东京热

东京热 Official Website

Deteksi Escherichia coli Penghasil ESBL pada Anjing yang Diangkut Melalui Karantina Bandara Internasional Juanda, Jawa Timur, Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Resistensi antibiotik menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan global, yang memengaruhi sektor kesehatan manusia dan hewan. Kejadian resistensi antibiotik pada hewan peliharaan kurang mendapat perhatian dibandingkan pada hewan ternak. Namun, kontak dekat antara manusia dan hewan dapat menjadi jalur penularan zoonosis bakteri resisten antara manusia dan hewan. Resistensi antibiotik pada hewan peliharaan telah terdeteksi pada hewan sehat dan hewan yang sakit. Sebuah studi yang dilakukan di Brasil melaporkan dua isolat positif ESBL, satu diperoleh dari anjing sehat dan yang lainnya dari anjing dengan piometra. Temuan ini menunjukkan bahwa hewan sehat dan hewan yang sakit memiliki kemungkinan yang sama untuk terinfeksi bakteri penghasil ESBL.

Salah satu mekanisme resistensi antibiotik adalah produksi enzim beta-laktamase spektrum luas (ESBL) oleh bakteri Gram-negatif, khususnya anggota keluarga Enterobacteriaceae, seperti Escherichia coli. Escherichia coli adalah bakteri Gram-negatif yang termasuk dalam keluarga Enterobacteriaceae dan merupakan bagian alami dari mikrobiota usus manusia dan hewan peliharaan. Sebagai patogen oportunistik, E. coli dapat ditularkan antara manusia dan hewan, khususnya antara pemilik hewan peliharaan dan hewan peliharaan mereka. Sebuah studi yang dilakukan di Belanda yang melibatkan sampel dari anjing, pemilik anjing, dan kucing mengidentifikasi lima rumah tangga yang membawa gen ESBL yang identik. Penularan dapat terjadi melalui interaksi langsung antara manusia atau hewan yang bertindak sebagai pembawa gen, konsumsi makanan yang terkontaminasi, atau kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi. Bakteri penghasil ESBL dapat menularkan gen ESBL baik di dalam maupun antar spesies bakteri.

Hasil studi yang dilakukan di Surabaya yang melibatkan 85 anjing dari lima klinik hewan menunjukkan bahwa 9,4% (8/85) anjing positif ESBL. Studi ini dilakukan berdasarkan temuan tersebut, dengan tujuan untuk mendeteksi Escherichia coli penghasil ESBL pada anjing yang diangkut melalui Bandara Internasional Juanda, Jawa Timur. Mengingat urgensi resistensi antibiotik pada hewan peliharaan dan kontak dekat antara anjing dan pemiliknya, penelitian ini diperlukan untuk meningkatkan kesadaran di kalangan pemilik hewan peliharaan mengenai resistensi antibiotik dan kemunculan ESBL.

Tingkat prevalensi yang tinggi telah dilaporkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Thailand, di mana 10 dari 34 anjing (29,41%) dengan penyakit periodontal dinyatakan positif ESBL. Prevalensi E. coli penghasil ESBL yang jauh lebih tinggi diamati dalam sebuah penelitian yang dilakukan di India yang melibatkan 70 anjing peliharaan. Sampel dibagi menjadi dua kategori: anjing sehat dan anjing dengan diare. Prevalensi isolat positif ESBL lebih tinggi pada anjing diare, dengan 20% (14/70) pada anjing sehat dan 34,2% (24/70) pada anjing diare. Prevalensi yang lebih rendah dilaporkan di Tiongkok, di mana 80 sampel anjing dengan penyakit saluran kemih hanya menunjukkan 3,75% (3/80) isolat positif ESBL.

