东京热

东京热 Official Website

Lepas 2.360 Mahasiswa BBK ke-8, UNAIR Teguhkan Komitmen pada Pembangunan Berkelanjutan

Sesi foto bersama jajaran pimpinan UNAIR, Dosen Pendampung dan para mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-8 pada Upacara Pelepasan Mahasiswa BBK ke-8 UNAIR di Airlangga Convention Center (ACC), Minggu (12/7/2026). (Foto: PHMP UNAIR)
Sesi foto bersama jajaran pimpinan UNAIR, Dosen Pendampung dan para mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-8 pada Upacara Pelepasan Mahasiswa BBK ke-8 UNAIR di Airlangga Convention Center (ACC), Minggu (12/7/2026). (Foto: PHMP UNAIR)

UNAIR NEWS – Semangat pengabdian dan kolaborasi mewarnai Upacara Pelepasan Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-8 东京热 (UNAIR) yang berlangsung di Airlangga Convention Center (ACC), Minggu (12/7/2026). Sebanyak 2.360 mahasiswa resmi diberangkatkan untuk mengabdi di berbagai daerah sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya dituntut mengaplikasikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi yang berdampak bagi masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Ruang Belajar Sekaligus Membangun Kepercayaan Masyarakat

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development UNAIR, Prof Muhammad Miftahussurur dr MKes SpPD-KGEH PhD FINASIM, menegaskan bahwa BBK merupakan momentum penting bagi mahasiswa untuk belajar langsung bersama masyarakat. Menurutnya, pengabdian tidak sekadar menjadi agenda akademik, melainkan kesempatan menghadirkan manfaat nyata di tengah kehidupan sosial.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development UNAIR, Prof Muhammad Miftahussurur dr MKes SpPD-KGEH PhD FINASIM saat memberi sambutan dan arahan pada Upacara Pelepasan Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-8 UNAIR, Minggu (12/7/2026)/ (Foto: PHMP UNAIR)

“Momentum BBK ini sangat penting untuk UNAIR dan masyarakat. Kalian tidak hanya meninggalkan kampus untuk belajar di tengah masyarakat, tetapi juga membawa dampak dan hadir di tengah masyarakat. BBK adalah bagian penting bagi UNAIR untuk berkontribusi dalam pencapaian SDGs. Saya meyakini setiap program yang kalian rancang akan berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof Miftahussurur berpesan agar mahasiswa tidak hanya berfokus menjalankan program kerja. Ia mendorong peserta BBK untuk membangun kedekatan dengan masyarakat melalui sikap empati, kemampuan mendengar, dan semangat menginspirasi. “Jangan sekadar datang dan melaksanakan program kerja. Datanglah untuk membangun kepercayaan, mendengar, menginspirasi masyarakat, dan pulanglah membawa pengalaman untuk masa depan,” tuturnya. Ia juga mengapresiasi pentingnya peran Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Menurutnya, DPL berperan menjaga kesinambungan hubungan antara UNAIR dan masyarakat selama maupun setelah pelaksanaan BBK.

Komitmen Pembangunan Berkelanjutan

Sementara itu, Ketua , Prof Hery Purnobasuki MSi PhD, memaparkan bahwa BBK ke-8 kali ini melibatkan 2.360 mahasiswa reguler beserta 121 Dosen Pembimbing Lapangan. Mereka akan menjalankan pengabdian di 193 desa yang tersebar pada 11 kabupaten dan kota. Selain pelaksanaan di dalam negeri, UNAIR juga kembali mengirimkan mahasiswa melalui program BBK Internasional yang berlangsung di Malaysia, Australia, dan Jepang.

Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan UNAIR, Prof Hery Purnobasuki MSi PhD saat menyampaikan laporan BBK ke-8 UNAIR, Minggu (12/7/2026). (Foto: PHMP UNAIR)

Menurut Prof Hery, pelaksanaan BBK menjadi salah satu bentuk nyata komitmen UNAIR dalam mengintegrasikan pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, dan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan. “BBK adalah salah satu bentuk pengabdian mahasiswa untuk membantu masyarakat sekaligus menerapkan nilai-nilai Sustainable Development Goals. Mudah-mudahan kehadiran mahasiswa dapat membantu daerah yang menjadi sasaran pengabdian,” ungkapnya.

Melalui BBK ke-8, UNAIR kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kemampuan berkolaborasi dengan masyarakat. Harapannya, pengalaman belajar bersama komunitas menjadi bekal berharga bagi mahasiswa. Bekal tersebut untuk tumbuh sebagai pemimpin yang adaptif, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

Penulis: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT