东京热

东京热 Official Website

Mahasiswa PPDH FKH Unair Temukan Ascaris suum pada Babi Konsumsi, Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Risiko Zoonosis

Ascariasis adalah salah satu penyakit kecacingan tertua dan paling tersebar luas di dunia, disebabkan oleh cacing gelang dari genus Ascaris. Selama puluhan tahun, perhatian ilmiah dan kebijakan kesehatan global lebih banyak tertuju pada Ascaris lumbricoides, parasit yang secara khusus menginfeksi manusia dan menjadi salah satu penyebab utama kecacingan usus di negara berkembang. Namun, kerabat dekatnya, Ascaris suum, cacing gelang yang utamanya menginfeksi babi, kini semakin mendapat perhatian karena memiliki potensi zoonosis, yaitu kemampuan menular dan menginfeksi manusia. Mengingat tingginya konsumsi daging babi serta luasnya praktik peternakan babi skala kecil hingga industri di berbagai belahan dunia, termasuk di sejumlah wilayah Indonesia seperti Sumatera Utara, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua, pemahaman tentang ascariasis akibat A. suum menjadi penting tidak hanya dari sisi kesehatan masyarakat, tetapi juga dari sisi pembangunan berkelanjutan secara global.Ascariasis adalah salah satu penyakit kecacingan tertua dan paling tersebar luas di dunia, disebabkan oleh cacing gelang dari genus Ascaris. Perhatian publik selama ini lebih banyak tertuju pada Ascaris lumbricoides, parasit yang secara khusus menginfeksi manusia. Namun, kerabat dekatnya, Ascaris suum, cacing gelang yang utamanya menginfeksi babi, juga semakin mendapat perhatian karena memiliki potensi zoonosis, yaitu mampu menular dan menginfeksi manusia. Mengingat tingginya konsumsi daging babi serta luasnya praktik peternakan babi skala kecil hingga industri di berbagai belahan dunia, termasuk di sejumlah wilayah Indonesia, pemahaman tentang ascariasis akibat A. suum menjadi penting tidak hanya dari sisi kesehatan masyarakat, tetapi juga dari sisi pembangunan berkelanjutan secara global.

Ascaris suum secara morfologis dan genetik sangat menyerupai A. lumbricoides, sehingga keduanya kadang sulit dibedakan hanya melalui pemeriksaan telur di bawah mikroskop konvensional. Penelitian genetik dalam dua dekade terakhir bahkan menunjukkan bahwa kedua spesies ini memiliki kemiripan genom yang sangat tinggi, memunculkan perdebatan ilmiah apakah keduanya merupakan spesies yang benar-benar berbeda atau varian dari satu spesies yang sama dengan inang yang berbeda. Terlepas dari perdebatan taksonomi tersebut, bukti epidemiologis dan eksperimental menunjukkan bahwa A. suum mampu menginfeksi manusia, meskipun umumnya tidak berkembang sepenuhnya menjadi cacing dewasa di usus manusia sebagaimana pada babi.

Penting dipahami bahwa penularan A. suum ke manusia umumnya tidak terjadi melalui konsumsi daging babi yang dimasak dengan benar, melainkan melalui jalur fekal-oral, yaitu ketika manusia tidak sengaja menelan telur cacing matang akibat kontak dengan tanah, air, atau sayuran yang terkontaminasi tinja babi. Praktik peternakan yang menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk tanpa pengolahan memadai, sanitasi kandang yang buruk, serta kebiasaan masyarakat di sekitar peternakan untuk bercocok tanam atau beraktivitas di lahan terkontaminasi, menjadi faktor risiko utama penularan zoonosis ini. Dengan demikian, seluruh rantai terkait konsumsi babi tetap berkontribusi pada risiko penyebaran parasit ini ke manusia, meskipun mekanismenya tidak sesederhana tertular karena memakan dagingnya.

