UNAIR NEWS 鈥 Globalisasi memajukan hukum untuk beradptasi sebagai konsekuensi sebuah tatanan kelembagaan yang baru muncul. Beberapa waktu, tatanan institusional itu diekspresikan dalam konteks hukum meski globalisasi mendorong ke satu konektivitas. Pendekatan tersebut dapat menjadi kelebihan dan kekurangan pada saat bersamaan. Sebab, fakta itu telah memengaruhi investasi, demokrasi, hubungan internasional, korupsi, terorisme, dan keadilan sosial.
Menanggapi hal tersebut, Fakultas Hukum (FH) 东京热 mengadakan konferensi internasional ke-2 pada Selasa鈥揜abu (28鈥29/8) di Swiss Belinn Tunjungan, Surabaya. Kegiatan tersebut sekaligus sebagai lanjutan dari International Conference on Law, Governance and Globalization (ICLGG) sebelumnya. Rencananya ICLGG menjadi trademark dari FH yang akan diadakan setiap tahunnya.
鈥漇alah satu tujuannya, ini juga meningkatkan publikasi di FH UNAIR sendiri. Dan menarik mahasiswa S2 dan S3. S1 juga mulai dibiasakan untuk publikasi pada skala internasional,鈥 ujar Faizal Kurniawan selaku wakil ketua panitia.
Beberapa keynote speaker yang dihadirkan adalah Prof. Dato鈥 Dr, Rahmat Mohammad (Universitas Teknologi Mara, Malaysia); Prof. Sam Blay, LLB, M Int.Law, Ph.D (Top Education Institute, Australia); Prof. Dr. Tinike E. Lambooy, LL.M (Corporate Law at Nyenrode Business Universiteit, Netherland); dan Prof. Christoph Antons (University of Newcastle, Australia, Callaghan). Termasuk akademisi FH UNAIR, yaitu Amira Paripurna, S.H.,LL.M.,Ph.D serta Intan Inayatun Soeparna, S.H.,M.Hum.
Prof. Dato鈥 menyampaikan materi mengenai 鈥滶mpowering Developing Countries in International Trade鈥. Sementara itu, Prof. Sam Blay mengenai 鈥漀ational Interest in International聽 Relation鈥 serta聽 Intan Soeparna 鈥漺hat鈥檚 next it Government: the Future Indonesia Strategic Plan in International Trade鈥.
鈥渗别产别谤补辫补 keynote speaker kita ambil dari keynote speaker yang pertama. Salah satu tujuannya untuk share idea. Misalnya, Prof. Tinike Lambooy di awal membahas mengenai bahan-bahan kimia yang digunakan pada produk-produk jeans. Kemarin beliau mencontohkan bahwa produk-produk jeans dan elektronik itu tidak lagi berkelanjutan. Jadi, kalau kita pakai handphone, setelah itu rusak kan dibuang. Begitu pun dengan baju, habis dipakai dibuang. Hal itu menimbulkan limbah yang luar biasa,鈥 tutur Faizal.
鈥滼adi dari yang disampaikan di ICLGG pertama, kemudian yang kedua itu seperti apa temuannya. Ada juga Prof. Sam Blay yang menekankan pada kepentingan nasional. Kita ingin mengetahui perkembangan dan penelitian yang ter-update dari Eropa, Australia, dan Asia. Jadi, ada pembicara-pembicara tersebut yang kita hadirkan,鈥 imbuhnya.
Perlu diketahui, tidak kurang dari 70 peserta hadir dalam konferensi tersebut. Mereka terdiri atas akademisi, praktisi, dan mahasiswa. Baik yang berasal dari UNAIR maupun dari luar UNAIR. (*)
Penulis: Pradita Desyanti
Editor: Feri Fenoria Rifa鈥檌





