Di tengah kemajuan program skrining kanker serviks berbasis HPV dan Pap smear, terdapat satu jenis kanker serviks langka yang justru sering luput terdeteksi. Jenis kanker tersebut dikenal sebagai gastric-type adenocarcinoma (GAS), suatu subtipe kanker serviks agresif yang tidak berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kanker ini memiliki prognosis buruk dan sering terlambat didiagnosis.
Berbeda dengan sebagian besar kanker serviks yang berkaitan dengan HPV, gastric-type adenocarcinoma berkembang melalui jalur biologis yang berbeda. Karena tidak berhubungan dengan HPV, hasil pemeriksaan HPV maupun Pap smear sering kali tampak normal meskipun kanker sudah berkembang. Kondisi ini membuat gastric-type adenocarcinoma menjadi tantangan besar dalam diagnosis dini.
Sebuah tinjauan sistematis yang melibatkan 59 studi dan 150 pasien dari berbagai negara menemukan bahwa rata-rata usia pasien saat diagnosis adalah 52,8 tahun. Gejala tersering berupa perdarahan vagina abnormal dan keputihan yang persisten. Namun, pada banyak kasus, gejala awal tampak samar sehingga pasien baru datang pada stadium lanjut.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sekitar 28,7% pasien mengalami kekambuhan kanker, terutama penyebaran ke organ jauh seperti ovarium, peritoneum, hati, dan kelenjar getah bening abdomen. Tingkat kelangsungan hidup lima tahun hanya mencapai 26,7%, menandakan sifat penyakit yang sangat agresif dibandingkan kanker serviks biasa.
Secara histopatologi, gastric-type adenocarcinoma memiliki karakteristik unik yang menyerupai jaringan lambung. Pemeriksaan imunohistokimia seperti MUC6, CK7, dan p53 menjadi penting untuk membantu diagnosis. Sayangnya, fasilitas pemeriksaan lanjutan tersebut belum tersedia secara merata di banyak daerah, terutama di negara berkembang.
Dalam tata laksana, operasi radikal histerektomi masih menjadi pilihan utama pada stadium awal. Namun, respons terhadap kemoterapi dan radioterapi konvensional cenderung lebih rendah dibandingkan kanker serviks terkait HPV. Hal ini menunjukkan perlunya pengembangan terapi yang lebih spesifik untuk gastric-type adenocarcinoma.
Para peneliti menekankan pentingnya meningkatkan kewaspadaan klinis terhadap kanker serviks tipe langka ini, terutama pada pasien dengan gejala persisten tetapi hasil skrining HPV negatif. Selain itu, diperlukan penguatan kapasitas diagnostik patologi dan penelitian molekuler untuk menemukan terapi yang lebih efektif di masa depan.
Meskipun tergolong jarang, gastric-type adenocarcinoma merupakan pengingat bahwa tidak semua kanker serviks dapat dideteksi melalui pendekatan skrining konvensional. Dengan diagnosis yang lebih cepat dan penanganan yang tepat, peluang hidup pasien diharapkan dapat meningkat.
Penulis: Brahmana Askandar Tjokroprawiro
Artikel lengkap dapat diakses melalui:





