Kontaminasi mikotoksin pada pakan unggas merupakan tantangan yang terus-menerus terjadi dalam industri unggas global. Metabolit sekunder beracun ini, yang diproduksi oleh berbagai spesies jamur, secara kimia stabil dan tahan terhadap degradasi, sehingga menyebabkan kontaminasi bahan pakan secara luas. Di antara banyak mikotoksin yang memiliki signifikansi ekonomi dan toksikologi, alflatoksin dan okratoksin sangat umum dan berbahaya. Konsumsi mikotoksin oleh unggas dapat memengaruhi homeostasis seluler dan mengganggu jalur sintesis makromolekul penting. Oleh karena itu, strategi untuk mengurangi paparan mikotoksin merupakan isu penting, dengan penambahan agen pendetoksifikasi mikotoksin dalam pakan merupakan pendekatan yang banyak diadopsi dan efektif.
Konsekuensi kritis dari paparan mikotoksin adalah imunosupresi yang mendalam, yang sangat mengganggu efektivitas program vaksinasi. Flu Burung (AI) tetap menjadi penyakit endemik yang menjadi perhatian signifikan di banyak negara penghasil unggas, termasuk Indonesia, sejak kemunculannya pada tahun 2003. Meskipun vaksinasi merupakan landasan pencegahan dan pengendalian AI, keberhasilannya sering kali terganggu oleh faktor-faktor yang merusak respons imun inang. Mikotoksin memberikan efek imunosupresif yang bergantung pada dosis dan durasi, meningkatkan kerentanan terhadap penyakit menular dan menyebabkan kegagalan vaksinasi, bahkan pada tingkat paparan kronis yang rendah. Fenomena ini menimbulkan beban ekonomi yang besar bagi peternak dan mengancam kesehatan unggas.
Signifikansi penelitian ini adalah bahwa hewan juga divaksinasi sebagai tindakan pencegahan penyakit, terutama terhadap penyakit yang paling umum menyerang ayam broiler, yaitu influenza unggas (AI). Sejak laporan kasus pertama pada tahun 2003, AI dianggap endemik di Cina, Bangladesh, India Timur Laut, india, Vietnam, dan Mesir. AI clade 2.3.2 telah dianggap endemik sejak tahun 2012. Infeksi dengan clade 2.3.2 pada unggas air jarang menyebabkan gejala klinis, tetapi pada unggas darat dapat menyebabkan gejala klinis yang parah. Efek imunosupresi yang disebabkan oleh mikotoksin memengaruhi antibodi yang seharusnya terbentuk setelah vaksinasi AI. Konsekuensi dari mengonsumsi pakan yang terkontaminasi mikotoksin adalah peningkatan kerentanan terhadap penyakit menular, reaktivasi infeksi kronis, dan penurunan efektivitas vaksinasi. Masalah kegagalan vaksinasi sering dilaporkan oleh petani. Paparan mikotoksin dapat mengakibatkan efek imunosupresif tergantung pada dosis dan durasi paparan. Imunitas akan terpengaruh ketika terus menerus terpapar mikotoksin meskipun kadarnya masih relatif rendah.
Tujuan dari penelitian ini telah terbukti yaitu untuk menentukan beberapa strategi dalam upaya mencegah kontaminasi mikotoksin pada pakan, namun mikotoksin yang telah mencemari pakan ternak tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, maka salah satu upaya adalah dengan penyediaan detoksifikasi mikotoksin sebagai aditif pakan. Detoksifikasi mikotoksin dibagi menjadi 2 kategori, yaitu pengikat mikotoksin sebagai agen adsorpsi dan pengubah mikotoksin yang bekerja sebagai agen biotransformasi. Pengikat toksin mulai banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan dari segi keamanan, mudah dicampur dengan pakan, dan tidak memerlukan biaya besar [20]. Bahan yang berperan dalam mendetoksifikasi mikotoksin dibagi menjadi 2 jenis, yaitu organik (dinding sel ragi, arang aktif, kolestiramin) dan anorganik (HSCAS, zeolit, bentonit).
Penulis: Erma Safitri*, Tita Damayanti Lestari, Suzanita Utama, Sri Pantja Madyawati, Boedi Setiawan, Rochmah Kurnijasanti, Djoko Legowo, Rifdah Aurora, Daryn Arizjinan Febrianti, Anti Febri Hidayani, Siti Darodjah, Goo Jang and Mitsuhiro Takagi.
Detail tulisan ini dapat dilihat di: Synergistic bentonite and Trichosporon mycotoxinivorans detoxifier restores humoral immunity to avian influenza vaccination and prevents histopathological lesions in mycotoxin exposed broiler.





