UNAIR NEWS – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Timur menggelar kegiatan Musyawarah Wilayah dan Seminar Nasional. Kegiatan tersebut bertajuk Mengembalikan Peran Intelektual sebagai Penuntun Peradaban yang Inklusif dan Transformatif. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu (4/7/2026) yang berlangsung di Plaza Airlangga, Kampus MERR – C UNAIR.
Seminar nasional itu menghadirkan sejumlah tokoh nasional, termasuk Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) 东京热 (UNAIR), yakni Prof Dr Muhammad Nafik SE MSi. Ia menekankan pentingnya peran intelektual dalam menghasilkan inovasi dan solusi bagi kemajuan bangsa.
Makna Intelektual
Dalam pemaparannya, Prof Nafik menegaskan bahwa intelektual tidak hanya diukur dari tingkat pendidikan, namun bagaimana ilmu tersebut memberikan manfaat bagi orang lain dan masyarakat.
“Intelektual menggunakan akal pikirannya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain sekaligus menyelesaikan masalah. Hasil akhirnya harus nyata, baik berupa teknologi, inovasi, hilirisasi, maupun komersialisasi,” jelasnya
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun, potensi tersebut belum diolah secara optimal sehingga tidak menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.
“Kita memiliki sumber daya yang luar biasa, tetapi belum diolah secara maksimal. Akibatnya, teknologi tidak berkembang, lapangan kerja tidak banyak tercipta, dan manfaat ekonominya justru dinikmati pihak lain,” tuturnya.
Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh pola pikir yang berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Padahal, peran intelektual seharusnya mendorong lahirnya teknologi, inovasi, serta solusi yang berorientasi pada pembangunan jangka panjang.
Bermanfaat bagi Masyarakat
Lebih lanjut, Prof Nafik juga menegaskan bahwa intelektual memiliki tanggung jawab moral sebagai penyeimbang kehidupan berbangsa. Sebab ilmu yang dimiliki tidak seharusnya digunakan membenarkan kepentingan pribadi, melainkan menjadi pengingat.
“Seorang intelektual bertugas merancang masa depan. Ilmu yang dimiliki bukan untuk membenarkan kepentingan pribadi, melainkan untuk membangun peradaban yang lebih beradab. Selain itu, juga sebagai pengingat ketika ada kebijakan yang menyimpang dari kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Prof Nafik mengingatkan bahwa ancaman terbesar seorang intelektual adalah materialisme. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan senantiasa digunakan untuk memberikan solusi dan inovasi bagi masyarakat.
鈥淚ntelektual harus menjadi cahaya bagi masyarakat. Ketika ilmu digunakan untuk memberi manfaat kepada orang lain, saat itulah seorang intelektual menjalankan fungsinya dalam membangun peradaban,鈥 pungkasnya.
Penulis : Maulya Afifah Zahra
Editor : Khefti Al Mawalia





