东京热

东京热 Official Website

Kesehatan Mental Remaja Mengkhawatirkan, Psikolog UNAIR Dorong Transformasi Well Being di Sekolah

Dr Wiwin Hendriani SPsi MSi Saat Menjadi Narasumber dalam Psychological Talk Series. (Foto: Istimewa)
Dr Wiwin Hendriani SPsi MSi Saat Menjadi Narasumber dalam Psychological Talk Series. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Masalah kesehatan mental pada remaja bukan lagi isu pinggiran, melainkan fondasi krusial yang menuntut perhatian serius dari seluruh elemen pendidikan saat ini. Di Asia Tenggara, tantangan tersebut semakin kompleks dengan adanya stigma tinggi, keterbatasan akses layanan, hingga maraknya kasus perundungan (bullying). Merespons realitas tersebut, (FPsi) 东京热 (UNAIR) menggelar Psychological Talk Series 2 pada Kamis (7/5/2026).

Hadir sebagai narasumber, Dr Wiwin Hendriani SPsi MSi, pakar psikologi sekaligus Ketua Program Studi Magister Psikologi UNAIR. Dalam sesi bertajuk From Fragmented Efforts to Sustainable Wellbeing: Urgency and Realities in South-East Asian Schools yang digelar secara daring via Zoom, ia membedah tuntas tentang gagalnya program kesejahteraan (well being) di sekolah yang memberikan dampak jangka panjang. 

Dalam paparannya, Dr. Wiwin mengungkapkan data mengkhawatirkan di mana 1 dari 7 remaja secara global mengalami gangguan mental, dan kawasan Asia Pasifik menampung 60 persen dari populasi remaja dunia tersebut. Bahkan, bunuh diri menjadi salah satu penyebab utama kematian remaja di peringkat 3 hingga 5 besar secara global.

鈥淜esejahteraan dalam pendidikan bukanlah isu sampingan, ini adalah isu sentral. Di Asia Tenggara, kita menghadapi tantangan besar bukan hanya soal prevalensi, tetapi juga soal visibilitas dan akses. Masih banyak stigma yang membuat perilaku mencari bantuan (help-seeking behavior) sangat rendah,鈥 jelasnya.

Dr. Wiwin menyoroti bahwa akar masalah di banyak sekolah bukanlah kurangnya program, melainkan kesalahan dalam desain implementasinya. Sering kali, wellbeing hanya diperlakukan sebagai program tambahan (add-on), bersifat jangka pendek, dan sangat bergantung pada individu tertentu (guru atau penggerak tertentu) tanpa tertanam dalam rutinitas harian sekolah.

Kondisi ini menyebabkan adanya celah kritis antara kesadaran akan kesejahteraan dengan praktik kesejahteraan yang berkelanjutan. 鈥淜ita harus berhenti berpikir dalam kerangka intervensi yang terisolasi dan mulai berpikir dalam kerangka ekosistem. Jika kita ingin inisiatif kesejahteraan ini bertahan lama, pendekatannya harus terintegrasi di semua level, mulai dari ruang kelas hingga kebijakan sekolah,鈥 tambahnya. 

Sebagai solusi, Dr. Wiwin mendorong sekolah-sekolah untuk membangun pendekatan yang terukur, dapat beradaptasi, dan responsif terhadap konteks lokal. Menurutnya, kesuksesan berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui sinergi antara kualitas program, etika, dan konsistensi dalam praktik sehari-hari. Workshop tersebut harapannya dapat menjadi pemantik bagi para pendidik dan pemangku kebijakan untuk mulai merancang sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi tempat yang aman dan mendukung tumbuh kembang mental siswa secara utuh.聽

Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT