东京热

东京热 Official Website

Bangkit dari Erupsi Semeru: Kisah Warga Lumajang Membangun Kembali Kehidupan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Erupsi Gunung Semeru pada akhir tahun 2021 menjadi salah satu bencana yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fisik, bencana ini juga menghancurkan sumber penghidupan ribuan warga yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup dari pertanian, peternakan, dan pertambangan pasir. Data menunjukkan bahwa erupsi tersebut menyebabkan 61 orang meninggal dunia dan memaksa 4.423 warga mengungsi. Selain itu, lebih dari 1.100 rumah, puluhan tempat ibadah, sekolah, fasilitas kesehatan, jembatan, dan jalan mengalami kerusakan. Nilai kerugian yang ditimbulkan bahkan mencapai lebih dari Rp1,5 triliun.

Namun, di balik besarnya kerusakan tersebut, terdapat kisah tentang ketangguhan masyarakat yang berusaha bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka.

Kehilangan Mata Pencaharian

Pasca-erupsi, pemerintah menetapkan beberapa wilayah terdampak sebagai zona merah yang tidak lagi aman untuk dihuni. Warga dari Desa Supiturang dan Desa Sumberwuluh kemudian direlokasi ke kawasan hunian baru bernama Bumi Semeru Damai (BSD) di Desa Sumbermujur.

Relokasi ini memang memberikan tempat tinggal yang lebih aman, tetapi menghadirkan tantangan baru. Banyak warga kehilangan pekerjaan karena tidak lagi memiliki akses terhadap lahan pertanian, peternakan, maupun lokasi penambangan pasir yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan utama mereka. Bagi masyarakat yang terbiasa bekerja sebagai petani atau penambang, memulai kehidupan baru di lingkungan yang berbeda tentu bukan perkara mudah. Mereka membutuhkan pendampingan, keterampilan baru, dan akses terhadap sumber ekonomi yang dapat menopang kehidupan keluarga.

Membangun Harapan Melalui Program Pemulihan Ekonomi

Melihat kondisi tersebut, tim dari 东京热 bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya mengembangkan program pemulihan ekonomi berbasis masyarakat. Program ini tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menekankan pemberdayaan masyarakat agar mampu mandiri dalam jangka panjang. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengadakan diskusi bersama pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan serta potensi ekonomi yang dapat dikembangkan di lokasi relokasi.

Selanjutnya dilakukan sosialisasi, survei lokasi, serta penjaringan aspirasi warga agar program yang dirancang benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan.

Membentuk Kelompok Peternak yang Mandiri

Hasil analisis menunjukkan bahwa sektor peternakan memiliki peluang besar untuk dikembangkan di kawasan BSD. Oleh karena itu, program pemulihan ekonomi difokuskan pada pembentukan kelompok peternak.Pada tahun 2023, dua kelompok peternakan resmi dibentuk, masing-masing beranggotakan 10 orang. Kelompok tersebut diberi nama Kelompok Ternak Jaya dan Kelompok Ternak Unggul. Pembentukan kelompok ini mendapat pengesahan resmi dari pemerintah desa sehingga memiliki legalitas yang jelas.

Keberadaan kelompok ini bukan sekadar wadah berkumpul. Kelompok peternak menjadi sarana belajar bersama, berbagi pengalaman, memperkuat kerja sama, dan meningkatkan produktivitas usaha peternakan. Melalui kelompok tersebut, para anggota dapat saling membantu dalam mengelola ternak, memecahkan masalah, serta mengembangkan usaha secara kolektif.

Program pendampingan yang berlangsung selama enam bulan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dua kelompok peternak yang terbentuk mampu menjalankan kegiatan peternakan secara aktif dan terorganisasi. Mereka tidak hanya meningkatkan kemampuan dalam mengelola ternak, tetapi juga mulai memahami cara memasarkan hasil peternakan mereka.

Lebih dari itu, kelompok-kelompok tersebut berkembang menjadi pusat peternakan unggulan di kawasan relokasi dengan spesialisasi pada ternak kambing. Ketersediaan pakan yang memadai dan sesuai kebutuhan nutrisi menjadi salah satu faktor penting yang mendukung keberlanjutan usaha mereka. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun rumah atau infrastruktur. Yang tidak kalah penting adalah membantu masyarakat mendapatkan kembali kemampuan untuk mencari nafkah dan membangun masa depan yang lebih baik.

Penulis: Hariyono Dosen Sekolah Pascasarjana UNAIR

AKSES CEPAT