Meningkatnya jumlah masyarakat yang memelihara hewan kesayangan seperti kucing dan anjing telah mendorong kebutuhan akan layanan kesehatan hewan yang semakin baik. Di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Petugas Medik Veteriner (PMV) menjadi ujung tombak dalam memberikan pelayanan kesehatan hewan kepada masyarakat. Mereka sering kali menjadi tenaga pertama yang menangani berbagai kasus penyakit, cedera, hingga memberikan edukasi kepada pemilik hewan.
Namun, perkembangan kasus penyakit hewan yang semakin kompleks menuntut PMV untuk terus meningkatkan kompetensi dan keterampilannya. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Fakultas Kedokteran Hewan 东京热 bersama Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) tentang strategi efektif penanganan dan pengobatan kasus hewan kecil. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari penelitian yang bertujuan mengevaluasi tingkat pengetahuan, sikap, kebutuhan pelatihan, serta kepuasan peserta terhadap program yang diberikan.
Penelitian melibatkan 27 PMV yang berasal dari lingkungan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro. Mayoritas peserta merupakan laki-laki dengan latar belakang pendidikan sarjana atau profesi dokter hewan. Sebagian besar juga telah memiliki pengalaman kerja lebih dari sepuluh tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tenaga kesehatan hewan di Bojonegoro didukung oleh sumber daya manusia yang cukup berpengalaman dalam menjalankan tugas di lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan sikap PMV terhadap penanganan hewan kecil berada pada kategori baik. Rata-rata skor yang diperoleh mencapai 4,34 dari skala 5 dengan indeks kepuasan sebesar 86,8 persen. Sebagian besar peserta memahami tanda-tanda penyakit pada hewan kecil, pentingnya kebersihan lingkungan dan kandang, penggunaan obat sesuai dosis dan indikasi, serta pentingnya merujuk kasus tertentu kepada dokter hewan ketika diperlukan.
Menariknya, hasil pre-test yang dilakukan sebelum pelatihan menunjukkan nilai yang hampir sempurna, yaitu rata-rata 14,96 dari skor maksimum 15. Setelah pelatihan, seluruh peserta memperoleh nilai sempurna. Secara statistik memang tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara nilai sebelum dan sesudah pelatihan. Namun, hal ini bukan berarti pelatihan tidak efektif. Fenomena tersebut dikenal sebagai ceiling effect, yaitu kondisi ketika kemampuan awal peserta sudah sangat tinggi sehingga instrumen evaluasi tidak lagi mampu mendeteksi peningkatan kemampuan yang lebih kecil.
Meskipun memiliki kompetensi dasar yang baik, para PMV tetap menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pelatihan lanjutan. Rata-rata skor kebutuhan pelatihan mencapai 4,41 dari 5 atau setara dengan indeks kepuasan 88,1 persen. Dua topik yang paling banyak diminati adalah pelatihan penggunaan obat yang aman dan efektif pada hewan kecil serta pemahaman mengenai tanda-tanda bahaya yang memerlukan rujukan ke dokter hewan. Kedua aspek tersebut memperoleh nilai tertinggi dengan indeks mencapai 91,9 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa para PMV menyadari pentingnya peningkatan kemampuan praktis, terutama dalam bidang farmakologi dan pengambilan keputusan klinis. Di era meningkatnya ancaman resistensi antimikroba, penggunaan obat yang tepat dan bertanggung jawab menjadi salah satu kunci keberhasilan pelayanan kesehatan hewan. Oleh karena itu, pelatihan yang berfokus pada penggunaan obat dan prinsip-prinsip antimikroba yang bijak menjadi sangat relevan untuk terus dikembangkan.
Selain mengidentifikasi kebutuhan pelatihan, penelitian ini juga menggali berbagai tantangan yang dihadapi PMV di lapangan. Kasus yang paling sering mereka temui adalah penyakit kulit, terutama skabies, diikuti gangguan pencernaan seperti diare, infeksi bakteri dan virus, luka traumatik, serta kasus keracunan. Sementara itu, keterbatasan alat diagnostik menjadi kendala yang paling banyak disampaikan peserta. Tantangan lainnya meliputi keterbatasan akses terhadap obat-obatan tertentu, kurangnya pengalaman menangani beberapa kasus spesifik, serta kesulitan dalam memberikan edukasi kepada pemilik hewan.
Kabar baiknya, program Bimtek yang dilaksanakan mendapatkan respons yang sangat positif. Sebanyak 92,6 persen peserta menyatakan bahwa pelatihan membantu mereka dalam proses pengambilan keputusan saat menangani kasus hewan kecil. Penelitian juga menemukan adanya hubungan yang kuat antara tingkat kompetensi peserta dan kepuasan terhadap pelatihan. Artinya, materi yang diberikan dinilai relevan dengan kebutuhan dan pengalaman peserta di lapangan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa PMV di Kabupaten Bojonegoro telah memiliki pengetahuan dan sikap yang baik dalam penanganan hewan kesayangan. Namun, kebutuhan akan peningkatan keterampilan praktis, khususnya dalam penggunaan obat, diagnosis kasus, dan komunikasi dengan pemilik hewan, masih menjadi prioritas. Dukungan berupa pelatihan berkelanjutan, pendampingan teknis, serta penyediaan fasilitas diagnostik sederhana akan menjadi langkah penting untuk memperkuat kapasitas PMV dalam memberikan pelayanan kesehatan hewan yang lebih optimal kepada masyarakat. Dengan sumber daya manusia yang kompeten dan didukung fasilitas yang memadai, kualitas kesehatan dan kesejahteraan hewan di tingkat daerah diharapkan dapat terus meningkat.
Penulis: Nanik Hidayatik
Publikasi di Jurnal: World Journal of Advanced Research and Reviews
Link artikel:
Link journal:





