¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

MENGUAK ANCAMAN PARASIT: NEKROPSI AYAM SEBAGAI PEMBELAJARAN MAHASISWA PPDH DIVISI PARASITOLOGI

Surabaya, 3 Juni 2026 – Mahasiswa Program Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ (FKH Unair) melaksanakan kegiatan nekropsi (bedah bangkai) untuk mengidentifikasi parasit yang ada pada unggas. Kegiatan peneguhan diagnosis ini berlangsung di Laboratorium Divisi Parasitologi FKH Unair. Sampel yang digunakan dalam pemeriksaan patologi dan parasitologi meliputi ayam, burung perkutut, dan burung puter. Pemeriksaan tersebut berfokus pada deteksi parasit luar (ektoparasit) serta parasit dalam (endoparasit) yang selama ini sering menyerang populasi unggas, baik unggas komersial maupun burung peliharaan.

Kegiatan ini bertujuan utama agar mahasiswa PPDH dapat meningkatkan kompetensinya dalam hal identifikasi parasit serta penegakan diagnosis penyakit veteriner. Deteksi parasit dalam dunia kedokteran hewan berperan penting sebagai diagnosis pasti atau diagnosis laboratoris. Melalui temuan-temuan fisis di laboratorium, para calon dokter hewan dapat memberikan rekomendasi medis yang akurat, bukan sekadar berdasarkan asumsi gejala klinis luarnya saja.

Rangkaian kegiatan nekropsi di bawah pengawasan tim akademik Laboratorium Divisi Parasitologi FKH Unair. Prosedur penanganan sampel diawali dengan pemeriksaan antemortem pada unggas. Pemeriksaan fisik ini bertujuan untuk melihat kondisi unggas secara umum (general) guna menentukan diagnosis sementara atau diferensial diagnosis sebelum satwa dibedah. ​Pada tahap antemortem ini, mahasiswa melakukan inspeksi menyeluruh terhadap performa fisik luar unggas. Bagian-bagian tubuh seperti bulu, kulit, dan area alami tempat ektoparasit sering menempel diperiksa secara detail. Area predileksi tersebut meliputi kawasan di sekitar sayap, leher, hingga sekitar kloaka yang kerap menjadi tempat bersembunyi tungau maupun kutu. Ektoparasit yang ditemukan selama proses pemeriksaan fisik ini langsung dikoleksi menggunakan pinset anatomi, dimasukkan ke dalam wadah spesimen, untuk selanjutnya diidentifikasi lebih lanjut di bawah mikroskop.

​Selain melakukan koleksi ektoparasit pada permukaan luar tubuh, mahasiswa PPDH juga mengambil sampel usap (swab) dari bagian kerongkongan dan rektum unggas. Pengambilan sampel usap ini penting untuk mendeteksi keberadaan protozoa saluran pencernaan bagian atas maupun bawah melalui pemeriksaan preparat natif nantinya. ​Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan antemortem selesai dilakukan dan datanya tercatat, prosedur beralih ke tahap post-mortem atau nekropsi. Tubuh unggas dibedah secara sistematis dengan teknik insisi standar medis untuk membuka rongga-rongga utama tubuh, yang meliputi rongga dada (thorax), rongga perut (abdomen), serta rongga kepala (cranial). Langkah selanjutnya adalah melakukan koleksi organ tubuh unggas secara hati-hati agar tidak merusak struktur anatominya.

 

​Organ-organ yang telah diisolasi kemudian diperiksa satu-persatu untuk menemukan keberadaan cacing (helminth) atau protozoa melalui bermacam metode pemeriksaan parasitologi. Tidak hanya organ, isi dari saluran pencernaan seperti usus halus, usus buntu (sekum), serta feses unggas juga dikoleksi secara terpisah. Koleksi ini ditujukan untuk menemukan adanya telur cacing, kista, maupun oosista protozoa yang tidak kasat mata melalui metode sedimentasi atau pengapungan (flotasi).

