东京热

东京热 Official Website

Ketika Mata Bermasalah, Otak Ikut Terdampak: Peran CT Perfusi pada Neuritis Optik

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Gangguan penglihatan mendadak sering kali menimbulkan kekhawatiran karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup seseorang. Salah satu penyebabnya adalah neuritis optik, yaitu peradangan pada saraf optik yang menghubungkan mata dengan otak. Kondisi ini dapat menyebabkan penglihatan kabur, penurunan ketajaman visual, gangguan penglihatan warna, hingga kehilangan penglihatan sementara. Selama ini neuritis optik umumnya dipahami sebagai penyakit yang disebabkan oleh proses peradangan dan kerusakan lapisan mielin pada saraf optik. Namun, perkembangan ilmu kedokteran menunjukkan bahwa gangguan aliran darah juga mungkin berperan dalam proses terjadinya penyakit tersebut.

Kemampuan seseorang untuk melihat tidak hanya bergantung pada kondisi mata, tetapi juga pada jalur saraf yang menghubungkan mata dengan otak. Informasi visual yang diterima retina akan diteruskan melalui saraf optik menuju berbagai struktur di otak hingga akhirnya diproses di korteks visual yang berada di lobus oksipital. Oleh karena itu, kerusakan pada salah satu bagian jalur tersebut dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Selama bertahun-tahun, evaluasi neuritis optik lebih banyak dilakukan menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Optical Coherence Tomography (OCT). MRI membantu mendeteksi perubahan struktur saraf dan proses peradangan, sedangkan OCT digunakan untuk menilai kondisi lapisan saraf retina. Meskipun sangat bermanfaat, kedua pemeriksaan tersebut belum secara langsung menggambarkan kondisi aliran darah yang terjadi pada jalur penglihatan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Radiology and Nuclear Medicine tahun 2026 mencoba memberikan perspektif baru mengenai neuritis optik melalui penggunaan CT perfusi otak. Pemeriksaan CT perfusi merupakan teknik pencitraan yang dapat menilai kondisi hemodinamik atau aliran darah pada jaringan otak secara fungsional. Berbeda dengan CT biasa yang lebih berfokus pada struktur anatomi, CT perfusi mampu menunjukkan bagaimana darah mengalir ke berbagai bagian otak. Informasi tersebut diperoleh melalui sejumlah parameter, seperti cerebral blood flow (CBF), cerebral blood volume (CBV), mean transit time (MTT), dan Tmax yang menggambarkan karakteristik perfusi jaringan.

Penelitian tersebut melibatkan empat pasien dengan neuritis optik yang memiliki penyebab berbeda. Kasus pertama terjadi pada seorang perempuan berusia 49 tahun yang mengalami penglihatan kabur setelah menjalani terapi kanker payudara berupa operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Kasus kedua merupakan perempuan berusia 53 tahun yang mengalami kehilangan penglihatan mendadak akibat neuropati optik iskemik. Kasus ketiga adalah laki-laki berusia 39 tahun dengan infeksi HIV dan sifilis yang mengalami gangguan penglihatan pada kedua mata. Sementara itu, kasus keempat adalah laki-laki berusia 30 tahun dengan neuritis optik inflamasi yang lebih khas dan sering dijumpai dalam praktik klinis.

Meskipun penyebabnya berbeda, seluruh pasien menunjukkan pola yang menarik pada pemeriksaan CT perfusi. Para peneliti menemukan adanya penurunan aliran darah pada lobus oksipital, yaitu bagian otak yang berfungsi sebagai pusat pemrosesan visual. Pada beberapa pasien bahkan ditemukan gangguan perfusi yang melibatkan splenium korpus kalosum, struktur yang menghubungkan kedua belahan otak dan berperan penting dalam integrasi informasi visual. Temuan ini menunjukkan bahwa gangguan yang awalnya terjadi pada saraf optik ternyata dapat disertai perubahan fungsi sirkulasi darah pada area otak yang berhubungan dengan penglihatan.

Hasil penelitian tersebut mendukung teori bahwa neuritis optik mungkin tidak hanya disebabkan oleh proses peradangan semata. Penurunan aliran darah atau hipoperfusi dapat menjadi salah satu faktor yang turut berkontribusi terhadap kerusakan jalur penglihatan. Ketika aliran darah ke jaringan saraf berkurang, suplai oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan sel saraf juga menurun. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fungsi hingga kerusakan jaringan saraf yang lebih lanjut. Pada beberapa kasus, perubahan perfusi bahkan ditemukan pada area otak yang secara struktur tampak normal pada pemeriksaan konvensional.

Selain memberikan pemahaman baru mengenai mekanisme penyakit, CT perfusi juga berpotensi memberikan manfaat praktis dalam penanganan pasien. Pemeriksaan ini mampu memberikan informasi tambahan mengenai kondisi fungsional jaringan otak yang tidak dapat diperoleh melalui MRI maupun OCT. Dengan mengetahui adanya gangguan perfusi pada jalur penglihatan, dokter dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi pasien. Di samping itu, CT memiliki keunggulan berupa waktu pemeriksaan yang relatif singkat dan ketersediaan yang lebih luas dibandingkan MRI, terutama di fasilitas kesehatan yang belum memiliki teknologi pencitraan canggih.

Meski demikian, hasil penelitian ini masih harus ditafsirkan secara hati-hati. Jumlah kasus yang diteliti sangat terbatas dan masing-masing pasien memiliki penyebab neuritis optik yang berbeda. Kondisi tersebut membuat para peneliti belum dapat menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara pasti antara perubahan perfusi otak dan gangguan penglihatan yang dialami pasien. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar dan metode yang lebih terstandar untuk memastikan peran CT perfusi dalam diagnosis, pemantauan, maupun prediksi luaran klinis pada neuritis optik.

Penelitian ini memberikan pesan penting bahwa gangguan penglihatan tidak selalu berhenti pada mata. Saraf optik dan otak merupakan bagian dari satu sistem yang saling terhubung sehingga perubahan pada salah satu komponen dapat memengaruhi komponen lainnya. Melalui CT perfusi, para peneliti berhasil menunjukkan adanya perubahan aliran darah pada jalur penglihatan yang sebelumnya sulit diamati dengan pemeriksaan konvensional. Temuan ini membuka peluang baru dalam memahami neuritis optik serta mengembangkan pendekatan diagnostik yang lebih komprehensif di masa mendatang.

Penulis: Prof. Dr. Anggraini Dwi Sensusiati, dr., Sp.Rad., Subsp. NKL(K)

Link: 10.1186/s43055-026-01741-z  

AKSES CEPAT