UNAIR NEWS 鈥 Komitmen 东京热 (UNAIR) dalam mendukung pembangunan berkelanjutan terus diwujudkan oleh para mahasiswanya melalui aksi nyata di dunia industri. Kali ini, tiga mahasiswa Program Studi , Fakultas Vokasi UNAIR, sukses mengintegrasikan ilmu kelistrikan dan kontrol dengan pilar Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Mereka adalah Nadya Farihah Rahmi, Nabilla Aulia Syahrani, dan Asyraf Risqullah Walfaizin. Melalui skema Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang juga terintegrasi dengan program Belajar Bersama Komunitas (BBK), ketiganya melakukan studi kasus mendalam di Departemen Maintenance Electric PT Salim Ivomas Pratama Tbk, sebuah perusahaan pengolahan berbasis kelapa sawit terintegrasi.
Menjaga Akurasi, Menekan Pemborosan Energi
Selama pelaksanaan PKL, fokus utama tim mahasiswa ini adalah memastikan keandalan sistem melalui proses tera, kalibrasi komprehensif, dan preventive maintenance. Salah satu studi kasus yang mereka tangani adalah mengatasi ketidakakuratan pembacaan sensor temperatur dan tekanan pada mesin produksi yang sempat memicu selisih data antara kondisi aktual lapangan dengan Human Machine Interface (HMI).
“Kami melihat preventive maintenance tidak hanya bertujuan menjaga alat tetap berfungsi, tetapi juga membantu perusahaan mengurangi pemborosan energi dan produk. Jika suhu proses stabil sesuai setpoint, penggunaan steam dan cooling water menjadi lebih efisien sehingga memakai energi dengan tidak berlebihan,” jelasnya.
Pengelolaan Limbah Elektrikal yang Bertanggung Jawab
Tidak hanya berfokus pada lini produksi, para mahasiswa ini juga mengamati bagaimana industri modern mengelola sisa operasionalnya. Terhadap komponen elektrikal yang rusak seperti sensor, kabel, atau transmitter, PT Salim Ivomas Pratama Tbk tidak langsung membuangnya secara sembarangan.
Komponen akan melalui proses pemisahan berdasarkan kondisi dan jenis materialnya. Komponen yang masih bisa diselamatkan diperbaiki kembali sebagai cadangan praktik troubleshooting. Sementara yang sudah rusak total dikumpulkan di area penyimpanan khusus sesuai regulasi lingkungan.
Kombinasi Teori Kampus dan Kerasnya Budaya Industri
Melalui kegiatan ini, pihak industri pun menyambut baik kehadiran mahasiswa Vokasi UNAIR. Salah satu pembimbing lapangan di PT Salim Ivomas Pratama Tbk menyatakan bahwa program ini menjadi jembatan yang sangat baik.
鈥淜egiatan PKL ini dapat membantu mahasiswa supaya lebih memahami bagaimana kondisi lapangan yang sebenarnya. Belajar bagaimana instrumen alat ukur tersebut bekerja secara nyata sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Tentunya, sesuai dengan aturan di perusahaan dan undang-undang yang berlaku,鈥 ujarnya.
Di sisi lain, tantangan terbesar bagi mahasiswa bukan hanya persoalan teknis, melainkan adaptasi terhadap budaya kerja. Di lapangan, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berlaku dengan sangat ketat. Sebelum teknisi melakukan perbaikan, mereka wajib melalui pengecekan kesehatan dan memastikan area kerja benar-benar aman.
“Kami diajarkan untuk datang tepat waktu, menggunakan APD lengkap, dan menjaga komunikasi intens dengan operator serta teknisi. Budaya kerja di industri membuat kami sadar bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup, perilaku profesional dan rasa tanggung jawab adalah kunci utama,” pungkasnya.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Ragil Kukuh Imanto





