东京热

东京热 Official Website

Jembatani Industri dan Akademisi, ASBIF Dorong Inovasi Berkelanjutan di Era AI

Prof Dr Iman Harymawan SE MBA PhD saat menyampaikan sambutan dalam Asia-Pacific Sustainable Business and Innovation Forum 2026 (Foto: Dok. Panitia)

UNAIR NEWS 鈥 Isu keberlanjutan dan perkembangan artificial intelligence (AI) kini menjadi perhatian utama berbagai sektor di dunia. Menjawab tantangan tersebut, Center for Environmental, Social, and Governance Studies () bersama Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis () 东京热 (UNAIR) menggelar Asia-Pacific Sustainable Business and Innovation Forum () pada Senin (22/6/2026) di Hall Majapahit, lt 5, Gedung ASEEC, Kampus Dharmawangsa-B.

Forum tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan. Mulai dari praktisi industri, mahasiswa, hingga akademisi dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik. Melalui tema The Nexus of Business Sustainability, Innovation, and AI, ASBIF 2026 menjadi ruang dialog untuk membahas berbagai tantangan dan peluang dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di era transformasi digital.

Dalam sambutannya, Conference Chair sekaligus CEO CESGS UNAIR, Prof Dr Iman Harymawan SE MBA PhD menegaskan bahwa ASBIF mengangkat isu keberlanjutan dan AI sebagai dua aspek yang saling berkaitan. Menurutnya, perkembangan AI menghadirkan berbagai peluang untuk meningkatkan efisiensi di berbagai sektor. Namun masyarakat juga perlu menggunakannya secara bijak.

鈥淪aat ini AI telah dimanfaatkan di berbagai sektor untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat berbagai proses kerja. Namun, kita juga perlu memastikan bahwa perkembangan teknologi tersebut dapat berjalan seiring dengan upaya mewujudkan keberlanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas,鈥 ujarnya.

Prof Imam narasumber dan peserta ASBIF 2026 pada Senin (22/6/2026) di Hall Majapahit, Gedung ASEEC lantai lima, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR (Foto: Dok. Panitia)

Prof Iman menambahkan bahwa visi utama forum tersebut adalah connecting people and connecting ideas. Melalui visi tersebut, CESGS berupaya menjadikan ASBIF sebagai pusat kolaborasi bisnis berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik dengan menggandeng berbagai universitas dan mitra internasional dari Australia, Taiwan, Hong Kong, hingga Malaysia. 

Prof Iman menuturkan bahwa forum ini juga membuka ruang dialog antara akademisi dan pelaku industri. Menurutnya, dunia akademik perlu memahami berbagai tantangan nyata di sektor industri agar mampu menghasilkan riset yang relevan dan aplikatif. 鈥淜ami ingin mendengar langsung kebutuhan industri, kemudian mengembangkannya menjadi riset yang dapat menghasilkan solusi nyata. Inovasi lahir dari kolaborasi antara akademisi dan industri,鈥 jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam mencapai target keberlanjutan dan net zero emission pada 2060. Menurutnya, sejumlah kesenjangan masih perlu diisi agar target tersebut dapat tercapai secara nyata. Karena itu, ASBIF hadir sebagai wadah untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan solusi dan mempercepat agenda keberlanjutan.

Prof Iman berharap kolaborasi lintas sektor dapat semakin kuat. 鈥淎kademisi memiliki peran sebagai enabler yang mampu bergerak bersama pemerintah, industri, dan masyarakat untuk mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan,鈥 pungkasnya.

Penulis: Maia Chaerunnisa

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT