东京热

东京热 Official Website

Hijau Saja Tidak Cukup: Kunci Bisnis Berkelanjutan Ada pada Kemampuan Beradaptasi dan Perilaku Karyawan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Ketika isu keberlanjutan dibicarakan di ruang rapat perusahaan, percakapannya sering berhenti pada pertanyaan yang sama: berapa biaya yang harus dikeluarkan? Mulai dari pengelolaan limbah, efisiensi energi, sertifikasi lingkungan, hingga perubahan proses produksi, semuanya terlihat seperti tambahan beban yang harus ditanggung perusahaan. Padahal, pertanyaan yang lebih penting seharusnya bukan sekadar berapa biaya untuk menjadi lebih hijau, tetapi bagaimana keberlanjutan dapat membuat perusahaan lebih tangguh dan bahkan berkinerja lebih baik.

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan bagi industri manufaktur Indonesia. Sektor ini memiliki peran besar dalam perekonomian, tetapi pada saat yang sama berhadapan dengan tekanan lingkungan yang tidak kecil: emisi, limbah industri, konsumsi sumber daya, tuntutan regulasi, serta ekspektasi konsumen dan investor yang terus berubah. Artinya, perusahaan manufaktur tidak lagi dapat memisahkan agenda keberlanjutan dari agenda daya saing.

Adaptif dan Hijau: Dua Kemampuan yang Saling Menguatkan

Penelitian ini melibatkan 221 responden manajerial dari perusahaan manufaktur di Indonesia mencoba menjawab persoalan tersebut. Fokusnya ada pada dua hal. Pertama, adaptive capability, yakni kemampuan perusahaan membaca perubahan di lingkungan, mengolah informasi, menyesuaikan sumber daya, dan merespons perubahan dengan cepat. Kedua, pro-environmental behavior, yaitu perilaku karyawan yang secara nyata mendukung lingkungan, mulai dari mengurangi penggunaan sumber daya hingga membiasakan praktik kerja yang lebih ramah lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi bukan hanya membantu perusahaan menghadapi perubahan pasar atau tekanan regulasi. Kemampuan ini juga meningkatkan kinerja sosial, kinerja lingkungan, dan kinerja finansial. Dengan kata lain, perusahaan yang lebih peka terhadap perubahan dan lebih mampu menyesuaikan diri memiliki peluang lebih besar untuk membangun keberlanjutan sekaligus menghasilkan kinerja bisnis yang lebih baik.

Hal yang sama berlaku pada perilaku karyawan. Pro-environmental behavior terbukti berkontribusi pada kinerja sosial dan lingkungan perusahaan, sekaligus memiliki hubungan positif dengan kinerja finansial. Temuan ini penting karena mengingatkan bahwa strategi sustainability tidak akan hidup hanya melalui dokumen kebijakan, laporan ESG, atau sertifikasi. Ia harus hadir dalam keputusan dan rutinitas orang-orang yang bekerja di dalam organisasi.

Yang paling menarik, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kinerja sosial dan lingkungan menjadi jembatan menuju kinerja finansial. Artinya, manfaat ekonomi dari kemampuan beradaptasi dan perilaku ramah lingkungan tidak hanya muncul secara langsung. Sebagian manfaat tersebut bekerja melalui peningkatan kinerja keberlanjutan perusahaan terlebih dahulu. Ketika perusahaan mampu mengubah kapasitas adaptif dan perilaku hijau menjadi praktik sosial serta lingkungan yang nyata, dampaknya kemudian ikut memperkuat kinerja finansial.

Apa Artinya bagi Perusahaan?

1. Jangan perlakukan kemampuan beradaptasi sebagai respons darurat

Adaptasi seharusnya dibangun sebagai kemampuan organisasi sehari-hari. Perusahaan perlu memiliki mekanisme untuk membaca perubahan pasar, regulasi, teknologi, dan tuntutan stakeholder, lalu mengubah informasi tersebut menjadi keputusan. Perencanaan risiko juga perlu terhubung dengan strategi keberlanjutan, bukan berdiri sebagai aktivitas yang terpisah.

