Tuberkulosis (TB) hingga kini masih menjadi “hantu” bagi kesehatan masyarakat global, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat kedua beban kasus TB tertinggi di dunia. Meski program nasional telah digencarkan, tantangan besar seperti ketidakpatuhan minum obat dan putusnya pengobatan masih sering terjadi. Di tengah era digital, muncul secercah harapan melalui layanan telecare yang berbasis kolaborasi interprofesional (Interprofessional Collaboration atau IPC).
Pengobatan TB bukanlah perjalanan singkat. Pasien membutuhkan dukungan medis, psikologis, hingga sosial selama berbulan-bulan. Di sinilah peran penting IPC, di mana dokter, perawat, dan apoteker bekerja bersama sebagai satu tim. Namun, tantangan di lapangan sering kali berupa ego sektoral atau tumpang tindih peran.
Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh tim Peneliti dari Fakultas Farmasi 东京热 bekerjasama dengan peneliti dari School of Pharmacy Management and Science University Malaysia mengeksplorasi bagaimana kolaborasi ini bisa dipadukan dengan layanan telecare (layanan kesehatan jarak jauh) di konteks rumah sakit. Layanan ini memungkinkan pemantauan pasien secara remote, konsultasi daring, hingga pengingat minum obat melalui platform digital seperti WhatsApp.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tenaga kesehatan di rumah sakit memiliki optimisme yang tinggi terhadap integrasi telecare dalam manajemen TB. Mereka melihat pengalaman masa lalu dalam edukasi pasien secara bersama-sama sebagai modal kuat untuk melangkah ke sistem digital. Namun, temuan menarik muncul dari sisi persepsi. Studi menemukan adanya perbedaan pandangan antar profesi terkait kolaborasi. Perawat cenderung merasakan hambatan kolaborasi yang lebih besar dibandingkan dokter atau apoteker, terutama terkait kejelasan tanggung jawab dan koordinasi peran. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum teknologi diterapkan, “pondasi” komunikasi antar tenaga kesehatan harus diperkuat terlebih dahulu.
Skeptisisme pasien (pasien terkadang ragu atau tidak menjawab panggilan dari nomor yang tidak dikenal melalui WhatsApp), ketidakjelasan prosedur (belum ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas mengenai siapa yang bertanggung jawab menghubungi pasien agar tidak terjadi tumpang tindih tugas, dan kesiapan infrastruktur (keberhasilan digitalisasi sangat bergantung pada stabilitas internet dan literasi digital pasien maupun petugas) merupakan tantangan lain yang diidentifikasi dari penelitian.
Untuk itu, agar layanan telecare berbasis kolaborasi ini sukses, penelitian ini merekomendasikan beberapa strategi kunci antara lain penguatan SOP (pembagian tugas antara dokter, perawat, dan apoteker dalam layanan telecare harus tertuang secara tertulis dan tegas, pelibatan keluarga (dukungan dari orang terdekat tetap menjadi faktor penentu kepatuhan pasien di rumah dan kepemimpinan yang dinamis (pihak manajemen rumah sakit perlu memberikan dukungan kebijakan dan infrastruktur digital yang memadai).
Layanan telecare berbasis kolaborasi interprofesional bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk mempercepat eliminasi TB di Indonesia. Dengan menyatukan keahlian berbagai profesi kesehatan dalam satu genggaman gawai, pemantauan pasien menjadi lebih efisien dan personal. Jika hambatan komunikasi dan infrastruktur dapat diatasi, teknologi ini akan menjadi senjata ampuh bagi Indonesia untuk bebas dari belenggu Tuberkulosis pada tahun 2035.
Artikel ini disusun berdasarkan hasil penelitian berjudul “The Feasibility of Implementing Interprofessional Collaboration-Based Telecare Services for Patients With Tuberculosis: A Mixed Methods Study From Hospital Insight” yang diterbitkan pada jurnal Interdisciplinary Perspectives on Infectious Diseases tahun 2026. Artikel dapat diakses di
Andi Hermansyah
Fakultas Farmasi 东京热





