UNAIR NEWS – Program Studi Magister Kajian Sastra dan Budaya (MKSB) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 东京热 (UNAIR) berkolaborasi dengan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Surabaya menggelar Seminar Nasional Kajian Sastra dan Budaya di Era Transformasi Global. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (15/7/2026) di Gedung ASEEC, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.
Dalam sambutannya, Dekan FIB UNAIR, Syahrur Marta Dwi Susilo SS MA PhD, bersama Koordinator Program Studi MKSB FIB UNAIR, Prof Dr Dra Nur Wulan, menyatakan pentingnya forum akademik sebagai ruang diskusi ilmiah bagi pengembangan kajian sastra dan budaya di era transformasi global. Kegiatan tersebut menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai perkembangan kajian sastra dan budaya di tengah transformasi global.
鈥淪emoga kegiatan ini mampu menghasilkan forum pertukaran pemikiran kritis. Sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian sastra dan budaya di era transformasi global,鈥 ungkap Syahrur.
Fashion sebagai Medium Identitas dan Politik
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Prof Aquarini Priyatna memaparkan materi pertama bertajuk Fashion, Gender, dan Artikulasi Politik. Ia menjelaskan bahwa busana tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika. Tetapi juga menjadi medium untuk membangun identitas serta menyampaikan pesan politik.
Ia mencontohkan gaya berpakaian petenis dunia yakni Naomi Osaka dan Serena Williams. Gaya berpakaian tersebut merupakan representasi bahwa ekspresi feminim bukan batasan untuk berprestasi. Di sisi lain, masker yang Naomi kenakan dengan nama-nama korban ketidakadilan rasial menjadi simbol solidaritas terhadap gerakan Black Lives Matter. Fenomena ini dapat dibaca melalui teori performativitas Judith Butler dan semiotika fashion Roland Barthes, yang memandang busana sebagai medium ekspresi identitas sekaligus sistem tanda yang merepresentasikan makna sosial dan ideologis.
Beragam Perspektif Humaniora terhadap Perubahan Zaman
Dr Oki Rahardianto Sutopo, Universitas Gadjah Mada, memaparkan bahwa posisi kaum muda saat ini menghadapi berbagai risiko sekaligus tuntutan untuk terus meningkatkan kompetensi di tengah sistem neoliberalisme. Kondisi tersebut sejalan dengan teori Ulrich Beck yang mengemukakan bahwa individu semakin menghadapi ketidakpastian dalam menentukan pilihan hidup di tengah perubahan struktur sosial.
Hal serupa turut disampaikan oleh Wahyu Widodo dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya yang mempresentasikan penelitian berjudul A Man of His Time and the Art of Affinity: Preliminary Study on Two Javanese Travelogues in the High Colonial Period of Java. Prosa perjalanan Jawa, lanjutnya, tidak hanya merekam pengalaman perjalanan penulis, tetapi juga merepresentasikan perjumpaan sosial dan budaya pada masa kolonial.
鈥淢elalui konsep contact zone yang diperkenalkan Mary Louise Pratt, karya prosa menangkap dokumentasi negosiasi identitas, pengetahuan, dan kekuasaan kolonial,鈥 ujarnya.
Transformasi Sastra Menuju Naratif Grafis
Dr Titien Diah Soelistyarini, Dosen FIB UNAIR, mengungkapkan bahwa proses produksi, penyebaran, dan apresiasi karya sastra telah berubah seiring perkembangan teknologi dan media. Sastra berkembang menjadi naratif grafis yang memadukan tulisan, ilustrasi, tipografi, warna, hingga tata letak visual. Selaras dengan teori multimodalitas Gunther Kress dan Theo van Leeuwen, makna dalam komunikasi modern dibangun melalui perpaduan berbagai unsur semiotik bukan hanya bahasa.
鈥淭ransformasi tersebut menjadi strategi efektif guna meningkatkan minat baca generasi muda sekaligus mendukung penguatan literasi sastra di lingkungan pendidikan,鈥 ucapnya.
Melalui seminar nasional tersebut, UNAIR berkolaborasi dengan HISKI Komisariat Surabaya, HISKI Komisariat Malang, dan HISKI Komisariat Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berharap agar kajian sastra dan budaya tetap memiliki posisi strategis dalam memahami berbagai isu global.
Penulis: Amelia Farah Putri I.
Editor: Yulia Rohmawati





