UNAIR NEWS 鈥� Enam pekan menjadi guru bahasa Inggris di sekolah Thailand mengubah cara Pramesti Dirgantara memandang dunia. Mahasiswa Akuntansi (UNAIR) itu mengikuti program global volunteer Global Classroom di , Bangkok. Pengalaman ini menjadi salah satu bukti nyata bagaimana mahasiswa UNAIR terus memperluas jejak dan jaringan di kancah internasional.
Global Classroom sendiri merupakan program di bawah , dan pelaksanaannya di Thailand dinaungi langsung oleh AIESEC Thailand. Program ini berlangsung pada 20 Juli hingga 31 Agustus 2026 dan mempertemukan Pramesti dengan volunteer dari Pakistan, Vietnam, Maroko, dan negara lain. Setiap volunteer mengajar di sekolah berbeda, sehingga Pramesti bertugas seorang diri di sekolah penempatannya. Ia menilai pengalaman itu layak setiap orang coba sekali seumur hidup.’

(Foto: Dokumentasi pribadi Pramesti Dirgantara)
Berani Tersesat demi Perspektif Baru
Tantangan terbesar Pramesti adalah perjalanan antardaerah. Tidak semua orang Thailand berbahasa Inggris, dan sistem transportasi serta informasi online di sana belum seperti yang biasa ia gunakan. Ia pun sering bertanya kepada orang di pinggir jalan.
“Kita memang harus berani tersesat,” ujarnya. Keberanian itu membuka perspektif baru, baik tentang Thailand maupun tentang dunia dari sudut pandang teman-teman volunteer lintas negara.
Belajar dari Sekolah Thailand
Di ruang kelas, Pramesti melihat sistem pendidikan Thailand berjalan efektif. Koridor pembelajarannya jelas, guru terlihat suka mengajar, dan setiap kelas punya buku, televisi, serta bahan interaktif. Sekolah juga memasak makan siang sendiri tanpa pihak ketiga.
Menurut Pramesti, kemampuan siswa Indonesia justru lebih menonjol. Banyak siswa sekolah dasar (SD) di Tanah Air sudah memahami bahasa Inggris dan lancar berhitung. Ia menyimpulkan bahwa perbedaannya terletak pada sistem, bukan pada potensi anak didiknya, sebuah refleksi yang sekaligus menegaskan kualitas fondasi pendidikan dasar di Indonesia.

Peluang Global Terbuka bagi Mahasiswa UNAIR
Seleksi Global Classroom terasa mudah bagi Pramesti, kecuali wawancara dengan penyelenggara pihak AIESEC Thailand yang sepenuhnya berbahasa Inggris. Ia memperoleh bantuan dana dan dukungan dari universitas, dan kegiatannya dapat dikonversi menjadi SKP serta KKN, membuktikan bahwa UNAIR turut memfasilitasi mahasiswanya untuk aktif berkiprah secara global.
Kuncinya adalah keberanian mencoba. Sebagian volunteer introvert atau belum lancar berbahasa Inggris, tetapi tetap diterima. “Yang penting berani mencoba, karena mereka sangat terbuka terhadap siapa pun yang mau belajar,” katanya.
Pramesti ingin mahasiswa UNAIR membuka diri terhadap pengalaman internasional dan membawa pulang perspektif baru. Saat merangkum pengalamannya, ia menitipkan satu pesan sederhana, “Berani mencoba, terus belajar, dan jangan berhenti memberikan dampak.”
Kisah Pramesti menjadi bukti bahwa mahasiswa UNAIR mampu bersaing dan beradaptasi di lingkungan global, sekaligus membuka jalan bagi jejaring dan kolaborasi internasional yang lebih luas ke depannya.
Penulis: Farelnanda Ramadhani
Editor: Ragil Kukuh Imanto





