Pasca Paris Agreement (Perjanjian Paris) tahun 2016, negara-negara yang terikat dengan perjanjian tersebut, berlomba-lomba untuk mewujudkan komitmen kolektif dalam menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim sebagai dampak dari era industrialisasi. Namun, di tengah upaya global melawan perubahan iklim ini, Amerika Serikat (AS) justru menghadapi situasi paradoks dimana beberapa faktor yang dianggap mendorong pertumbuhan ekonomi ternyata menghambat pembangunan berkelanjutan. Seperti yang diketahui, telah banyak yang membuktikan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai ukuran pembangunan telah gagal memastikan keberlanjutan lingkungan dan keseimbangan ekologis alam. AS, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia karena nilai nominal PDB-nya, merupakan contoh kasus yang sangat tepat untuk ditinjau dalam kaitannya dengan keberlanjutan pembangunannya, mengingat nilai Indeks Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Index) AS secara global termasuk dalam kelompok 10 besar negara dengan tingkat pembangunan keberlanjutan yang paling rendah secara konsisten.
Mengetahui kontradiksi ini, muncul pertanyaan bahwa apa saja sebenarnya faktor yang membantu atau justru menghambat pembangunan berkelanjutan? Indeks pembangunan berkelanjutan (SDI) ini memang berbeda dengan indeks SDGs (tujuan pembangunan berkelanjutan) milik PBB. Namun demikian, indeks pembangunan berkelanjutan (SDI) yang dibangun oleh seorang peneliti bernama Jason Hickel ini, mengoreksi pembangunan manusia (IPM) dengan dampak ekologis lingkungan. Dampak ekologis lingkungan diukur melalui jumlah emisi karbon dan jejak material yang dihasilkan oleh sebuah negara. AS, meskipun tingkat pembangunan manusianya dan PDB-nya sangat tinggi, namun emisi karbon dan jejak material per kapita-nya sangat besar. Ini yang membuat skor efisiensi ekologis AS menjadi sangat rendah.
Evaluasi yang dilakukan terhadap indeks tersebut menunjukkan bahwa ternyata faktor yang menghambat pembangunan berkelanjutan AS diantaranya adalah globalisasi, jejak ekologis, dan ketidakpastian energi. Globalisasi sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi, merupakan sebuah upaya keterhubungan ekonomi global yang banyak berkontribusi bagi peningkatan PDB suatu negara, melalui perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat, serta transfer teknologi. Namun demikian, angka PDB pada umumnya banyak disumbang oleh tingkat konsumsi agregat suatu negara. Konsumsi ini juga menjadi aktor utama dalam peningkatan tekanan manusia terhadap lingkungan yang tercermin dalam jejak ekologis. Ini artinya konsumsi agregat yang relatif dominan menyumbang tingkat pertumbuhan ekonomi AS, di saat yang sama juga berkontribusi pada peningkatan jejak ekologis. Belum lagi ketidakpastian terkait energi menambah beban ekologis yang ditanggung oleh AS. Hal ini karena ketergantungan terhadap energi berbasis ekstraksi dan fosil masih sangat tinggi sehingga naik-turunnya energi kotor ini tercermin pada ketidakpastian energi tersebut. Oleh sebab itu, ketidakpastian energi di AS menjadi salah satu faktor penghambat pembangunan yang berkelanjutan.
Menariknya, ternyata ketidakpastian terkait ESG (atau disebut juga dengan ketidakpastian keberlanjutan) justru berdampak positif pada pembangunan berkelanjutan AS, yang mana hal ini bisa jadi mengisyaratkan bahwa ketidakpastian terkait ESG ini direspon oleh perusahaan-perusahaan pada pasar ESG dengan menaikkan nilai ESG dalam laporan sebagai upaya legitimasi untuk menahan turunnya kepercayaan masyarakat.
Faktor-faktor penghambat pembangunan berkelanjutan di AS, mengindikasikan bahwa globalisasi tidak selalu ramah lingkungan. Sedangkan, konsumsi yang boros dan berlebihan dapat menyumbang peningkatan tekanan lingkungan yang pada akhirnya menahan pembangunan berkelanjutan ini. Di samping itu, ketergantungan pada energi tidak terbarukan memiliki risiko besar yang bisa berdampak pada keberlanjutan lingkungan. Kemudian, jika ESG dikelola dengan benar semestinya bisa menjadi alat perubahan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
Untuk itu pemerintah AS perlu mengelola globalisasi secara berkelanjutan. Selain itu, upaya menurunkan jejak ekologis melalui efisiensi sumber daya dan teknologi bersih, dapat mendorong tingkat pembangunan berkelanjutan. Selanjutnya, diversifikasi energi dan penggunaan energi terbarukan perlu ditingkatkan. Pada akhirnya, sebagai penguatan, komitmen nyata dalam pelaksanaan ESG penting untuk dilakukan, sehingga bukan hanya sekadar formalitas belaka.
Jika tidak dikelola dengan tepat, faktor-faktor yang selama ini dianggap sebagai mesin pertumbuhan justru bisa menjadi penghambat keberlanjutan pembangunan.
Oleh: Denizar Abdurrahman Mi鈥檙aj
Dosen FEB Unair
Link:





