Miopia, atau sering disebut聽rabun jauh dan mata minus, adalah聽gangguan penglihatan yang menyebabkan benda jauh terlihat kabur, sementara objek dekat tetap jelas. Kondisi ini terjadi karena bayangan cahaya jatuh di depan retina, bukan tepat di retina, akibat bola mata yang terlalu panjang atau kornea terlalu melengkung. Miopia adalah gangguan mata yang sudah sangat umum terjadi pada semua kalangan usia, namun sering kali mulai muncul ketika anak berusia 8-12 tahun. Pada sepuluh tahun terakhir, myopia menjadi masalah kesehatan yang serius, lebih dari 80% anak-anak usia sekolah mengalami miopia dikarenakan peningkatan screen time dan kekurangan aktivitas diluar ruangan. Gejala umum miopia adalah sakit kepala atau pusing, sulit membaca tulisan dari jauh, dan penglihatan buram. Gejala ini dirasakan sejak anak-anak dan semakin memburuk seiring berjalannya waktu, bisa secara cepat atau perlahan. Penyebab miopia dibedakan menjadi 2, yaitu miopia aksialis dan miopia kurvatura, miopia aksialis disebabkan karena jarak anterior-posterior terlalu panjang. Hal ini dapat terjadi secara kongenital pada makroftalmus. Miopia aksial dapatan bisa terjadi jika anak membaca terlalu dekat, sehingga terjadi konvergensi berlebihan. Otot rektus medial akan berkontraksi berlebihan, sehingga bola mata terjepit oleh otot ekstraokular. Kondisi ini mengakibatkan polus posterior mata, tempat paling lemah dari bola mata menjadi memanjang. Wajah lebar juga menyebabkan konvergensi berlebihan. Kondisi lain yang dapat menimbulkan pemanjangan bola mata antara lain edema, peradangan, kelemahan lapisan di sekeliling bola mata, serta tekanan pembuluh darah vena kepala yang tinggi.
Faktor yang dapat mempengaruhi progresivitas miopia pada usia sekolah, yaitu faktor genetik dan kebiasaan atau perilaku membaca dekat disertai penerangan yang kurang, kurangnya outdoor activity, dan vitamin D. Vitamin D yang didapat ketika melakukan aktivitas luar ruangan memiliki peran dalam pembentukan kolagen dimana merupakan komponen utama sklera. Intensitas cahaya yang tinggi juga dapat mempengaruhi tingkat keparahan miopi karena mempengaruhi bekerjanya pupil dan lensa mata. Kami meneliti efek perlindungan paparan sinar ultraviolet-A (UV-A) terhadap perkembangan miopia dalam hewan model deprivasi myopia dan mengeksplorasi mekanisme potensialnya melalui pensinyalan retina dopaminergik. Dalam studi eksperimental ini, diinduksi pada kelinci, yang secara acak dibagi menjadi kelompok kontrol (n = 7) atau kelompok yang diberi perlakuan UV-A (375 nm, 12 jam/hari selama 5 hari; n = 6). Panjang aksial, refraksi, dan keamanan permukaan okular (tes Schirmer dan pengamatan klinis) dievaluasi sebelum dan sesudah perawatan. Jaringan retina dianalisis untuk tirosin hidroksilase (TH) dan reseptor dopamin (D鈧丷 dan D鈧俁). Pemanjangan aksial dinilai di dalam dan antar kelompok. Mata yang terpapar UV-A menunjukkan panjang aksial yang lebih pendek dan pergeseran hiperopia yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol (17,72 卤 0,14 mm vs. 23,12 卤 2,34 mm, p = 0,001; +4,58 卤 0,66 D vs. +2,64 卤 1,41 D, p = 0,001). Tes Schirmer tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,40). Tingkat ekspresi TH dan D鈧俁 secara signifikan lebih tinggi pada kelompok UV-A (p = 0,013 dan p = 0,009, masing-masing). Keterbatasan penelitian ini meliputi durasi eksperimen yang singkat, ukuran sampel yang kecil, dan tidak adanya analisis respons dosis UV. Secara keseluruhan, paparan sinar UV-A menunjukkan potensi dalam menghambat pemanjangan aksial okular dan membalikkan pergeseran miopia pada model deprivasi bentuk, mungkin melalui aktivasi jalur dopaminergik retina, yang menyoroti UV-A sebagai intervensi berbasis cahaya yang menjanjikan untuk pengendalian miopia.
Disarikan dari artikel dengan judul: 鈥淯V-A鈥揵ased intervention for mitigating myopia progression via retinal dopaminergic pathways in rabbits鈥 yang diterbitkan bulan April 2026 di
Jurnal Medik Veteriner, Vol. 9 No. 1, Halaman: 71-84. Link:
Penulis:
Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)
Scopus ID 59912681400
Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran 东京热





