Tindakan kraniotomi merupakan salah satu prosedur bedah saraf yang umum dilakukan untuk menangani berbagai kelainan intrakranial, seperti tumor otak, aneurisma, maupun perdarahan. Prosedur ini melibatkan pembuatan beberapa lubang kecil pada tulang tengkorak yang dikenal sebagai burr hole, dilanjutkan dengan pengangkatan flap tulang untuk mengakses jaringan otak. Setelah tindakan utama selesai, tulang dikembalikan ke posisi semula melalui prosedur yang disebut osteoplasti. Meskipun flap tulang dapat direposisi dengan baik, lubang-lubang kecil bekas burr hole sering kali menyisakan defek pada tulang kepala.
Secara klinis, defek burr hole kerap dianggap sebagai masalah kecil. Namun, dari sudut pandang kosmetik, kondisi ini dapat menimbulkan cekungan pada kulit kepala (scalp depression) yang cukup mengganggu, terutama bila terletak di area frontal yang mudah terlihat. Sejumlah metode telah digunakan untuk mengatasi defek ini, seperti pemasangan penutup berbahan titanium, penggunaan bone wax, pemanfaatan serbuk tulang sisa pengeboran, hingga membiarkannya sembuh secara alami. Dalam tiga dekade terakhir, pendekatan rekayasa jaringan (tissue engineering) mulai dikembangkan sebagai alternatif yang menjanjikan dalam rekonstruksi tulang, dengan memanfaatkan scaffold sebagai kerangka pertumbuhan jaringan baru.
Scaffold tulang yang ideal setidaknya memiliki tiga sifat utama seperti; osteokonduktif (mendukung pertumbuhan tulang), osteoinduktif (merangsang pembentukan tulang), dan osteogenik (menyediakan sel pembentuk tulang). Struktur berpori pada scaffold memungkinkan sel untuk bertahan hidup, berdiferensiasi, dan membentuk jaringan tulang yang termineralisasi. Dalam konteks ini, kombinasi antara scaffold berbahan tulang bovine (sapi) dan serbuk tulang autolog yang berasal dari pasien sendiri menjadi pendekatan inovatif yang layak diteliti lebih lanjut.
Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah laporan kasus (pilot case series) dilakukan oleh Asra Al Fauzi dkk., tahun 2026 dari 东京热, penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Surgical Neurology International (Scientific Scholar) ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi scaffold bovine dan serbuk tulang kalvaria autolog dalam menutup defek burr hole pada prosedur osteoplasti kalvaria.
Penelitian ini melibatkan empat pasien yang menjalani kraniotomi dan osteoplasti di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Serbuk tulang dikumpulkan saat prosedur pengeboran menggunakan perforator berdiameter 14 mm, kemudian dijaga dalam kondisi lembap hingga proses implantasi. Scaffold bovine yang digunakan berasal dari tulang spons (cancellous bone) epifisis femur sapi, diproses oleh bank jaringan rumah sakit sesuai regulasi Kementerian Kesehatan RI. Prosesnya meliputi pencucian dengan H鈧侽鈧�, pemanasan pada suhu 70掳C selama 24 jam, serta sterilisasi radiasi gamma dosis 25 kGy untuk memastikan bebas kontaminasi tanpa merusak struktur morfologi.
Scaffold yang dihasilkan memiliki struktur tiga dimensi berpori menyerupai tulang spons alami. Validasi dilakukan melalui inspeksi makroskopis, pemeriksaan porositas seragam, dan uji sterilitas sesuai standar ISO 11137. Kombinasi scaffold dan serbuk tulang kemudian ditempatkan pada defek burr hole saat osteoplasti berlangsung. Seluruh pasien dievaluasi secara klinis dan radiologis menggunakan CT scan kepala minimal satu tahun pascaoperasi.
Pada penelitian ini, didapatkan bahwa dari empat pasien, tiga pasien tidak menunjukkan adanya cekungan kulit kepala di area burr hole, baik secara visual maupun palpasi . Pemeriksaan CT scan menunjukkan graft tetap utuh dan memiliki densitas kortikal yang bahkan lebih tinggi dibandingkan tulang kalvaria di sekitarnya. Pada salah satu pasien, densitas graft mencapai 1401 HU dibandingkan 677 HU pada tulang sekitarnya, pada pasien lain bahkan mencapai 2029 HU dibandingkan 953 HU. Hal ini menunjukkan adanya respons biologis dan kemungkinan proses integrasi struktural, meskipun belum sepenuhnya menyatu dengan tulang asli.
Satu pasien menunjukkan hasil yang berbeda. Pada evaluasi 2 tahun 9 bulan pascaoperasi, graft mengalami resorpsi total sehingga kembali terbentuk defek sebesar burr hole. Namun, menariknya, secara klinis tidak tampak adanya cekungan kulit kepala yang signifikan. Peneliti menduga bahwa scaffold memberikan dukungan mekanis yang cukup pada fase awal penyembuhan, sehingga kulit kepala sempat beradaptasi dan mempertahankan elastisitasnya meskipun graft kemudian terserap.
Temuan ini mengindikasikan bahwa fungsi utama kombinasi scaffold bovine dan serbuk tulang mungkin lebih bersifat mekanis sebagai penopang kulit kepala, dibandingkan murni sebagai media osteointegrasi sempurna. Meski demikian, tidak ditemukan tanda-tanda reaksi penolakan atau alergi pada seluruh pasien, yang menegaskan profil keamanan material tersebut. Dari sisi ekonomi, bahan ini juga dinilai lebih cost-effective dibandingkan material komersial lain dengan fungsi serupa.
Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa kombinasi scaffold bovine dan serbuk tulang kalvaria autolog efektif dalam menutup defek burr hole dan mencegah terjadinya cekungan kulit kepala pasca osteoplasti. Efek ini terutama disebabkan oleh dukungan mekanis scaffold, sementara kontribusi serbuk tulang dalam proses osifikasi tampak minimal dalam periode evaluasi yang ada. Meskipun masih terbatas pada empat kasus dan memerlukan studi komparatif dengan sampel lebih besar serta tindak lanjut jangka panjang, hasil awal ini memberikan harapan baru dalam rekonstruksi defek tulang tengkorak yang lebih sederhana, aman, dan ekonomis.
Penulis: Prof. Dr. Asra Al Fauzi, dr., Sp.BS(K). FICS, IFAANS
Link: /





