Di era digital saat ini, hampir tidak ada remaja yang bisa lepas dari gadget. Dari belajar, bersosialisasi, hingga hiburan鈥攕emuanya terhubung melalui layar. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah penggunaan gadget yang tinggi berdampak pada kesehatan remaja, terutama kesehatan emosional dan reproduksi?
Sebuah penelitian yang dilakukan pada remaja putri di Surabaya mencoba mengungkap hal ini. Studi ini melibatkan 90 siswi SMA berusia 15鈥17 tahun dari beberapa sekolah dan meneliti hubungan antara intensitas penggunaan gadget, kondisi emosional, serta pola siklus menstruasi mereka .
Hasilnya cukup menarik. Sebagian besar remaja dalam penelitian ini menggunakan gadget selama 4 hingga 8 jam per hari (55,6%), bahkan hampir sepertiga lainnya menggunakan lebih dari 8 jam setiap harinya. Ini menunjukkan bahwa paparan gadget pada remaja memang sangat tinggi. Dari sisi kesehatan emosional, lebih dari separuh responden (56,7%) teridentifikasi memiliki risiko masalah emosional. Masalah ini paling banyak muncul dalam bentuk gejala internalisasi, seperti kecemasan atau perasaan tertekan, meskipun ada juga yang mengalami gangguan perhatian .
Sementara itu, dari aspek kesehatan reproduksi, sekitar 57,8% remaja mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur dalam tiga bulan terakhir. Namun, apakah semua ini saling berkaitan? Ternyata, tidak sepenuhnya.
Penelitian ini menemukan bahwa intensitas penggunaan gadget tidak berhubungan secara signifikan dengan masalah emosional secara keseluruhan maupun pola siklus menstruasi. Artinya, penggunaan gadget yang lama tidak secara langsung menyebabkan gangguan emosi secara umum ataupun menstruasi yang tidak teratur.
Namun, ada satu temuan penting yang tidak boleh diabaikan. Penggunaan gadget yang tinggi ternyata berkaitan dengan gangguan pada aspek perhatian (attention), salah satu subdomain dari fungsi emosional. Remaja yang lebih sering menggunakan gadget cenderung mengalami kesulitan fokus, mudah terdistraksi, atau sulit mempertahankan perhatian.
Fenomena ini dapat dijelaskan dari cara kerja gadget itu sendiri. Paparan konten digital yang cepat, multitasking, serta perpindahan perhatian yang terus-menerus dapat 鈥渕elatih鈥 otak untuk terbiasa dengan distraksi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kemampuan konsentrasi, terutama dalam aktivitas belajar. Di sisi lain, tidak ditemukannya hubungan antara gadget dan siklus menstruasi menunjukkan bahwa kesehatan reproduksi remaja dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti stres, pola tidur, aktivitas fisik, dan status gizi. Gadget mungkin berperan secara tidak langsung, tetapi bukan faktor utama yang berdiri sendiri.
Temuan ini memberikan pesan penting: membatasi penggunaan gadget saja tidak cukup. Pendekatan yang lebih efektif adalah membantu remaja membangun kebiasaan digital yang sehat, termasuk kemampuan mengatur perhatian dan menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan offline. Bagi tenaga kesehatan, pendidik, dan orang tua, hasil ini menjadi dasar bahwa intervensi pada remaja sebaiknya tidak hanya berfokus pada durasi penggunaan gadget, tetapi juga pada kualitas penggunaan dan dampaknya terhadap fungsi kognitif, khususnya perhatian.
Pada akhirnya, gadget bukanlah musuh鈥攖etapi bagaimana remaja menggunakannya akan sangat menentukan dampaknya terhadap kesehatan mereka.
Penulis: Amelya Binti Mufarokhah, Astika Gita Ningrum, Azimatul Karimah
Untuk informasi lebih lanjut bisa diakses melalui link berikut: DOI:听