Pada pemeriksaan luar, mahasiswa berhasil mengidentifikasi adanya ektoparasit berupa kutu Lipeurus caponis. Infestasi kutu bulu ini ditemukan dengan tingkat keparahan atau derajat infestasi sedang. Lipeurus caponis umumnya berada di area bulu sayap unggas dan memakan bagian keratin bulu. Keberadaan kutu ini dalam intensitas sedang dapat memicu rasa gatal kronis, menyebabkan kerusakan pada struktur bulu, dan membuat unggas terus-menerus melakukan preening (merapikan bulu) sehingga waktu istirahat dan makannya terganggu. Sementara itu, pada pemeriksaan organ dalam pasca-nekropsi, khususnya pada bagian lumen usus, ditemukan endoparasit berupa cacing Ascaridia galli. Selain menemukan cacing dewasa secara makroskopis, pemeriksaan mikroskopis terhadap feses dan isi usus juga menunjukkan adanya berbagai jenis telur cacing. Infeksi cacing Ascaridia galli ini berakibat buruk pada penyerapan nutrisi makanan di usus, sebab cacing mengambil sari makanan yang seharusnya diserap oleh tubuh unggas.

Kegiatan praktis nekropsi dan identifikasi penyakit yang dilakukan di FKH Unair ini tidak hanya bernilai akademis, melainkan memiliki kaitan yang erat dengan pencapaian target pembangunan global atau Sustainable Development Goals (SDGs). Terdapat tiga poin utama SDGs yang selaras dengan aktivitas ini: SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger). ​Unggas, khususnya ayam, merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat penting bagi pemenuhan gizi masyarakat Indonesia karena harganya yang relatif terjangkau oleh semua kalangan. Namun, gangguan penyakit yang diakibatkan oleh infestasi ektoparasit (seperti Lipeurus caponis) dan endoparasit (seperti Ascaridia galli) dapat menurunkan kapasitas produksi telur serta bobot daging secara signifikan. Jika dibiarkan, penurunan produktivitas ini dapat mengancam stabilitas ekonomi dan kelangsungan usaha para peternak kecil skala rakyat.

​Melalui kemampuan mahasiswa PPDH dalam mendiagnosis parasit secara akurat di laboratorium, dokter hewan masa depan dapat membantu peternak menyusun program pengobatan (deworming) yang tepat sasaran serta merancang manajemen sanitasi kandang yang efektif. Kontribusi nyata ini membantu menjaga stabilitas pasokan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) guna mencegah masalah kekurangan gizi serta mendukung penurunan angka stunting di masyarakat. SDGs Poin 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being), dunia kesehatan global saat ini menghadapi tantangan besar dari penyakit-penyakit yang bersumber dari hewan. Beberapa jenis parasit maupun agen penyakit sekunder (seperti bakteri oportunistik atau virus) yang dibawa oleh unggas domestik maupun liar dapat bersifat zoonosis, yang artinya memiliki kemampuan untuk menular dari hewan kepada manusia. ​Melalui pendekatan konsep One Health (Kesatuan Kesehatan), dilakukan integrasi pemantauan kesehatan antara hewan domestik (seperti ayam) dan hewan liar atau peliharaan (seperti burung perkutut dan burung puter). Pemantauan berkala lewat tindakan nekropsi ini berfungsi sebagai sistem pencegahan dini (early warning system) terhadap penularan penyakit dari satwa ke lingkungan pemukiman manusia. Dengan menjaga populasi hewan di sekitar kita tetap sehat, risiko penyebaran penyakit menular di lingkungan pemukiman dapat ditekan sedini mungkin, sehingga derajat kesehatan masyarakat dapat lebih terjaga dengan baik.

Pendidikan kedokteran hewan menuntut adanya keselarasan antara pemahaman teori dan keahlian motorik di lapangan. Melalui kegiatan praktikum realistik seperti ini, mahasiswa PPDH tidak hanya mempelajari teori dari buku teks kuliah, tetapi juga melatih keterampilan teknis laboratorium secara langsung (hands-on experience), melakukan analisis data klinis berdasarkan bukti fisik, serta mengasah kemampuan diagnostik yang valid sesuai standar medik veteriner (SDGs Poin 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education)).

​Pendidikan yang berkualitas di bangku kuliah dan laboratorium profesi ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan dokter hewan yang kompeten dan siap turun ke masyarakat. Ilmu saintifik yang diperoleh dari Laboratorium Parasitologi FKH Unair ini nantinya dapat diaplikasikan langsung saat berhadapan dengan peternak, melalui pemberian edukasi, penyuluhan, dan pendampingan mengenai manajemen kesehatan ternak yang benar. Dengan demikian, kegiatan laboratorium ini berperan aktif dalam meningkatkan literasi kesehatan hewan serta mutu sumber daya manusia (SDM) di sektor peternakan nasional.

 

Penulis: Nabilah Dzakirah, S.KH.,

PPDH Gelombang 45 Tandem 1

 

Editor: Mochamad Arifudin

Divisi Parasitologi Veteriner

AKSES CEPAT