UNAIR NEWS 鈥 Keterbatasan akses informasi dan rendahnya eksposur digital masih menjadi tantangan bagi sejumlah usaha berbasis pemberdayaan disabilitas di Surabaya. Kondisi ini berdampak pada terbatasnya jangkauan pasar serta rendahnya pengenalan masyarakat terhadap produk dan layanan yang telah berkembang. Salah satu contoh adalah GADISku (Galeri Disabilitas Kinasih dan UPT), UMKM dengan konsep terintegrasi yang menggabungkan angkringan, kedai kopi, galeri batik, serta layanan pijat.
Selain sebagai unit usaha, GADISku juga menjadi ruang inklusif bagi penyandang disabilitas untuk bekerja dan mengembangkan keterampilan. Meski sistem operasional telah berjalan, GADISku masih menghadapi kendala pada pemasaran digital. Keterbatasan kemampuan pengelolaan konten membuat eksposur publik masih rendah dan berdampak pada performa usaha.
Peran mahasiswa
Sepuluh mahasiswa 东京热 (UNAIR) penerima Beasiswa Bakti BCA tahun 2026 yang tergabung dalam kelompok Visionary melaksanakan program pendampingan bertajuk 鈥淧rogram Penguatan Ekosistem Digital GADISku.鈥
Kelompok ini terdiri dari Steffany Claudia Martilla Sihombing (P) selaku ketua tim, Zulaikha Qurroti A. Yunina Rosyida (FEB), Nuzzulia Calvina Izumy (FST), Velin Lumanto (FH), Naura Alieou Achmad (FEB), Lamhot Anugrah Napitupulu (FKM), Shafa Annisa Nur Fadhilah (FPSI), Nisrina Nazihah Azaly (FTMM), Nur Laili Cakraamiluhur (FKM), dan Aditya Rizky Syahputra (FEB).

Ketua tim Visionary, Steffany Claudia Martilla Sihombing, menyampaikan bahwa tantangan utama GADISku bukan hanya pada produk, tetapi pada belum terbentuknya sistem promosi digital yang konsisten dan dapat dijalankan secara mandiri oleh pengelola.
鈥淧ermasalahan utama yang kami temukan adalah belum adanya sistem promosi digital yang terstruktur sehingga pengelolaan konten belum berkelanjutan,鈥 ujarnya.
Sistem Penguatan Ekosistem Digital GADISku
Program ini dirancang sebagai satu sistem terintegrasi untuk memperkuat kapasitas digital, standarisasi operasional, serta perluasan eksposur GADISku.
Pada aspek digital, penguatan dilakukan melalui pelatihan produksi konten bagi pengelola. Mulai dari pengembangan ide, produksi, hingga pengeditan dasar. Tim juga menyusun kalender konten untuk menjaga konsistensi publikasi, serta mengintegrasikan kanal digital melalui WhatsApp Business katalog dan Linktree sebagai pusat informasi layanan.
Pada aspek operasional, disusun template kerja seperti proposal kegiatan, MoU kerja sama, serta Graphic Standard Manual sederhana untuk menjaga konsistensi identitas visual. Selain itu, tersedia template desain konten dan pelatihan pengeditan dalam tiga tahap. Yaitu pengenalan, praktik, dan simulasi implementasi.
Sistem ini juga diperkuat melalui pengembangan strategi eksposur. Termasuk optimalisasi media sosial GADISku dan Tulika Kopi, penguatan kerja sama mitra distribusi, serta pelaksanaan workshop 鈥淪ip, Sign, and Design鈥 sebagai ruang kolaborasi dan promosi berbasis komunitas.
Ekosistem Sosial GADISku
GADISku merupakan program sociopreneurship yang Pemerintah Provinsi Jawa Timur luncurkan melalui Dinas Sosial bersama Yayasan Rumah Kinasih. Pj Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono meresmikan program tersebut pada 22 April 2024.
Saat ini GADISku memberdayakan 16 penyandang disabilitas dengan latar belakang disabilitas mental, tuna rungu, wicara, daksa, serta anak berkebutuhan khusus. Unit usaha yang ada dalam pengelolaan GADISku meliputi pijat tunanetra, Tulika Kopi, angkringan, serta galeri batik ciprat.
Tantangan dan Keberlanjutan
Meski telah berjalan, GADISku masih menghadapi tantangan pada perluasan pasar dan optimalisasi komunikasi digital. Hal ini membuat potensi layanan belum sepenuhnya terkenal luas di masyarakat
Melalui sistem penguatan ini, mahasiswa UNAIR berharap GADISku dapat memiliki ekosistem digital yang lebih terstruktur, berkelanjutan, serta mampu berjalan secara mandiri dalam pengelolaan branding dan komunikasi publik.





