UNAIR NEWS – Teknologi menjadi salah satu faktor kunci dalam mewujudkan transisi energi yang berkeadilan di Indonesia. Melalui pemanfaatan inovasi di berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, industri, hingga pengelolaan lingkungan, transformasi menuju target Net Zero Emission 2060 dan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 dapat berjalan tanpa mengenyampingkan kesejahteraan masyarakat maupun dunia kerja.
Gagasan tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) 东京热, Tahta Amrillah PhD, dalam Workshop THE FUTURE OF JUST ENERGY TRANSITION IN INDONESIA: ENSURING NO WORKER IS LEFT BEHIND. Workshop hasil kolaborasi International Labour Organization (ILO) Indonesia dan (UNAIR) itu berlangsung di Hall Lantai 1 Gedung Rektorat Kampus MERR-C UNAIR pada Selasa (14/7/2026).
Dukung Capaian Net Zero Emission Melalui Teknologi
Dalam pemaparannya, Tahta menjelaskan bahwa pembahasan mengenai transisi energi tidak dapat dilepaskan dari agenda Sustainable Development Goals (SDG) 2030. Menurutnya, ketujuh belas tujuan SDGs saling terhubung dalam mendorong pembangunan yang mampu menyeimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan.
“SDGs bukan hanya berbicara mengenai lingkungan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat, pertumbuhan ekonomi, serta kolaborasi berbagai pihak dalam mencapai pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam mendukung pencapaian target global tersebut. Dengan kekayaan sumber daya alam dan kawasan hutan tropis yang luas, Indonesia berperan penting dalam menyerap emisi karbon. Namun, potensi tersebut perlu didukung oleh pemanfaatan teknologi agar pembangunan tetap berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.
Inovasi Teknologi Percepat Transisi Energi Berkeadilan
Lebih lanjut, Tahta memaparkan berbagai inovasi teknologi yang dapat mendukung percepatan transisi energi. Di antaranya, pemanfaatan energi surya, angin, hidrogen, biomassa, dan panas bumi disertai penerapan teknologi pemantauan lingkungan, carbon capture, material ramah lingkungan, hingga pengembangan teknologi pada sektor pertanian, bangunan, manufaktur, dan pertambangan.
Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya berperan dalam menekan emisi karbon, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan energi di berbagai sektor. Oleh karena itu, pengembangan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar mampu beradaptasi terhadap kebutuhan industri hijau di masa mendatang.
Tahta menegaskan bahwa keberhasilan transisi energi tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat diperlukan agar inovasi teknologi mampu memberikan manfaat yang luas sekaligus memastikan proses transisi berlangsung secara inklusif tanpa meninggalkan kelompok pekerja maupun masyarakat.
“Teknologi menjadi instrumen penting dalam mendukung transisi energi yang berkeadilan. Namun, keberhasilannya bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata,” pungkasnya.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Khefti Al Mawalia





