Penguatan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) kini bergeser dari sekadar menurunkan angka kematian maternal menuju peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis (well-being) ibu sepanjang proses reproduksi. Salah satu tantangan dalam sistem pelayanan persalinan yang sering terabaikan adalah manajemen nyeri pada kala satu. Secara klinis, nyeri hebat yang tidak ditangani dengan baik, akan stres dan trauma psikologis mendalam yang mengancam kesehatan mental ibu. Dampak yang lebih besar adalah ketakutan terhadap nyeri, yang menjadi salah satu pemicu utama melonjaknya angka persalinan sesar (Sectio Caesarea) atas permintaan sendiri. Persalinan sesar atas permintaan sendiri menyentuh angka 22,36% yang disebabkan karena ibu tidak kuat terhadap rasa sakit akibat kontraski, takut terkaji robekan serta tidak percaya diri dan khawatir tidak kuat mengejan saat persalinan. Fenomena ini tidak hanya meningkatkan risiko morbiditas pascaoperasi, tetapi juga membebani sistem pembiayaan kesehatan masyarakat secara masif.
Bersasarkan hal tersebut, strategi penanganan KIA memerlukan pendekatan non-farmakologis yang humanis dan berorientasi pada keselamatan pasien (patient safety). Kompleksitas persalinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan intervensi obat-obatan yang berisiko memunculkan efek samping bagi ibu maupun janin. Salah satu inovasi yang potensial diintegrasikan dalam program kesehatan masyarakat adalah pemanfaatan peanut ball dalam posisi mengangkang (straddling positions). Intervensi ini sejalan dengan rekomendasi World Health Organization (WHO) mengenai pemenuhan asuhan persalinan yang positif dan berpusat pada perempuan (woman-centered care). Secara mekanis, penggunaan peanut ball membantu mempercepat kemajuan persalinan dengan memperlebar diameter panggul dan memfasilitasi rotasi janin. Ketika ketegangan fisik ibu berkurang, tubuh secara alami menstimulasi sekresi hormon endorfin (pereda nyeri alami). Penurunan intensitas nyeri ini dapat menjaga kesehatan mental ibu, meminimalkan kecemasan, serta mencegah risiko depresi pascamelahirkan (postpartum depression). Peanut ball bersifat non-invasif, berbiaya rendah, dan mudah diaplikasikan, inovasi ini mampu memangkas ketimpangan akses terhadap kenyamanan persalinan. Pemenuhan hak sehat dan sejahtera bagi ibu melahirkan dapat diwujudkan secara merata, bahkan di fasilitas pelayanan kesehatan primer dengan keterbatasan teknologi sekalipun.
Dilakukan penelitian tentang pengaruh pengguaan peanut ball pada ibu hamil. Ada 30 ibu hamil, dengan indikator nyeri tingkat berat (73,3%). Ibu hamil tersebut diberikan intervensi terstruktur menggunakan peanut ball selama 20 menit sebanyak dua sesi, diperoleh hasil ibu hamil dengan indikator nyeri tingkat berat turun menjadi 23,3%. Temuan ini menjunjukkan bahwa intervensi peanut ball sebagai metode kontak non-farmakologis yang sangat andal dan dapat direkomendasikan dalam standarisasi pelayanan kebidanan komunitas guna meminimalkan intervensi medis yang agresif.
Berbeda dengan bola senam biasa (gym ball) berbentuk bulat yang cenderung tidak stabil dan menuntut keseimbangan ekstra, desain peanut ball yang menyerupai kacang ini jauh lebih ergonomis, aman, dan nyaman. Stabilitas mekanis dari bentuk unik inilah yang secara signifikan mampu mengeliminasi kecemasan, rasa takut terjatuh, maupun risiko cedera pada ibu saat melakukan mobilisasi aktif di atas tempat tidur bersalin. Keunggulan ergonomis ini tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga membawa efek psikologis yang besar bagi ibu melahirkan. Kehadiran rasa aman yang bebas dari rasa takut jatuh secara psikososial mampu memotivasi dan memberdayakan (empowerment) ibu untuk lebih percaya diri. Dengan hilangnya rasa cemas terhadap keamanan dirinya, ibu dapat memegang kendali penuh atas manajemen kenyamanan tubuhnya sendiri (self-efficacy) dalam menghadapi setiap fase kontraksi persalinan.
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, dapat memperluas literasi kesehatan masyarakat mengenai pentingnya integrasi aspek fisik dan mental health dalam mewujudkan persalinan yang sejahtera (well-being). Dan diharapkan pada penelitian selanjutnya diperlukan analisis efektivitas biaya (cost-effectiveness analysis) serta studi implementasi kebijakan agar penggunaan peanut ball dapat diadopsi ke dalam standar operasional prosedur (SOP) pelayanan kesehatan maternal secara nasional.
Penulis : Mahmudah
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di
Fritria D. Anggraini*, Mahmudah, Nunik Puspitasari, , Nur Masruroh dan Nur Zuwariah. The effect of peanut ball in straddling positions on reducing labor pain: A quasi-experimental study. African Journal of Reproductive Health, Vol. 30 No. 9 (2026).
DOI:





