Metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) adalah istilah baru untuk Nonalcoholic fatty liver disease (penyakit perlemakan hati nonalkoholik) yang kini menjadi salah satu penyakit hati kronis paling umum di dunia. Dipicu oleh gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes, penyakit ini berkembang secara perlahan namun progresif, dari penumpukan lemak di hati hingga peradangan, fibrosis, bahkan kanker hati. Ironisnya, meskipun prevalensinya tinggi, pilihan terapi farmakologis yang tersedia masih terbatas. Kondisi ini menuntut pendekatan baru dalam pengembangan terapi. Tidak cukup hanya menargetkan satu mekanisme, karena MASLD merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan gangguan metabolisme, inflamasi, hingga kerusakan sel hati. Oleh karena itu, diperlukan agen terapeutik yang mampu bekerja secara simultan pada berbagai jalur penyakit. Dalam konteks ini, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran 东京热 mengeksplorasi potensi tanaman lokal 鈥淒andang gendis鈥 (Clinacanthus nutans), sebagai kandidat terapi berbasis bahan alam. Tanaman ini telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional di Asia Tenggara dan penelitian praklinis membuktikan berbagai aktivitas biologis yang dimiliki, seperti antiinflamasi, antidiabetes dan hepatoprotektif. Namun, mekanisme molekuler spesifiknya terhadap MASLD masih belum banyak terungkap.
Penelitian ini memanfaatkan ultra-high-performance liquid chromatography鈥搈ass spectrometry (UHPLC鈥揗S) untuk mengidentifikasi kandungan kimia dalam ekstrak etanol Clinacanthus nutans. Hasilnya menunjukkan adanya 17 senyawa metabolit yang berpotensi aktif secara biologis. Selanjutnya, senyawa-senyawa tersebut diseleksi menggunakan kriteria Lipinski, Ghose, dan Veber, untuk menilai kelayakan sebagai kandidat obat. Dari proses ini, enam senyawa serta satu asam lemak esensial, yaitu asam stearidonat, menunjukkan profil farmakokinetik yang menjanjikan. Lebih lanjut, melalui pendekatan in siliko berupa molecular docking, senyawa-senyawa tersebut diuji terhadap 20 target molekuler yang berperan dalam patogenesis MASLD. Hasilnya cukup menggembirakan. Dua senyawa, yakni turunan asam benzoat berbasis tiofena dan tagalsin Q, menunjukkan afinitas ikatan yang kuat terhadap tiga target kunci: CCR2, ChREBP, dan SGLT2. Ketiga target ini memiliki peran penting dalam regulasi inflamasi serta metabolisme glukosa dan lipid, dua aspek utama dalam perkembangan MASLD. Menariknya, pola interaksi kedua senyawa tersebut sebanding dengan ligan alami, menunjukkan potensi biologis yang relevan sebagai kandidat terapi. Tidak hanya itu, analisis dinamika molekuler juga menunjukkan bahwa interaksi antara senyawa dan target tersebut bersifat stabil dalam kondisi yang menyerupai lingkungan biologis. Hal ini memperkuat potensi Clinacanthus nutans sebagai sumber agen terapeutik pada MASLD.
Temuan ini memberikan pesan penting: kekayaan biodiversitas Indonesia harus dipandang sebagai peluang strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan global. Dengan pendekatan ilmiah yang tepat, tanaman lokal dapat diangkat menjadi kandidat terapi berbasis bukti (evidence-based medicine). Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil ini masih berada pada tahap penelitian awal berbasis komputasi. Diperlukan penelitian lanjutan, baik in vitro maupun in vivo, untuk memvalidasi efektivitas dan keamanan senyawa tersebut sebelum dapat diaplikasikan secara klinis.
Informasi lengkap mengenai penelitian ini dapat dibaca pada publikasi berikut:
Hasanatuludhhiyah N, Mustika A, Kalanjati VP, Haq KU, Miftahussurur M, Wakuda H, Uemura N (2025) Predicting activities of Clinacanthus nutans (Burm.f.) Lindau metabolites against molecular targets in metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease. J Pharm Pharmacogn Res 13(s1): S316鈥揝332. https://doi.org/10.56499/jppres24.2246_13.s1.316





