东京热

东京热 Official Website

Kombinasi Laser Biru dan Nanopartikel Perak: Senjata Baru Lawan Bakteri

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Ancaman bakteri patogen yang semakin kebal terhadap antibiotik menjadi tantangan besar di dunia kesehatan modern. Kondisi ini mendorong para peneliti untuk mencari metode pengobatan alternatif yang lebih efektif, aman, dan ramah lingkungan. Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap resistensi antibiotik, inovasi berbasis cahaya dan nanoteknologi seperti ini dapat menjadi harapan baru dalam dunia kesehatan. Salah satu inovasi yang kini menunjukkan hasil menjanjikan adalah kombinasi nanopartikel perak, sinar UV, dan laser biru untuk melawan bakteri penyebab infeksi. Dalam sebuah studi terbaru, para peneliti mengkaji kemampuan antibakteri nanopartikel perak atau silver nanoparticles (AgNPs) terhadap dua bakteri berbahaya, yaitu Escherichia coli (E. coli) dan Staphylococcus aureus (S. aureus). Kedua bakteri tersebut dikenal sebagai penyebab berbagai infeksi pada manusia, mulai dari infeksi saluran pencernaan, luka, hingga infeksi serius di rumah sakit.

Penelitian ini menggunakan pendekatan terapi antimikroba fotodinamik, yakni metode yang memanfaatkan cahaya tertentu untuk meningkatkan efektivitas senyawa antimikroba. Dalam penelitian tersebut, nanopartikel perak dikombinasikan dengan paparan sinar ultraviolet (UV) dan laser biru dengan panjang gelombang 405 nanometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan cahaya mampu meningkatkan aktivitas antibakteri nanopartikel perak secara signifikan, terutama pada konsentrasi yang lebih tinggi. Dengan kata lain, kombinasi cahaya dan nanopartikel bekerja lebih efektif dibandingkan penggunaan nanopartikel saja.

Pada bakteri E. coli, paparan nanopartikel perak dengan bantuan laser selama 180 detik mampu menurunkan viabilitas bakteri hingga 71 persen, 76 persen, dan mencapai 80 persen pada konsentrasi tertinggi. Sementara itu, hasil yang lebih kuat terlihat pada bakteri S. aureus, dengan penurunan viabilitas mencapai lebih dari 97 persen pada kondisi tertentu. Temuan ini menunjukkan bahwa bakteri gram positif seperti S. aureus tampaknya lebih rentan terhadap kombinasi terapi cahaya dan nanopartikel dibandingkan bakteri gram negatif seperti E. coli. Meski demikian, keduanya sama-sama mengalami penurunan jumlah sel hidup yang sangat signifikan.

Teknologi terapi fotodinamik sendiri mulai banyak dikembangkan karena memiliki beberapa keunggulan. Selain minim invasif, metode ini juga berpotensi mengurangi risiko resistensi antibiotik yang kini menjadi ancaman global. Penggunaan laser biru dengan energi rendah juga dinilai lebih aman untuk aplikasi medis tertentu. Para peneliti menyimpulkan bahwa kombinasi laser biru, sinar UV, nanopartikel perak, dan ekstrak daun kelor memiliki potensi besar sebagai strategi baru untuk melawan bakteri patogen. Meski masih memerlukan penelitian lanjutan dan pengujian klinis lebih mendalam, hasil ini membuka peluang pengembangan terapi antimikroba masa depan yang lebih efektif, modern, dan berkelanjutan.

Penulis : Suryani Dyah Astuti

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT