Indonesia memasuki era digital dengan perkembangan teknologi yang terus meningkat. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, masih terdapat jurang digital yang cukup lebar antarprovinsi. Fakta menunjukkan bahwa perkembangan teknologi di suatu daerah ternyata tidak berdiri sendiri, tetapi dapat dipengaruhi oleh wilayah di sekitarnya dan kondisi demografi masyarakatnya.
Transformasi digital saat ini telah menjadi kebutuhan penting bagi pembangunan nasional. Kehadiran internet, telepon seluler, dan infrastruktur komunikasi tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian utama dalam aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik. Untuk mengukur perkembangan digital suatu wilayah, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK). Indeks ini menilai tingkat perkembangan teknologi berdasarkan akses infrastruktur, penggunaan teknologi, dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi.
Meski nilai IP-TIK Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, peningkatan tersebut belum merata. Provinsi seperti DKI Jakarta dan DI Yogyakarta konsisten memiliki nilai tinggi, sementara beberapa wilayah lain, khususnya di Indonesia bagian timur, masih tertinggal. Papua, misalnya, menjadi salah satu wilayah dengan skor IP-TIK terendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan digital Indonesia belum sepenuhnya inklusif.
Masalah ketimpangan digital sering kali dipahami hanya sebagai persoalan keterbatasan jaringan internet atau rendahnya kepemilikan perangkat komunikasi. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks. Setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda yang dapat memengaruhi perkembangan teknologi. Faktor seperti jumlah penduduk usia produktif, kepadatan penduduk, akses listrik, penggunaan internet, dan kepemilikan telepon seluler menjadi bagian dari ekosistem digital yang saling berkaitan.
Sebuah penelitian berjudul 鈥Comparative Study of Conventional and Spatial Panel Models in Analyzing the Information and Communication Technology Development Index鈥 mencoba melihat persoalan ini melalui pendekatan yang berbeda. Penelitian tersebut tidak hanya menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi IP-TIK, tetapi juga mempertimbangkan hubungan spasial antardaerah. Artinya, perkembangan teknologi di satu provinsi dapat memberikan dampak terhadap wilayah di sekitarnya.
Pendekatan spasial menjadi penting karena wilayah-wilayah di Indonesia tidak berkembang secara terisolasi. Aktivitas ekonomi, migrasi penduduk, pembangunan infrastruktur, dan penyebaran teknologi dapat menciptakan efek limpahan atau spillover effect. Ketika satu daerah mengalami peningkatan teknologi, wilayah di sekitarnya juga memiliki peluang untuk terdorong berkembang.
Penelitian tersebut membandingkan model panel konvensional dengan model spasial panel. Hasilnya menunjukkan bahwa model Spatial Autoregressive Fixed Effect (SAR-FE) menjadi model terbaik dengan kemampuan menjelaskan variasi IP-TIK hingga sekitar 98,47 persen. Hasil ini memperlihatkan bahwa memasukkan faktor hubungan spasial menghasilkan pemodelan yang jauh lebih akurat dibandingkan pendekatan biasa.
Temuan menarik lainnya adalah hanya variabel kepadatan penduduk yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap perkembangan IP-TIK. Daerah dengan kepadatan penduduk tinggi cenderung memiliki perkembangan teknologi yang lebih baik. Kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui efisiensi pembangunan infrastruktur. Penyedia layanan telekomunikasi cenderung lebih mudah dan lebih menguntungkan membangun jaringan di wilayah dengan konsentrasi penduduk tinggi dibandingkan daerah yang penduduknya tersebar.
Fenomena ini dapat dilihat di beberapa wilayah seperti Sulawesi Tenggara yang menunjukkan dampak positif cukup besar terhadap perkembangan teknologi. Sebaliknya, daerah seperti Bangka Belitung menghadapi tantangan tersendiri karena kondisi geografis dan distribusi penduduk yang lebih tersebar.
Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan kuat antardaerah. Ketika suatu provinsi mengalami peningkatan IP-TIK, provinsi di sekitarnya berpotensi ikut berkembang. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembangunan digital tidak cukup dilakukan secara parsial, tetapi memerlukan pendekatan regional yang saling terhubung.
Pembangunan teknologi di Indonesia tidak hanya dipengaruhi faktor internal suatu daerah, tetapi juga dipengaruhi karakteristik wilayah sekitarnya. Kepadatan penduduk terbukti menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan digital. Oleh karena itu, kebijakan pemerataan teknologi perlu disusun secara spesifik sesuai karakter daerah. Wilayah padat penduduk dapat dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan digital, sedangkan wilayah dengan hambatan geografis membutuhkan intervensi infrastruktur yang lebih terarah. Dengan strategi tersebut, pemerataan transformasi digital dapat menjadi jalan untuk mengurangi kesenjangan antardaerah dan mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif.
Ditulis oleh: Toha Saifudin
Informasi artikel Scopus yang dijadikan dasar opini:
Saifudin, T., Marthabakti, C., and Wieldyanisa, E.E.Comparative Study of Conventional and Spatial Panel Models in Analyzing the Information and Communication Technology Development Index, Stat., Optim. Inf. Comput., 15, 3539-3554, May 2026.
Link artikel:





