东京热

东京热 Official Website

Pengalaman Rasa Bersalah Ibu sebagai Perawat ICU

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Rasa bersalah ibu adalah pengalaman emosional umum di kalangan ibu bekerja, yang sering dikaitkan dengan tantangan dalam memenuhi peran profesional dan pengasuhan. Perawat perempuan, terutama yang bekerja di unit perawatan intensif (ICU), menghadapi tekanan karena beban kerja, jadwal kerja, dan intensitas emosional perawatan pasien. Kondisi ini membuat perawat yang berperan sebagai ibu rentan terhadap perasaan bersalah ketika tanggung jawab keluarga merasa terabaikan/diabaikan.

Wawancara mendalam kepada sepuluh perawat ICU perempuan yang sudah menikah, berstatus ibu, dan memiliki pengalaman bertugas di ICU minimal lima tahun menghasilkan beberapa simpulan. Diantaranya: (1) beban internal dari rasa tidak mampu yang dirasakan, tercermin dalam perasaan tidak mampu yang terus-menerus, kelelahan emosional, beban kognitif berlebih, kecemasan dan kesedihan, serta menyalahkan diri sendiri; (2) ketegangan relasional dan pengasuhan kompensasi, termasuk ikatan orang tua-anak yang terganggu, perilaku pengasuhan kompensasi, dan peningkatan ketergantungan emosional pada pasangan; dan (3) ketegangan profesional dan tanggung jawab pengasuhan yang bersaing, ditandai dengan berkurangnya fokus kerja dan gangguan, kelelahan dan pikiran untuk mengundurkan diri, serta konflik peran antara tanggung jawab profesional dan tanggung jawab ibu. Temuan ini menunjukkan bahwa rasa bersalah ibu muncul sebagai pengalaman multidimensional yang meresap ke dalam domain pribadi dan profesional.

Temuan studi ini menunjukkan bahwa rasa bersalah ibu beroperasi di berbagai domain psikologis, relasional, dan profesional yang saling terkait, yang dibentuk oleh interaksi antara tugas pekerjaan ICU yang menuntut dan ekspektasi yang tertanam secara budaya tentang peran ibu yang intensif. Untuk meminimalkan rasa bersalah ibu, dibutuhkan penjadwalan yang fleksibel, dukungan penitipan anak yang mudah diakses, dan layanan psikososial yang terstruktur untuk meningkatkan kesejahteraan ibu perawat dan mempertahankan stabilitas kinerja di lingkungan perawatan intensif. Pada tingkat yang lebih luas, studi ini menyoroti pentingnya strategi yang responsif secara budaya dalam praktik keperawatan global, karena rasa bersalah ibu dapat diperintensifkan dalam konteks kolektivis. Penelitian lintas budaya lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan intervensi yang dapat mendukung kesejahteraan ibu yang bekerja sebagai perawat.

Kesimpulan: Rasa bersalah ibu muncul sebagai pengalaman penting yang membentuk kesejahteraan emosional, hubungan keluarga, dan fungsi profesional perawat. Temuan ini menunjukkan bahwa harapan budaya kolektivis dan norma-norma idealisasi peran ibu dapat berkontribusi dalam membentuk pengalaman rasa bersalah ibu yangbertugas sebagai perawat ICU. Hasil ini menggarisbawahi perlunya kebijakan tempat kerja yang mendukung, penjadwalan yang fleksibel, dan layanan psikososial yang mudah diakses untuk menjaga kesejahteraan dan retensi perawat di lingkungan klinis. Dibutuhkan keseimbangan kerja dan keluarga.

AKSES CEPAT