2. Beri ruang bagi karyawan untuk mempertanyakan cara kerja lama

Perusahaan yang adaptif membutuhkan lingkungan kerja yang memberi toleransi terhadap pertanyaan, eksperimen, dan perbaikan cara kerja. Karyawan perlu merasa aman untuk mengatakan bahwa sebuah proses sudah tidak efisien, terlalu banyak menghasilkan limbah, atau dapat dilakukan dengan cara yang lebih bersih. Inovasi sering kali bermula dari keberanian mempertanyakan rutinitas yang selama ini dianggap normal.

3. Jadikan perilaku hijau sebagai kebiasaan, bukan kampanye sesaat

Poster hemat energi atau slogan sustainability tidak akan cukup. Perusahaan perlu menerjemahkan agenda lingkungan ke dalam perilaku yang konkret dan mudah dilakukan: mengurangi penggunaan sumber daya, memilah dan mendaur ulang, menghemat energi dan air, serta mencari cara kerja yang mengurangi dampak lingkungan. Pelatihan dan pengembangan dapat membantu karyawan memahami bukan hanya apa yang harus dilakukan, tetapi mengapa perilaku tersebut penting.

4. Hubungkan sustainability dengan sistem manajemen kinerja

Salah satu implikasi praktis penelitian adalah perlunya mengaitkan kontribusi terhadap sustainability dengan evaluasi kinerja. Bukan berarti setiap karyawan harus memiliki target lingkungan yang sama, tetapi perusahaan dapat memasukkan kontribusi yang relevan dengan pekerjaannya: efisiensi proses, pengurangan pemborosan, ide perbaikan lingkungan, atau partisipasi dalam inisiatif keberlanjutan.

5. Jangan menempatkan kinerja finansial dan sustainability sebagai dua kutub yang berlawanan

Temuan penelitian menunjukkan bahwa kemampuan internal perusahaan dan kepedulian karyawan terhadap praktik ramah lingkungan dapat meningkatkan kinerja finansial, baik secara langsung maupun melalui kinerja keberlanjutan. Karena itu, pertanyaan manajerialnya bukan lagi 鈥榩rofit atau sustainability?鈥, melainkan 鈥榖agaimana sustainability dirancang agar memperkuat daya saing dan profitabilitas jangka panjang?鈥

Dari Kepatuhan Menuju Keunggulan

Pada akhirnya, sustainability yang kuat bukan lahir dari satu program, satu divisi, atau satu laporan tahunan. Ia lahir ketika perusahaan memiliki kemampuan untuk terus membaca perubahan dan ketika perilaku karyawannya bergerak ke arah yang sama. Di sinilah adaptive capability dan pro-environmental behavior bertemu: yang satu membentuk kemampuan organisasi untuk berubah, sementara yang lain memastikan perubahan tersebut hidup dalam tindakan sehari-hari.

Bagi perusahaan manufaktur Indonesia, pesan ini sangat relevan. Tekanan untuk lebih hijau akan terus meningkat, baik dari regulator, konsumen, investor, maupun rantai pasok global. Perusahaan dapat memilih untuk sekadar memenuhi tuntutan tersebut, atau menggunakannya sebagai momentum untuk memperbaiki proses, memperkuat kapabilitas, dan membangun budaya kerja yang lebih adaptif.

Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa pilihan kedua memiliki nilai bisnis yang nyata. Kinerja sosial dan lingkungan bukan hanya 鈥榟asil sampingan鈥 dari bisnis yang baik, tetapi dapat menjadi mekanisme yang menghubungkan kemampuan perusahaan dan perilaku karyawan dengan kinerja finansial. Dengan demikian, menjadi lebih berkelanjutan bukan berarti menjauh dari tujuan bisnis. Jika dikelola dengan tepat, justru di sanalah salah satu sumber keunggulan perusahaan dapat dibangun.

Oleh: Jovi Sulistiawan

Sumber: Tu, Y.-T., Moslehpour, M., Zuhri, A., Hidayat, H. T., & Sulistiawan, J. (2026). 鈥淭hriving in Change: The Interwoven Dynamics of Adaptive Capability, Pro-Environmental Behavior, and Corporate Sustainability.鈥 Journal of the Knowledge Economy. https://doi.org/10.1007/s13132-026-03392-x

AKSES CEPAT