东京热

东京热 Official Website

Faktor Penyebab Polusi Udara Jawa Timur Tak Lagi Sama: Pandangan Statistika Spasial

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Udara merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Namun ironisnya, kualitas udara justru semakin menurun seiring meningkatnya aktivitas manusia. Pertumbuhan kendaraan bermotor, pembangunan wilayah, kepadatan penduduk, hingga aktivitas ekonomi memberikan tekanan terhadap lingkungan. Ketika kualitas udara menurun, dampaknya tidak hanya dirasakan dalam bentuk kabut atau bau polusi, tetapi juga meningkatnya risiko gangguan pernapasan, penyakit kardiovaskular, bahkan penurunan kualitas hidup masyarakat.

Indonesia termasuk negara yang menghadapi persoalan polusi udara serius. Laporan Air Quality Life Index (AQLI) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kontribusi besar terhadap pencemaran udara global. Bahkan beberapa wilayah di Jawa Timur menunjukkan kondisi kualitas udara yang kurang baik. Situasi tersebut menuntut langkah penanganan yang tidak bersifat umum, melainkan spesifik sesuai kondisi masing-masing daerah.

Permasalahan menarik muncul ketika satu kebijakan sering diterapkan untuk seluruh wilayah secara seragam. Padahal karakteristik daerah berbeda-beda. Daerah perkotaan dengan kepadatan tinggi tentu memiliki persoalan lingkungan yang berbeda dibanding daerah dengan kawasan hutan luas atau wilayah wisata. Perbedaan ini memunculkan pertanyaan penting: apakah faktor penyebab kualitas udara di setiap daerah sebenarnya sama?

Untuk menjawab persoalan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan statistika spasial melalui metode Geographically Weighted Logistic Regression (GWLR). Sederhananya, metode ini memungkinkan analisis dilakukan dengan mempertimbangkan faktor lokasi geografis. Jika model statistika biasa menghasilkan satu kesimpulan untuk seluruh wilayah, GWLR mampu menghasilkan kesimpulan yang berbeda pada setiap kabupaten atau kota.

Penelitian dilakukan pada 38 kabupaten/kota di Jawa Timur menggunakan data tahun 2023. Target yang dianalisis adalah capaian indeks kualitas udara nasional. Beberapa faktor diduga memengaruhi pencapaian target tersebut, yaitu jumlah akomodasi wisata, kepadatan penduduk, luas kawasan hutan dan perairan, serta jumlah kendaraan bermotor.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kualitas udara ternyata tidak sama di semua wilayah. Jumlah kendaraan bermotor dan jumlah akomodasi wisata menjadi faktor yang paling sering muncul sebagai variabel signifikan.

Temuan ini cukup menarik. Kendaraan bermotor memang selama ini diketahui sebagai salah satu penyumbang utama pencemaran udara melalui emisi gas buang. Semakin tinggi jumlah kendaraan, semakin besar potensi peningkatan polutan di udara. Namun, temuan mengenai akomodasi wisata memberikan sudut pandang lain. Peningkatan aktivitas pariwisata sering kali diikuti pertumbuhan transportasi, pembangunan fasilitas, dan mobilitas masyarakat yang lebih tinggi.

Meski demikian, pengaruh faktor tersebut tidak muncul merata di seluruh wilayah. Di beberapa daerah seperti Surabaya, Malang, dan Sidoarjo, jumlah akomodasi wisata menjadi faktor dominan. Sementara pada wilayah lain seperti Lumajang, Banyuwangi, hingga Probolinggo, kombinasi kendaraan bermotor dan aktivitas wisata berperan terhadap pencapaian target kualitas udara.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendekatan statistika berbasis lokasi memberikan hasil yang lebih akurat dibanding model umum. Model GWLR menghasilkan tingkat ketepatan klasifikasi sebesar 78,95%, lebih tinggi dibanding model regresi logistik biasa yang hanya mencapai 71,05%.

Perbedaan ini mengandung pesan penting: kebijakan lingkungan tidak dapat lagi dibuat menggunakan pendekatan satu solusi untuk semua wilayah. Karakteristik lokal perlu dipertimbangkan agar intervensi yang dilakukan benar-benar efektif.

Kualitas udara bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan cerminan interaksi antara manusia, aktivitas ekonomi, dan tata ruang wilayah. Penelitian ini menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki pola permasalahan yang berbeda sehingga membutuhkan strategi penanganan yang spesifik. Pendekatan statistika spasial seperti GWLR dapat membantu pemerintah memahami kondisi lokal secara lebih tepat. Dengan kebijakan berbasis data dan karakteristik wilayah, upaya menciptakan udara yang lebih sehat bukan lagi sekadar harapan, tetapi langkah yang dapat diwujudkan secara terukur.

Berdasarkan temuan tersebut, pengendalian jumlah kendaraan, pengembangan transportasi ramah lingkungan, serta pengelolaan kawasan wisata yang berkelanjutan dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas udara Jawa Timur di masa depan.

Ditulis oleh: Toha Saifudin

Artikel sumber (Scopus):

Saifudin, T., Koesnadi, G.L., Sa鈥檌dah, A., Widyawati, A.Z., Nuzhuliah, A., and Firdadhila, S.R. Geographically Weighted Logistic Regression Analysis on Achieving Air Quality Index Performance Targets in East Java, AIP Conf. Proc. 3326, 090012, March 04 2026.

DOI:

AKSES CEPAT