 dan GDF-15 dapat memberi informasi tambahan karena mencerminkan jalur biologis yang tidak sepenuhnya tertangkap oleh skor klinis, misalnya fibrosis miokard, stres inflamasi sistemik, dan aktivasi stres oksidatif. Penggabungan biomarker dengan model klinis standar dapat meningkatkan akurasi prediksi kejadian jangka panjang pada pasien sindrom koroner akut yang menjalani PCI. Meski hasilnya menjanjikan, penggunaan biomarker ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan belum dapat langsung dianggap sebagai standar untuk semua pasien.
Ke depan, perawatan penyakit jantung tidak cukup hanya berfokus pada membuka pembuluh darah yang tersumbat. Tantangan berikutnya adalah memahami kondisi biologis setiap pasien secara lebih rinci. Dengan membaca jejak peradangan dan stres oksidatif dalam darah, strategi perawatan dapat bergerak menuju pendekatan yang lebih presisi: Bukan hanya menyelamatkan pasien pada fase akut, tetapi juga mencegah komplikasi jangka panjang dan menjaga kualitas hidup setelah serangan jantung.
Penulis: Dr. Citrawati Dyah Kencono Wungu, dr., M.Si
Dosen Fakultas Kedokteran ¶«¾©ÈÈ
Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: The Prognostic Value of Pre-Procedural and Post-Procedural Inflammatory–Oxidative Stress Biomarkers in Acute Coronary Patients Undergoing Percutaneous Coronary Intervention: A Systematic Review and Meta-Analysis yang dimuat pada jurnal ilmiah International Journal of Molecular Sciences.
Link artikel asli dapat dilihat pada:





