Malaria merupakan penyakit yang telah ada sejak lama dan masih menjadi masalah di seluruh dunia. Parasit Plasmodium spp. menyebabkan malaria melalui gigitan nyamuk Anopheles. Meskipun sebagian besar wilayah di Indonesia dikategorikan bebas malaria, masih ada titik-titik penularan tertentu, terutama di kawasan hutan terpencil yang sering disebut sebagai zona malaria hutan. Terlepas dari berbagai upaya pengendalian malaria, malaria hutan tetap menjadi penyakit dengan penularan residual karena transmisi malaria terus berlangsung. Oleh karena itu, penilaian terhadap penularan malaria di wilayah semacam itu, melalui evaluasi respons antibodi inang terhadap antigen Plasmodium spp., menjadi sangat penting. Untuk mengatasi penularan residual, diperlukan intervensi yang terarah yang mungkin sangat berbeda dari strategi yang digunakan di wilayah non-hutan. Pemahaman mendalam mengenai respons imun terhadap antigen Plasmodium spp., seperti MSP-1, sangat penting untuk merancang intervensi yang efektif, khususnya di wilayah hutan.
Penelitian ini mengkarakterisasi profil antibodi IgG anti-MSP-1 pada orang dewasa yang tinggal di kawasan hutan Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, serta mengkaji hubungannya dengan tingkat parasitemia, suhu tubuh, dan perilaku pencegahan infeksi malaria, meliputi kebiasaan keluar rumah pada malam hari, mengenakan pakaian berlengan panjang secara rutin, tidur di bawah kelambu yang telah diberi insektisida, minum obat saat merasa tidak sehat, mematuhi aturan penggunaan obat antimalaria yang diresepkan, serta membersihkan wadah penyimpanan air untuk menghindari terbentuknya tempat perindukan nyamuk.
Merozoite surface protein-1 (MSP-1) adalah protein yang terletak pada permukaan merozoit Plasmodium spp., yaitu stadium parasit yang menginvasi sel darah merah. Oleh karena itu, antibodi terhadap Plasmodium MSP-1 ini dapat menjadi indikator intensitas penularan parasit serta keberadaan kekebalan protektif di wilayah tersebut.
Studi observasional dilakukan untuk menganalisis respons antibodi IgG terhadap antigen Plasmodium MSP-1. Pengumpulan data berlangsung sejak September 2020 hingga Juli 2021. Area penelitian merupakan desa di kawasan hutan dengan Annual Parasite Index (API) lebih dari 5 pada tahun 2018; jumlah penduduk sekitar 385 orang, dengan 68,95% di antaranya berusia produktif. Kriteria inklusi adalah laki-laki dan perempuan berusia 15鈥�60 tahun yang tidak sedang hamil serta merupakan penduduk tetap. Pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana. Partisipan menandatangani persetujuan tertulis (informed consent) sebelum pengambilan sampel darah.
Diagnosis malaria dilakukan secara mikroskopis dengan memeriksa sediaan apus darah tebal dan tipis yang diwarnai dengan pewarnaan Giemsa, sesuai dengan prosedur WHO. Konfirmasi molekuler dilakukan menggunakan real-time polymerase chain reaction (RT-PCR). Persentase parasitemia ditentukan berdasarkan jumlah sel darah merah terinfeksi parasit dalam 1000 sel darah merah pada hapusan darah tipis. Pengukuran kadar antibodi IgG dilakukan menggunakan ELISA kit spesifik untuk Plasmodium MSP-1.
Sebanyak 155 orang berpartisipasi dalam penelitian ini, berusia 16-60 tahun, dengan rerata 32 tahun. Pemeriksaan mikroskopis menemukan parasit malaria pada 19 partisipan (12,25%), sedangkan metode RT-PCR mendeteksi infeksi pada 26 individu (16,77%). Pengukuran suhu tubuh berkisar antara 36,1鈥�37,8 掳C, dengan rerata 36,6 掳C. Konsentrasi antibodi IgG yang spesifik terhadap MSP-1 berkisar antara 562,22鈥�3987,23 pg/mL.
Temuan menunjukkan bahwa 67,74% partisipan memiliki antibodi IgG yang diperoleh secara alami dan spesifik terhadap MSP-1. Kadar IgG berbeda secara signifikan berdasarkan jenis kelamin, riwayat malaria, penggunaan pakaian lengan panjang pada malam hari, penggunaan kelambu, dan penggunaan obat malaria secara teratur. Kadar antibodi sangat berkorelasi dengan suhu tubuh, persentase parasitemia, dan durasi paparan malaria.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, disimpulkan bahwa prevalensi IgG anti-MSP-1 yang tinggi menunjukkan paparan malaria sebelumnya dan kemungkinan merupakan kekebalan parsial. Studi longitudinal diperlukan untuk mengonfirmasi peran protektif antibodi spesifik terhadap MSP-1.
Penulis: Heny Arwati
Naskah lengkap dapat dibaca di:
Mal J Med Health Sci 22(SUPP7): 72-79, May 2026
Doi:10.47836/mjmhs.22.s7.12