Insiden E. coli penghasil ESBL tidak terbatas pada hewan peliharaan tetapi juga ditemukan pada ternak, seperti di industri unggas, serta pada manusia dan lingkungan. Sebuah studi yang dilakukan di peternakan ayam broiler di Bogor melaporkan bahwa 25% (4/16) isolat adalah E. coli penghasil ESBL. ESBL-positif E. coli juga terdeteksi dalam sampel feses manusia dari wanita hamil sehat, dengan prevalensi 22% (66/296). Lebih lanjut, lingkungan peternakan berfungsi sebagai reservoir penyebaran ESBL. Sebuah studi pada sampel air limbah dari peternakan sapi perah mengungkapkan prevalensi ESBL-producing E. coli sebesar 32,91% (78/237).

Escherichia coli adalah bakteri Gram-negatif, berbentuk batang, yang diklasifikasikan sebagai mikroorganisme enterik. Bakteri ini umumnya ditemukan di saluran pencernaan manusia dan hewan, termasuk anjing. Meskipun sebagian besar strain E. coli tidak berbahaya, strain patogen dapat menyebabkan penyakit, seperti infeksi saluran kemih, anemia, infeksi saluran pernapasan, dan ginjal. E. coli dapat menghasilkan beta-laktamase spektrum luas (ESBL), yang dapat menyebar baik pada manusia maupun hewan, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang potensi peran hewan sebagai reservoir untuk bakteri resisten antimikroba (AMR) yang dapat ditularkan ke manusia. Kejadian E. coli yang besifat AMR pada anjing dapat dipengaruhi oleh terapi antibiotik, penyakit yang mendasarinya, rawat inap, dan konsumsi makanan mentah.

Beta-laktamase spektrum luas (ESBL) adalah enzim yang diproduksi oleh bakteri tertentu yang dapat menghidrolisis sefalosporin spektrum luas. Enzim ini dapat dihambat oleh asam klavulanat dan tazobaktam. Selain Escherichia coli, ESBL juga telah terdeteksi pada Pseudomonas aeruginosa, Enterobacteriaceae lainnya, dan bakteri Gram-negatif lainnya. Transfer gen horizontal berfungsi sebagai mekanisme utama penyebaran gen resistensi di antara bakteri melalui transformasi, transduksi, dan konjugasi. Akibatnya, E. coli penghasil ESBL dapat dengan mudah menyebar di antara manusia dan hewan, antar manusia, antar hewan, dan bahkan antara manusia, hewan, dan lingkungan. Penularan bakteri antara manusia dan hewan dapat terjadi melalui kontak langsung, seperti paparan cairan tubuh melalui bersin atau batuk, serta melalui menggaruk, menjilat, atau memegang hewan.

Penularan tidak langsung juga dapat terjadi melalui kontaminasi air atau makanan, atau melalui gigitan vektor arthropoda. Hubungan dekat antara hewan peliharaan鈥攖erutama anjing鈥攄an pemiliknya dapat menjadi jalur penyebaran bakteri resisten antibiotik. Deteksi bakteri resisten antibiotik pada anjing peliharaan dalam penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pemilik hewan peliharaan mengenai penggunaan antibiotik yang bijaksana, praktik pemberian makan, dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Hasil isolasi dan identifikasi menunjukkan adanya Escherichia coli pada 75,22% (85/113) sampel. Pengujian Extended-spectrum 尾-lactamase (ESBL) menunjukkan bahwa 3,5% (4/113) secara fenotipik terkonfirmasi positif ESBL menggunakan tes sinergi cakram ganda (DDST). Meskipun prevalensinya relatif rendah, hal ini harus diwaspadai.

Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Benny Aprisa Surya Perdana, Mustofa Helmi Effendi*, Wiwiek Tyasningsih, Wiwik Misaco Yuniarti, Boedi Setiawan, Dadik Rahardjo. 2026. Detection of ESBL-Producing Escherichia coli in Dogs Transported Through Juanda International Airport Quarantine, East Java, Indonesia. MEDIA KEDOKTERAN HEWAN VOL 37(2): 194-203

AKSES CEPAT