东京热

东京热 Official Website

Hasil Pascaoperasi Transposisi Saraf Masseterik versus Pencangkokan Saraf Lintas Wajah pada Reanimasi Wajah: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pemulihan fungsi wajah yang lumpuh bergantung pada beberapa faktor kunci, dengan waktu denervasi sebagai salah satu penentu yang paling penting. Denervasi yang berkepanjangan dikaitkan dengan kemungkinan lebih tinggi terjadinya kegagalan. Misalnya, pada pasien dengan kelumpuhan wajah jangka pendek (berkisar antara 3 bulan hingga 2 tahun), otot wajah tetap berfungsi, sehingga transposisi saraf menjadi pilihan yang menguntungkan. Sebaliknya, untuk kelumpuhan jangka panjang di mana otot wajah tidak lagi berfungsi, unit otot baru harus diperkenalkan untuk mengembalikan gerakan.

Bedah reanimasi wajah menawarkan berbagai pendekatan, dengan pilihan metode dipengaruhi oleh banyak faktor. Transposisi saraf masseterik (MNT) telah menjadi sumber saraf pilihan, sering dibandingkan dengan cangkok saraf lintas wajah (CFNG) karena keunggulannya masing-masing. Tinjauan sistematis dan meta-analisis ini bertujuan untuk membandingkan hasil pascaoperasi antara MNT dan CFNG dalam bedah reanimasi wajah untuk pasien dengan sekuela kelumpuhan saraf wajah.

Pencarian elektronik komprehensif dilakukan menggunakan basis data seperti PubMed/Medline, Scopus, ScienceDirect, EBSCO, Web of Science, dan Cochrane Library, bersama dengan sumber literatur abu-abu seperti Scopus Preprints dan MedRxiv. Analisis statistik dilakukan menggunakan ReviewManager versi 5.4.1, dengan kualitas studi yang disertakan dinilai menggunakan Skala Newcastle鈥揙ttawa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa MNT memberikan peningkatan yang signifikan secara statistik pada ekskursi komisura (CE; perbedaan rata-rata [MD] = 2,36 mm) dan kecepatan kontraksi komisura (CCV; MD = 7,01 mm/s) dibandingkan dengan CFNG. Selain itu, MNT memiliki persentase pemulihan yang lebih tinggi untuk CE (MD = 26,86%) dan CCV (MD = 13,00%). Hasil yang lebih baik juga dicatat untuk simetri senyum statis dan dinamis, kualitas hidup, dan kepuasan pasien.

Kesimpulannya, berbagai teknik rekonstruksi saraf wajah merupakan pilihan yang layak untuk reanimasi wajah, dengan mempertimbangkan keadaan pasien dan kondisi praoperasi masing-masing. Meta-analisis ini menyoroti keunggulan signifikan MNT dibandingkan prosedur CFNG. Peningkatan gerakan bibir dan fungsi senyum, yang diukur dengan parameter penting seperti CE, CCV, dan simetri statis dan dinamis, menunjukkan bahwa MNT adalah pendekatan yang sangat disukai untuk reanimasi wajah. Selain itu, hasil sekunder menunjukkan bahwa MNT dapat lebih bermanfaat bagi reanimasi wajah. Namun, data yang lebih komprehensif diperlukan untuk menganalisis hasil sekunder ini secara mendalam.

Penulis: Dr. Indri Lakhsmi Putri, dr., Sp.BP-RE.

Keywords  : facial nerve paralysis, facial reanimation, masseteric nerve transposition, cross-facial nerve graft, postoperative outcome

AKSES CEPAT