东京热

东京热 Official Website

鈥淐yberbullying鈥 Kenali, Waspadai, dan Tangani

cyberbullying
Dr. M.G. Bagus Ani Putra S.Psi., Psikolog., saat memaparkan materi Stop Cyberbullying dihadapan puluhan peserta seminar di Aula Fakultas Psikologi 东京热. (Foto: Nuri Hermawan)

UNAIR NEWS 鈥 Di era keterbukaan seperti saat ini, bentuk bullying tidak hanya dalam bentuk tatap muka, dunia siber pun menjadi media baru untuk melakukan bullying kepada seseorang. Untuk itu, Fakultas Psikologi, 东京热 melalui Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP) menggelar seminar 鈥淪top Cyberbullying鈥 di Aula Fakultas Psikologi pada Minggu (9/12).

Seminar yang juga diprakarsai oleh Bullying Crisis Center PTPP Fakultas Psikologi UNAIR itu mengusung tema 鈥淜enali Tandanya, Cegah Bahayanya, Tangani Bersama鈥. Hadir sebagai pemateri dalam acara tersebut Dr. M.G. Bagus Ani Putra S.Psi., Psikolog. Sebelum memberikan paparan mengenai cyberbullying, dosen yang akrab disapa Bagus itu terlebih dahulu memutar video mengenai korban cyberbullying. Usai itu, Bagus menegaskan bahwa cyberbullying merupakan bentuk tindakan agresi yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang.

鈥淚ni yang perlu saya tegaskan bahwa cyberbullying itu dilakukan berulang-ulang, kalau hanya masih sekali belum bisa dikatakan sebagai cyberbullying,鈥 tandasnya.

Selanjutnya, dosen Psikologi Komunikasi Sosial itu memaparkan berbagai bahaya dan bentuk-bentuk cyberbullying. Kasus pembunuhan ataupun bunuh diri menjadi salah satu bahaya dari adanya cyberbullying. Perihal bentuk-bentuk cyberbullying, pesan yang buruk dan kejam, mengumbar rahasia, serta ancaman-ancaman menjadi bentuk cyberbullying yang kerap dilakukan. Usai memaparkan bahaya dan bentuk cyberbullying, Bagus juga menegaskan bahwa dalam kasus cyberbullying, semua orang bisa terlibat.

鈥淒alam hal ini, kita semua ini terlibat. Baik sebagai pelaku, korban, atau sekadar pemerhati,鈥 imbuhnya.

Mengenai keterlibatan setiap orang dalam cyberbullying, Bagus menjelaskan bahwa psikologi pelaku, korban, dan pemerhati tidak sama. Bagi pelaku, rasa puas dan tidak puas terhadap tindakan yang dilakukan menjadi puncak tujuannya. Sedangkan bagi korban, depresi dan agresi menjadi puncak dari gejala psikis yang dirasakan.

鈥淏agi pemerhati, dibagi menjadi dua, ada yang peduli dan ada yang tidak peduli. Bagi yang peduli, rasa empati, upaya pencegahan, dan pengutan terhadap korban ini yang harus dilakukan,鈥 jelasnya.

Seminar yang diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian Crisis Center PTPP Fakultas Psikologi UNAIR itu, dihadiri ole berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, guru, hingga pemerhati pendidikan dari berbagai instansi. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor : Binti Q. Masruroh

AKSES CEPAT