Kanker payudara merupakan salah satu penyakit kronis yang tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga menimbulkan beban psikologis, sosial, dan emosional bagi keluarga, khususnya caregiver yang mendampingi selama proses kemoterapi. Caregiver sering menghadapi stres berkepanjangan, kelelahan emosional, serta kesulitan dalam beradaptasi dengan peran baru sebagai pendukung utama pasien. Dalam konteks ini, konsep family resilience atau ketangguhan keluarga menjadi sangat penting, karena mencerminkan kemampuan keluarga untuk bangkit dari tekanan, beradaptasi dengan tantangan, serta menjaga stabilitas emosional. Penelitian ini berfokus pada intervensi dukungan keluarga berbasis keyakinan yang mengintegrasikan Health Belief Model (HBM) dengan prinsip ketangguhan keluarga, sehingga diharapkan mampu memperkuat sistem keyakinan, pola organisasi, dan komunikasi keluarga dalam menghadapi beban kemoterapi.
Intervensi dilakukan melalui program dukungan keluarga berbasis keyakinan selama 12 minggu dengan empat modul terstruktur, yaitu: (1) dukungan keluarga berorientasi keyakinan, (2) edukasi tentang kanker dan kemoterapi, (3) strategi coping dan adaptasi peran, serta (4) komunikasi dan refleksi keluarga. Program ini dilaksanakan dengan pendekatan blended learning yang menggabungkan pertemuan tatap muka dan tindak lanjut secara daring, sehingga lebih fleksibel dan dapat menjangkau keluarga dengan berbagai kondisi. Ketangguhan keluarga diukur menggunakan Family Resilience Assessment Scale (FRAS) yang telah tervalidasi. Analisis data dilakukan dengan uji t berpasangan dan independen, dengan tingkat signifikansi p < 0.05, untuk membandingkan skor ketangguhan keluarga sebelum dan sesudah intervensi, serta antara kelompok intervensi dan kontrol.
Setelah 12 minggu, kelompok intervensi menunjukkan peningkatan signifikan pada skor total ketangguhan keluarga (pretest: 85,42 卤 9,87; posttest: 105,35 卤 8,76; p < 0,001), sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami perubahan berarti (p = 0,214). Peningkatan terjadi pada semua domain FRAS, termasuk sistem keyakinan, pola organisasi, dan proses komunikasi (p < 0,001). Perbandingan antar kelompok juga menegaskan adanya perbedaan signifikan yang menguntungkan kelompok intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi sistem keyakinan, komunikasi keluarga, dan adaptasi peran dalam intervensi keperawatan mampu meningkatkan ketangguhan keluarga secara menyeluruh. Dengan demikian, intervensi berbasis keyakinan dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat ketahanan psikososial caregiver pasien kanker payudara, sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga dalam menghadapi tantangan kemoterapi.
Artikel ini merujuk pada penelitian dengan judul 鈥淏elief-based family support intervention to strengthen family resilience among breast cancer caregivers: A quasi-experimental study in Indonesia鈥





