UNAIR NEWS 鈥 Pusat Pengelolaan Pengabdian Masyarakat dan Publikasi (P3MB) 东京热 (UNAIR) sukses membuka rangkaian Research Week pertama di bulan Mei pada Jumat (8/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang 202 Gedung A FISIP, Kampus Dharmawangsa-B ini mengangkat tajuk Research Across Borders: Perspektif Sosial, Budaya, dan Riset Indonesia-Taiwan.聽 Claudia Anridho SAnt MSosio PhD dosen UNAIR membagikan temuan menarik dari riset etnografinya mengenai dinamika mahasiswa Muslim di sebuah insitusi pendidikan Katolik di Surabaya.
Fenomena Muslim di Institusi Katolik dan Inspirasi Penelitian
Dalam paparannya, Dr Claudia mengungkapkan bahwa universitas yang menjadi objek penelitiannya memiliki komposisi unik. Mayoritas beragama Katolik, diikuti oleh Islam, dan kemudian Kristen. Menariknya, kekhasan komposisi identitas ini senantiasa terjaga dengan baik dalam narasi institusi. Seiring dengan jumlah mahasiswa Muslim yang juga terus bertumbuh pesat.
“Kehadiran mahasiswa Muslim di sana bukan sekadar angka. Institusi ini menjaga identitas Katoliknya melalui keberadaan Pastor Kampus, perayaan Patron Day, hingga doa harian di kelas. Namun, di saat yang sama, mereka membuka ruang seluas-luasnya bagi keberagaman,” ujar Claudia.
Lebih lanjut, Claudia mengaku terinspirasi dari riset mengenai Kristen Muhammadiyah (KrisMuha). KrisMuha berawal dari disertasi Prof Abdul Mu鈥檛i MEd dan terbit di Kompas Gramedia bersama Dr Fajar Riza Ulhaq SHI MA. Claudia ingin melihat fenomena terbalik. Jika riset KrisMuha memotret kelompok mayoritas Kristen di lingkungan Islam, Claudia meneliti mayoritas Muslim di institusi Katolik untuk melihat apakah kohabitasinya sama atau tidak.
“Hasilnya menunjukkan adanya koeksistensi yang kuat. Rektor memberikan izin bagi mahasiswa Muslim untuk sholat dan berpuasa. Bahkan, universitas mengadakan acara buka puasa bersama (bukber) lintas agama yang melibatkan tokoh agama Islam, Buddha, dan Hindu, serta diliput oleh media lokal guna memberitakan inklusivitas dan moderasi beragama,” tambahnya.
Tantangan Kontemplasi dan Kolaborasi di Pendidikan Tinggi
Claudia menjelaskan bahwa kemampuan mahasiswa Muslim untuk beradaptasi di lingkungan Katolik tersebut sangat dipengaruhi oleh Habitus. Mayoritas informan risetnya berasal dari latar belakang keluarga multi-religion atau telah menempuh pendidikan di sekolah berbasis agama lain pada jenjang K-12 (SD-SMA). Namun, riset ini tidak hanya memotret harmoni. Claudia juga menemukan tantangan kontemplasi mahasiswa Muslim.
鈥淭antangannya beragam seperti adanya internalisasi laten ajaran Katolik melalui mata kuliah agama, paparan terhadap simbol-simbol Katolik yang memicu refleksi atas keimanan, keharusan melepas hijab bagi mahasiswi keperawatan saat magang karena aturan institusi mitra, hingga potensi perpindahan agama (conversion) yang dipicu oleh lingkaran pertemanan atau hubungan asmara lintas agama,鈥 ungkapnya.
Meskipun terdapat tantangan, Claudia menyimpulkan bahwa hubungan antaragama di pendidikan tinggi tersebut membentuk sebuah simbiosis mutualisme. Pihak universitas mendapatkan citra sebagai institusi modern dan inklusif. Sementara mahasiswa Muslim mendapatkan ruang untuk berkembang secara akademik tanpa kehilangan hak menjalankan ibadahnya, meski dengan penyesuaian tertentu.
“Di sana, toleransi bukan sekadar kata-kata, tapi termanifestasi dalam praktik sehari-hari. Mulai dari dosen yang mengizinkan mahasiswa izin sholat di tengah kelas, hingga teman sebaya non-Muslim yang setia menunggu temannya selesai sholat,” pungkasnya.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.
Editor: Yulia Rohmawati





