Membangun karier di dunia kepolisian seringkali identik dengan latar belakang hukum atau ilmu kepolisian murni. Namun, Kompol M. Hariagung Julianto, seorang perwira polisi yang akrab disapa Pak Injun, membuktikan hal berbeda. Alumni Fakultas Psikologi ¶«¾©ÈÈ (UNAIR) angkatan 1994 ini sukses mengemban amanah strategis sebagai Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) di Polres Metro Jakarta Timur dengan mengandalkan pendekatan psikologi dalam memimpin, mengayomi, dan menyelesaikan berbagai problem sosial di masyarakat.
Sebagai pejabat operasional, Pak Injun berhasil melahirkan berbagai inovasi berdampak luas. Salah satu capaian monumentalnya terjadi saat menjabat sebagai Kapolsek di tengah situasi kritis pandemi COVID-19. Dituntut menurunkan angka penyebaran virus di wilayahnya yang berstatus zona merah, ia menerapkan teori psikologi sosial untuk membangun sense of belonging (rasa memiliki) antar warga. Langkahnya menggerakkan puskesmas dan meyakinkan masyarakat agar saling menyuplai kebutuhan logistik keluarga yang isolasi mandiri berhasil mengubah status wilayah menjadi zona hijau. Langkah taktis berbasis psikologi ini bahkan ditiru oleh polsek-polsek lain di sekitarnya.
Selain penanganan pandemi, perwira angkatan 1994 ini juga merancang inovasi teknologi preventif bernama aplikasi SIPAGI (Sistem Informasi Patroli Digital) untuk menekan angka kriminalitas. Aplikasi ini memastikan kehadiran personel kepolisian di lapangan secara real-time melalui pemantauan digital terintegrasi. Berkat efektivitasnya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), inovasi SIPAGI ini mendapatkan apresiasi langsung dari Walikota setempat.
Jauh sebelum memegang komando di bidang operasional pada tahun 2015, perjalanan karier Pak Injun di Korps Bhayangkara dimulai sejak kelulusannya. Ia mendaftar di kepolisian pada tahun 2001 dan resmi dilantik menjadi anggota Polri pada tahun 2002. Karena latar belakang keilmuannya yang unik, ia langsung direkrut untuk merintis berdirinya Biro Psikologi di kepolisian. Dedikasinya berlanjut saat dimutasi ke Polda Metro Jaya (2003–2009) di bagian psikologi untuk mengurus rekrutmen, seleksi, layanan konseling, hingga pemeriksaan psikologis forensik terhadap tersangka maupun korban tindak pidana.
Berbagai capaian strategis tersebut diakui Pak Injun tidak lepas dari proses penempaan tangguh yang ia lalui semasa berkuliah di UNAIR. Bagi Pak Injun, dinamika akademik mengajarkannya tentang arti resiliensi yang sesungguhnya di dunia nyata.
Kiprah pengabdian nyata Kompol M. Hariagung Julianto ini secara langsung merefleksikan kontribusi alumni UNAIR terhadap pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusi tersebut khususnya berdampak pada SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui inovasi kamtibmas dan penegakan hukum humanis, serta SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui taktik pengelolaan psikologi massa saat krisis kesehatan global.
Menutup penuturannya, Pak Injun menitipkan pesan penting bagi seluruh civitas akademika dan alumni Kampus Dharmawangsa untuk terus memperluas jaringan dan merawat persaudaraan tanpa batas. “Perbanyak relasi. Untuk alumni, mari terus jaga persaudaraan sesama Psikologi UNAIR. Sakduluran saklawase (bersaudara selamanya),” pungkasnya.





