Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) kini mulai hadir di ruang-ruang kelas. Banyak guru memanfaatkannya untuk menyusun bahan ajar, membuat soal, merancang presentasi, hingga membantu pekerjaan administratif. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah guru benar-benar siap menggunakan AI dalam proses pembelajaran? Pertanyaan inilah yang menjadi fokus penelitian kami di di MAN 2 Ngawi, Jawa Timur. Penelitian melibatkan 55 guru yang mengikuti pelatihan AI melalui observasi dan diskusi selama belajar menggunakan AI. Penelitian ini tidak sekadar ingin mengetahui apakah guru mampu mengoperasikan AI, tetapi bagaimana mereka memahami, mempercayai, dan memanfaatkan teknologi tersebut dalam praktik mengajar sehari-hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan guru menggunakan AI ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar menguasai teknologi. Ada tiga hal yang saling berkaitan, yaitu pengetahuan, kompetensi, dan kepercayaan. Pada awal pelatihan, sebagian besar guru mengenal AI sebagai alat yang dapat mempercepat pekerjaan. Mereka melihat AI sebagai 鈥渁sisten鈥 yang membantu menyusun perangkat pembelajaran atau membuat materi presentasi. Pandangan ini wajar karena manfaat AI memang paling mudah dirasakan pada pekerjaan administratif yang selama ini menyita banyak waktu guru. Namun, setelah mengikuti pelatihan dan berdiskusi dengan sesama guru, pemahaman mereka mulai berubah. Mereka menyadari bahwa AI tidak selalu menghasilkan jawaban yang benar. AI bisa memberikan informasi yang tampak meyakinkan, tetapi sebenarnya kurang akurat atau bahkan mengandung bias. Kesadaran inilah yang menjadi titik penting dalam proses belajar mereka. AI tidak lagi dipandang sebagai 鈥渕esin yang selalu benar鈥, melainkan sebagai alat bantu yang tetap membutuhkan penilaian manusia.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa literasi AI tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi. Guru juga perlu memahami bagaimana AI bekerja, mengenali keterbatasannya, dan mempertimbangkan aspek etika dalam penggunaannya. Dengan bekal tersebut, guru akan lebih mampu menggunakan AI secara kritis, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.
Selain pengetahuan, penelitian ini juga menemukan pentingnya kompetensi. Kompetensi bukan hanya kemampuan mengetik prompt di ChatGPT atau membuat presentasi secara otomatis. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan mengubah hasil AI menjadi materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan kata lain, AI membantu mempercepat pekerjaan, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan guru.
Yang menarik, aspek yang paling banyak memunculkan diskusi justru adalah kepercayaan. Sebagian guru mengakui AI sangat membantu pekerjaan mereka. Namun, pada saat yang sama mereka masih menyimpan keraguan. Apakah informasi yang diberikan AI dapat dipercaya? Sampai sejauh mana AI boleh digunakan dalam proses belajar? Apakah penggunaan AI akan mengurangi peran guru?
Penelitian ini menunjukkan bahwa keraguan tersebut bukanlah hambatan, melainkan bentuk kehati-hatian profesional. Guru tetap ingin memastikan bahwa proses belajar tidak sepenuhnya diserahkan kepada mesin. Mereka percaya bahwa AI dapat membantu pekerjaan, tetapi tidak dapat menggantikan pertimbangan, pengalaman, maupun nilai-nilai yang dimiliki seorang pendidik.
Pada akhirnya, ketiga unsur tersebut membentuk apa yang dalam kajian sosiologi pendidikan disebut sebagai teacher agency atau agensi guru. Agensi berarti kemampuan guru untuk mengambil keputusan secara mandiri, reflektif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan teknologi. Guru yang memiliki pengetahuan akan lebih mampu menilai kualitas informasi yang diberikan AI. Guru yang kompeten mampu mengintegrasikan AI ke dalam pembelajaran tanpa kehilangan tujuan pendidikan. Sementara guru yang memiliki kepercayaan secara proporsional tidak akan menolak AI, tetapi juga tidak akan bergantung sepenuhnya padanya.
Temuan ini memberikan pelajaran penting bagi dunia pendidikan di Indonesia. Selama ini, pelatihan AI sering kali hanya berfokus pada pengenalan aplikasi atau fitur-fitur terbaru. Padahal, kemampuan teknis hanyalah salah satu bagian dari kesiapan guru. Pelatihan AI juga perlu membangun pemahaman kritis, kemampuan mengevaluasi hasil AI, serta ruang refleksi untuk mendiskusikan berbagai persoalan etika yang muncul.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan bukanlah tentang siapa yang lebih pintar antara manusia dan AI. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana guru tetap menjadi aktor utama dalam proses pembelajaran. AI dapat membantu membuat pekerjaan lebih efisien, tetapi empati, kebijaksanaan, kemampuan memahami karakter siswa, dan tanggung jawab moral tetap berada di tangan guru. Karena itu, investasi terbaik dalam pengembangan AI di dunia pendidikan bukan hanya menghadirkan teknologi terbaru, melainkan juga membangun guru yang mampu menggunakan teknologi tersebut secara kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab. Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak lahir dari kecanggihan AI semata, tetapi dari guru yang siap memimpin perubahan.
Author: Nur Syamsiyah, S.Sosio., M.Sc.
Judul Artikel Jurnal: 鈥淢aking sense of Artificial Intelligence (AI) in education: Enhancing teachers鈥 agency through knowledge, competence, and trust in using AI鈥
Link Artikel Jurnal:





