Gagal jantung merupakan kondisi medis serius yang mengintai sekitar 2% populasi umum, namun risikonya melonjak tajam seiring bertambahnya usia, terutama pada lansia lanjut. Pada kelompok lansia berusia 80 tahun ke atas, prevalensi penyakit ini bahkan mencapai 11% pada pria dan 14% pada wanita. Di satu sisi, kemajuan medis berhasil meningkatkan harapan hidup mereka, namun di sisi lain, para lansia ini harus menghadapi tantangan baru: kewajiban mengonsumsi lima atau lebih jenis obat sekaligus (polifarmasi), namun di sisi lain, tubuh lansia yang kian rapuh sangat rentan terhadap efek samping. Ketika berbagai zat kimia tersebut bercampur, risiko interaksi obat yang berbahaya melonjak hingga 30%, yang bisa memicu salah minum, keracunan, hingga rawat inap berulang kali.
Menghadapi banyaknya obat yang harus dikonsumsi oleh pasien, tenaga medis sebenarnya memiliki panduan klinis ketat seperti kriteria evaluasi dengan metode Screening Tool of Older Persons’ Prescriptions dan Sreening Tool to Alert to Right Treatment (STOPP/START) dan metode manajemen terpadu Integrated Medicine Management (IMM). Namun, menerapkan panduan manual ini di tengah padatnya jadwal pelayanan tentu bukan perkara mudah. Sebagai solusi modern, lahirlah aplikasi MINE (Medicine IN gEriatric), sebuah inovasi digital yang merangkum seluruh sistem evaluasi rumit tersebut ke dalam satu perangkat lunak. Hadir sebagai “asisten cerdas” bagi dokter, aplikasi ini siap mempermudah deteksi resep yang tidak sesuai demi menjamin pengobatan gagal jantung yang lebih aman dan akurat bagi para lansia.
Evaluasi model IMM pada pasien Gagal Jantung Kongestif Geriatri dan mensosialisasikan IMM dengan aplikasi MINE dilakukan untuk menguji keampuhan aplikasi MINE, dengan dilaksanakannya sebuah penelitian di ruang rawat inap penyakit dalam RSUD Abdoel Wahab Sjahranie, Samarinda, dari April 2022 hingga Juni 2023. Penelitian ini melibatkan 176 pasien lansia (60–79 tahun) penderita gagal jantung kronis yang dibagi rata ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama (intervensi) mendapatkan pengawalan ketat dari kolaborasi dokter, perawat, dan apoteker klinis yang dibekali dengan penggunaan aplikasi MINE. Sementara kelompok kedua (kontrol) hanya menerima perawatan konvensional standar rumah sakit tanpa intervensi khusus dari aplikasi MINE maupun apoteker klinis.
Pada kelompok intervensi, para tenaga medis profesional (yang sudah tersertifikasi pelatihan khusus) menggunakan aplikasi MINE, aplikasi ini mendigitalisasi tiga fase krusial pengobatan secara real-time: (1) Penyelarasan obat saat masuk, yaitu menyelaraskan kembali semua riwayat obat yang pernah diminum pasien di rumah agar tidak tertukar atau dobel; (2) Evaluasi resep harian selama dirawat, yaitu mengevaluasi resep secara real-time setiap ada perubahan kondisi klinis atau hasil laboratorium pasien dan (3) Pemberiaan edukasi terstruktur saat pasien akan pulang. Seluruh proses ini dipantau langsung lewat sistem digital aplikasi MINE, sehingga dokter, perawat, dan apoteker bisa saling berkolaborasi tanpa sekat. Sementara itu, kelompok kontrol tetap dipantau saat pulang, namun hanya dibekali video edukasi dan daftar obat standar.
Penelitian ini tidak hanya melihat seberapa akurat resep yang diberikan dokter, tetapi juga memantau dampak langsungnya pada kehidupan pasien. Menggunakan kuesioner standar internasional (EQ-5D-5L), tim peneliti mengukur kualitas hidup lansia dari lima sudut pandang: kemampuan bergerak, perawatan diri, aktivitas harian, rasa nyeri/tidak nyaman, hingga tingkat kecemasan mereka. para lansia ini dipantau secara berkala selama tiga bulan setelah keluar dari rumah sakit untuk mencatat apakah mereka harus kembali menjalani rawat inap ulang atau tidak. Semua data yang terkumpul kemudian dilakukan cleaning data secara manual dan dianalisis menggunakan uji statistik untuk membuktikan keakuratan performa aplikasi MINE.
Setelah dilakukan penelitian terhadap 176 pasien lansia penderita gagal jantung kronis di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda, hasil penelitian ini membawa kabar yang sangat menggembirakan. Sebelum sistem digital ini diterapkan, kedua kelompok pasien (baik kelompok intervensi maupun kelompok kontrol) memiliki kondisi awal yang serupa, yakni didominasi pria berusia 60–69 tahun dengan lebih dari tiga penyakit penyerta dan wajib mengonsumsi 5 hingga 10 jenis obat setiap hari (polifarmasi). Namun, setelah aplikasi MINE digunakan, efektivitas kolaborasi antara dokter, perawat, dan apoteker klinis melonjak drastis dalam memangkas risiko tumpukan resep obat yang rumit bagi tubuh rapuh para lansia tersebut.
Pencapaian terbesar dari aplikasi MINE adalah kemampuannya menyaring kesalahan resep obat-obatan krusial pada pasien penderita gagal jantung secara real-time. Berdasarkan kriteria klinis (STOPP/START), kelalaian resep obat penting seperti statin (obat penurun kolesterol) berhasil ditekan dari 10% menjadi hanya 1,25% saat pasien pulang. Sebaliknya, obat berisiko yang berpotensi memicu efek samping fatal juga berhasil direkonsiliasi, seperti penggunaan beta-blocker pada lansia dengan denyut jantung terlalu lemah berhasil diturunkan dari 18,75% menjadi 10%, serta penggunaan aspirin tanpa pelindung lambung pada pasien maag kronis berhasil dipangkas hingga tersisa 2,5% saja. Aplikasi MINE bertindak sebagai “sistem pemantau cerdas” yang jeli di setiap fase perawatan untuk mecegah terjadinya kesalahan medis (medication error).
Keberhasilan inovasi digital ini dirasakan langsung pada hasil kualitas hidup para lansia yang melonjak signifikan, di mana mereka melaporkan penurunan rasa nyeri serta berkurangnya rasa cemas secara drastis karena tubuh terbebas dari efek samping obat yang melelahkan. Keberhasilan ini berlanjut hingga ke rumah, di mana angka pasien yang harus kembali masuk rumah sakit (rehospitalization) dalam kurun waktu 3 bulan setelah pulang berkurang secara signifikan. Meskipun penelitian ini baru berupa uji coba satu pusat, kesuksesan aplikasi MINE dalam mendukung gerakan global WHO: Medication Without Harm memberi harapan besar agar sistem berbasis awan (cloud-based) ini dapat diadopsi secara luas di berbagai rumah sakit Indonesia demi masa depan kesehatan lansia yang lebih aman.
Penulis: Welinda Dyah Ayu, Umi Athiyah, Carta Agrawanto Gunawan, Elida Zairina
Artikel Lengkap: Ayu, W. D., Athiyah, U., Gunawan, C. A., & Zairina, E. (2026). Integrated drug management for older adults with congestive heart failure: Enhancing medication accuracy using the MINE (Medicine IN gEriatric) application. Journal of Geriatric Cardiology, 23(5), 296–308.





