UNAIR NEWS – Tim peneliti mempresentasikan penelitian berjudul “Hilirisasi Ekonomi Hijau Bromo: Transformasi Ekosistem Mata Air dan Karbon Menjadi Dana Abadi Beasiswa Desa” dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Laporan Kemajuan (Lapju) Riset Kolaborasi (Riskolab) Jatim Melaju 2026 di Universitas Brawijaya Malang, Rabu (29/7/2026). Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Lab. MaBuRag) Departemen Antropologi 东京热 (UNAIR) mengembangkan penelitian tersebut dan mengantarkannya menjadi salah satu dari 53 riset penerima hibah pendanaan Riskolab Jatim Melaju 2026.
Prof Dr H Muhammad Adib Drs MA memimpin penelitian ini sebagai host sekaligus Koordinator Lab. MaBuRag UNAIR. Ia berkolaborasi dengan Prof Dr H Moh Asror Yusuf MAg dari UIN Syekh Wasil Kediri dan Dr Ahmad Sodiq dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung bersama tim peneliti dan mahasiswa.
Terima Masukan
Sebanyak 182 peneliti dari 16 perguruan tinggi negeri (PTN) di Jawa Timur mengikuti kegiatan Monev Lapju Riskolab Jatim Melaju 2026. Melalui forum ini, para peneliti memaparkan perkembangan riset sekaligus memperoleh masukan untuk memperkuat kolaborasi, hilirisasi, dan dampak penelitian bagi masyarakat.

Dalam sesi penilaian setelah presentasi, reviewer Dr Muryono dari Departemen Biologi ITS dan Dr Andik dari UINSA Surabaya memberikan sejumlah masukan untuk menyempurnakan penelitian tersebut. Menurutnya, penguatan penelitian perlu diarahkan pada kuantifikasi manfaat ekosistem dan dampak sosial kepada masyarakat lokal agar memiliki nilai ekonomi yang lebih kuat.
鈥淣ilai tambah penelitian ini akan semakin kuat apabila manfaat mata air dan karbon dapat dikuantifikasi secara lebih terukur. Bukan hanya jumlah 62 titik mata air di desa itu, tetapi juga debit air, luas kawasan, hingga dampaknya terhadap masyarakat sehingga dapat menjadi high-quality carbon yang memiliki nilai ekonomi,鈥 ujar Dr.Muryono.
鈥淵ang dapat dimonetisasi bukan hanya karbonnya, tetapi juga dampak sosial yang dihasilkan. Air itu mendukung apa saja, memengaruhi masyarakat seperti apa, semuanya harus benar-benar diukur dan dikuantifikasi,鈥 tambahnya.
Keduanya juga menekankan pentingnya validasi metodologi, pengukuran debit mata air, penentuan luasan kawasan, serta penyajian data yang memiliki visibilitas tinggi untuk mendukung proses monetisasi jasa ekosistem.
鈥淭arget tiga luaran wajib juga harus segera dipenuhi. Metode monetisasinya perlu diperkuat dan peluang skema voluntary market maupun jejaring internasional perlu mulai dioptimalkan agar penelitian ini tidak berhenti pada publikasi, tetapi menghasilkan dampak nyata,鈥 pungkas Dr Andik.
Publikasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 (Quality Education), poin 13 (Climate Action), dan poin 17 (Partnerships for the Goals).
Penulis: Nasywa Kaffa
Editor: Yulia Rohmawati