Pada manusia, infeksi A. suum dapat menimbulkan gejala yang serupa dengan ascariasis akibat A. lumbricoides, mulai dari gangguan pencernaan ringan seperti mual, nyeri perut, dan diare, hingga komplikasi lebih serius seperti reaksi alergi, sindrom L枚ffler akibat migrasi larva ke paru-paru, dan pada kasus berat dapat menyebabkan obstruksi usus. Anak-anak dan kelompok dengan status gizi rendah cenderung lebih rentan mengalami dampak jangka panjang seperti gangguan pertumbuhan, anemia, dan penurunan kemampuan kognitif akibat infeksi cacing kronis. Karena keterbatasan kapasitas diagnostik di banyak fasilitas kesehatan, terutama di wilayah pedesaan dengan populasi peternakan babi yang besar, kasus ascariasis akibat A. suum sering tidak terdeteksi secara spesifik dan hanya dicatat sebagai ascariasis pada umumnya. Akibatnya, data epidemiologi mengenai beban penyakit ini menjadi kurang akurat, padahal pemahaman yang tepat sangat diperlukan untuk merancang intervensi kesehatan masyarakat yang efektif dan tepat sasaran.

Isu ascariasis akibat Ascaris suum memiliki keterkaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Upaya pengendalian penyakit ini mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pencegahan penyakit zoonosis dan pengurangan beban penyakit tropis terabaikan, sekaligus berkontribusi terhadap SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dengan mendukung perbaikan status gizi masyarakat yang dapat terganggu akibat infeksi kecacingan kronis. Selain itu, pencegahan penularan A. suum sangat bergantung pada penerapan sanitasi yang baik dan pengelolaan limbah peternakan yang tepat sebagaimana tercermin dalam SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi). Praktik peternakan yang higienis dan pengelolaan produk hewan yang aman juga sejalan dengan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), sementara pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kelestarian lingkungan turut mendukung SDG 15 (Ekosistem Daratan). Dengan demikian, pengendalian ascariasis tidak hanya menjadi isu kesehatan masyarakat, tetapi juga bagian penting dari upaya mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Mengingat sifat zoonosis A. suum, penanganannya tidak dapat dilakukan secara sektoral. Pendekatan One Health, yang mengintegrasikan sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan, menjadi strategi paling relevan untuk masalah ini. Edukasi kepada peternak mengenai pengelolaan kotoran ternak, penerapan sanitasi yang baik di rumah tangga dan fasilitas pemotongan hewan, serta pengawasan kesehatan ternak secara berkala dapat secara signifikan menurunkan risiko penularan ke manusia.

Pemerintah daerah, khususnya di wilayah dengan populasi peternakan babi yang signifikan, perlu memperkuat program deteksi dini, pengobatan massal kecacingan, serta penyuluhan kesehatan masyarakat yang menyasar baik peternak maupun konsumen. Kolaborasi antara dinas kesehatan, dinas peternakan, dan akademisi juga penting untuk memperbaiki sistem surveilans sehingga kasus zoonosis seperti ini dapat terpantau dengan lebih baik.

Ascariasis akibat Ascaris suum merupakan contoh nyata bagaimana kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kelestarian lingkungan saling terkait erat. Meskipun penularannya tidak terjadi secara langsung melalui konsumsi daging babi yang diolah dengan baik, seluruh rantai produksi dan konsumsi babi, mulai dari peternakan, sanitasi, hingga pengelolaan limbah berperan dalam menentukan risiko penularan zoonosis ini. Dengan mengintegrasikan upaya pengendalian ascariasis ke dalam kerangka SDGs, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan, gizi, sanitasi, konsumsi-produksi berkelanjutan, dan ekosistem darat, masyarakat global dapat melangkah lebih dekat menuju pembangunan yang sehat, adil, dan berkelanjutan bagi semua.

Penemuan cacing Ascaris suum pada usus babi konsumsi oleh mahasiswa Program Profesi Dokter Hewan Gelombang 45 Tandem 1 diharapkan dapat menjadi wawasan bagi masyarakat agar dapat mengolah dan mengonsumsi daging babi dengan prosedur yang baik dan benar. Selain itu, pastikan daging yang diperoleh dalam kondisi segar dan berasal dari sumber yang terpercaya agar meminimalisir risiko terjangkitnya ascariasis pada manusia.

 

Penulis: Rania Lathisya Azzahra Guritno, S.KH. (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 tandem 1)

Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)

AKSES CEPAT