Salah satu metode yang paling penting dalam bidang forensik adalah Polymerase Chain Reaction (PCR). Dalam investigasi kriminal, PCR sering digunakan untuk mengidentifikasi asal-usul sampel biologis seperti darah, rambut, atau jaringan tubuh. Namun, metode PCR konvensional memerlukan proses ekstraksi DNA terlebih dahulu. Tahapan ini membutuhkan waktu, biaya, dan bahan tambahan yang cukup besar.
Perkembangan terbaru menghadirkan metode direct PCR, yaitu teknik PCR tanpa proses ekstraksi DNA. Sampel biologis dapat langsung digunakan sebagai template PCR setelah mendapatkan perlakuan tertentu. Metode ini dinilai lebih cepat, sederhana, dan efisien sehingga sangat potensial diterapkan dalam analisis forensik modern.
Penelitian yang dilakukan oleh tim bertujuan mengoptimalkan perlakuan awal pada bercak darah manusia sebelum dilakukan direct PCR. Penelitian ini juga menguji kemampuan metode tersebut dalam mendeteksi darah manusia yang telah disimpan selama beberapa hari.
Sampel darah manusia dipanaskan pada suhu 60掳C dan 90掳C selama 10 menit. Pemanasan dilakukan untuk merusak membran sel sehingga DNA dapat keluar dan digunakan langsung dalam proses PCR. Setelah perlakuan tersebut, sampel digunakan untuk amplifikasi gen cytochrome b, yaitu gen pada DNA mitokondria yang dikenal mampu membedakan darah manusia dari darah hewan. Gen cytochrome b dipilih karena memiliki variasi tinggi antarspesies, tetapi relatif stabil dalam satu spesies.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanasan pada suhu 60掳C maupun 90掳C selama 10 menit berhasil menghasilkan amplifikasi DNA yang baik. Artinya, kedua perlakuan tersebut efektif digunakan sebagai tahap awal direct PCR tanpa perlu ekstraksi DNA. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa bercak darah manusia yang disimpan hingga 30 hari masih dapat dianalisis menggunakan metode direct PCR.
Hasil tersebut memiliki nilai penting dalam bidang forensik. Pada banyak kasus kriminal, bercak darah sering ditemukan beberapa hari setelah kejadian berlangsung. Kondisi lingkungan seperti panas, kelembapan, sinar matahari, dan mikroorganisme dapat mempercepat degradasi DNA. Meskipun demikian, penelitian ini membuktikan bahwa DNA pada bercak darah masih dapat dideteksi dengan baik hingga satu bulan penyimpanan.
Selain mempercepat proses analisis, direct PCR juga dapat mengurangi biaya pemeriksaan laboratorium karena tidak membutuhkan kit ekstraksi DNA khusus. Hal ini menjadi keuntungan besar, terutama bagi laboratorium forensik dengan jumlah sampel yang tinggi atau keterbatasan sumber daya.
Metode ini juga bermanfaat untuk membedakan darah manusia dan darah hewan pada lokasi kejadian perkara. Dalam beberapa kasus, darah hewan peliharaan dapat tercampur dengan darah manusia sehingga menimbulkan kesalahan interpretasi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa direct PCR merupakan metode yang cepat, efisien, dan ekonomis untuk identifikasi darah manusia dalam investigasi forensik. Pengembangan direct PCR dapat meningkatkan efektivitas penegakan hukum berbasis bukti ilmiah, terutama dalam proses identifikasi biologis di tempat kejadian perkara.
Penulis: Dr. Wimbuh Tri Widodo, S.Si., M.Si.
Jika Anda tertarik, silahkan membaca selengkapnya dalam artikel ilmiah yang berjudul 鈥淥ptimization of Pre-treatment Conditions for Direct PCR Analysis of Human Bloodstains at Various Storage Durations鈥
Artikel tersebut dapat diunduh pada link berikut :





