Kebiasaan makan sehat pada anak sering kali dianggap sebagai hasil dari edukasi di sekolah. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa fondasi utama perilaku makan anak justru dibentuk di rumah, melalui contoh nyata dari orang tua. Sebuah studi yang dilakukan pada keluarga masyarakat adat di Malaysia menemukan bahwa perilaku gizi orang tua berhubungan signifikan dengan kebiasaan makan sehat dan aktivitas fisik anak. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan terpenting dalam membentuk gaya hidup sehat anak sejak dini.
Penelitian Augundhooa, et al., (2026) yang melibatkan 146 pasangan orangtua-anak di 3 sekolah dasar Orang Asli (indigenous) di Negeri Sembilan, Malaysia menunjukkan bahwa konsumsi buah dan sayur oleh orang tua berkorelasi positif dengan kebiasaan makan sehat pada anak. Anak-anak dari orang tua yang rutin mengonsumsi buah dan sayur cenderung lebih sering mengonsumsi makanan sehat serupa. Bahkan, kebiasaan ini juga berkaitan dengan meningkatnya aktivitas fisik anak.
Fenomena ini menunjukkan bahwa anak tidak hanya mendengar nasihat tentang makan sehat, tetapi belajar melalui observasi. Ketika orang tua menjadikan pola makan sehat sebagai bagian dari keseharian, anak akan meniru perilaku tersebut secara alami.
Tidak hanya soal makanan, aktivitas fisik orang tua juga memengaruhi kebiasaan gerak anak. Studi ini menemukan bahwa anak-anak cenderung lebih aktif secara fisik ketika orang tua mereka juga menjalani gaya hidup aktif.
Hal ini dapat terjadi karena orang tua aktif biasanya lebih sering mengajak anak bermain di luar rumah, berolahraga bersama, atau menyediakan lingkungan yang mendukung aktivitas fisik. Keterlibatan sederhana seperti menemani anak bermain, memuji usaha mereka saat berolahraga, atau sekadar berjalan bersama terbukti dapat meningkatkan motivasi anak untuk tetap aktif.
Meski demikian, membangun pola hidup sehat bukan perkara mudah bagi semua keluarga. Penelitian ini juga menyoroti bahwa status pekerjaan orang tua dan kondisi sosial ekonomi memengaruhi kemampuan keluarga menyediakan makanan sehat. Orang tua yang bekerja penuh waktu sering menghadapi keterbatasan waktu untuk menyiapkan makanan bergizi di rumah. Akibatnya, makanan siap saji yang tinggi gula, garam, dan lemak menjadi pilihan praktis.
Pada keluarga dengan keterbatasan ekonomi, akses terhadap buah dan sayur segar juga dapat menjadi hambatan. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya perbaikan gizi anak tidak cukup hanya dengan edukasi, tetapi juga perlu didukung kebijakan yang memperluas akses pangan sehat.
Penelitian ini menegaskan bahwa perubahan perilaku anak idealnya dimulai dari perubahan perilaku orang tua. Program edukasi gizi berbasis keluarga, pendampingan komunitas, hingga subsidi pangan sehat menjadi langkah strategis untuk mendukung terciptanya lingkungan rumah yang sehat. Ketika orang tua memberi contoh nyata鈥攎emilih makanan sehat, aktif bergerak, dan menciptakan suasana makan yang positif鈥攁nak tidak sekadar belajar teori kesehatan. Mereka sedang membangun kebiasaan yang dapat bertahan hingga dewasa.
Pada akhirnya, pelajaran paling penting dari penelitian ini sederhana: anak belajar hidup sehat dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika ingin membentuk generasi yang lebih sehat, intervensi tidak cukup dilakukan di sekolah atau fasilitas kesehatan. Rumah harus menjadi sekolah gizi pertama, dan orang tua adalah guru utamanya.
Lailatul Muniroh
Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat
东京热
Email: lailamuniroh@fkm.unair.ac.id





