东京热

东京热 Official Website

Detektif Virus di Balik Kelelawar Langka Australia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian kita: dari sekitar enam ribu jenis mamalia di dunia, hanya satu kelompok yang benar-benar bisa terbang. Bukan tupai terbang, yang sesungguhnya hanya melayang. Bukan pula sugar glider. Hanya kelelawar. Sayapnya bukan bulu, melainkan selaput kulit tipis yang membentang di antara jari-jari yang memanjang luar biasa secara anatomis, kelelawar terbang dengan tangannya. Hingga hari ini kelelawar merupakan salah satu komponen pembentuk kingdom mamalia terbesar dengan hampir seperlima dari seluruh spesies mamalia yang pernah ada.

Keistimewaan mereka tak berhenti di situ. Dalam dunia mamalia, ada aturan kasar yang hampir selalu berlaku: makin kecil tubuh, makin pendek umur. Seekor tikus hidup dua atau tiga tahun. Namun aturan ini seolah terkecualikan untuk kelelawar. Kelelawar dengan ukuran tubuh seperti tikus mampu bertahan hidup lima belas kali lebih lama. Beberapa jenis kelelawar bertubuh sebesar ibu jari tercatat hidup lebih dari tiga puluh tahun, usia yang bila diukur terhadap ukuran tubuhnya, membuat mereka termasuk mamalia berumur paling panjang di muka bumi. Para ilmuwan masih berusaha memahami rahasianya: kemampuan memperbaiki kerusakan DNA, cara menekan respon inflamasi, dan mekanisme lainnya yang tampaknya juga membuat mereka jarang menunjukkan gejala penyakit maupun kanker.

Sayangnya, banyak anggapan bahwa kelelawar merupakan hama dan pantas untuk dibasmi, padahal kenyataanya sebaliknya. Kelelawar pemakan serangga melahap ribuan nyamuk dan hama pertanian setiap malam. Kelelawar pemakan buah dan nektar membantu penyerbukan tanaman dengan sangat efisien dari pada burung dan lebah karena jangkauan area yang lebih luas. Durian salah satunya, yang di banyak tempat sangat bergantung pada peran kelelawar pada penyerbukan di malam hari. Berbeda dengan kerabatnya yang berburu serangga dengan ekolokasi, kelelawar buah mengandalkan mata besar yang jernih dan penciuman yang tajam untuk menemukan pohon berbunga dan buah di kegelapan.

Salah satu dari mereka hidup di sudut kecil dunia yang keberadaanya tak tergantikan di bawah kanopi hutan hujan Far North Queensland. Saat senja tiba ratusan kelelawar buah mulai terbang mencari makan, kelelawar tersebut adalah spectacled flying fox (Pteropus conspicillatus), kelelawar bermuka “berkacamata” yang hanya ditemukan di kawasan Wet Tropics World Heritage Area, salah satu hutan hujan tropis tertua yang masih bertahan di planet ini. Mereka bukanlah sekedar penghuni hutan, namun juga merupakan arsitek yang menjaga dan melestarikan hutan. Sambil terbang puluhan kilometer setiap malam, mereka memindahkan serbuk sari dan menjatuhkan biji jauh dari pohon induknya, hal ini tidak bisa dilakukan angin dan jarang dilakukan hewan lain yang dapat terbang sejauh kelelawar. Hutan hujan yang kita anggap abadi sesungguhnya diremajakan setiap malam oleh sayap-sayap ini.

Ironisnya jumlah mereka anjlok hampir 75 persen dalam dua dekade terakhir. Pada November 2018, satu gelombang panas ekstrem menewaskan sekitar 23.000 individu, hampir sepertiga dari sisa populasi, hanya dalam hitungan hari. Kini spesies ini berstatus terancam punah (endangered oleh IUCN red list). Di tengah ancaman panas, hilangnya habitat, dan berbagai tekanan lain, ada satu pertanyaan yang nyaris tak pernah ditanyakan: apa peran infeksi virus dalam nasib spesies ini?

Pertanyaan itulah yang membawa kami pada Flying fox retrovirus (FFRV), virus yang baru teridentifikasi pada kelelawar jenis Pteropus di Australia. Retrovirus yang pada spesies mamalia lain seperti punya trik Istimewa yang tidak dimiliki oleh jenis virus lainnya.Virus ini mampu menyisipkan materi genetiknya ke dalam DNA inang, lalu bersembunyi di sana, kadang sampai bertahun-tahun. Beberapa jenis retrovirus mampu menekan respon imun inangnya yang sejalan dengan kemampuan kelelawar untuk hidup berdampingan dengan berbagai virus yang membuat mamalia lain jatuh sakit seperti Hendra, Nipah, Ebola, dan SARS, dan kita belum sepenuhnya paham bagaimana caranya kelelawar tidak terkena penyakit meskipun terinfeksi virus mematikan. Dan inilah yang menjadi awal dari penelitian kami.

Kami meneliti 100 ekor kelelawar liar yang dibawa ke pusat rehabilitasi satwa setempat di rumah sakit kelelawar. Sebagian besar dari mereka datang karena paralisa akibat gigitan caplak yang mampu melumpuhkan system saraf, hal yang sama sering terjadi pada anjing di musim panas Australia. Dari setiap individu, saya memeriksa empat jaringan: darah, limpa, hati, dan kelenjar getah bening. Dengan teknik molekuler yang sangat sensitif (probe-based qPCR), saya mengidentifikasi dua materi dalam dua metode identifikasi: DNA virus yang sudah menyisip ke dalam genom kelelawar, dan RNA virus yang menandakan adanya transkripsi aktif dari virus tersebut. Setiap hasil positif divalidasi ulang lewat konvensional PCR dan sekuensing, agar kami yakin bahwa yang kami temukan benar-benar FFRV dan bukan yang lainnya. Sekitar 22 persen kelelawar terdeteksi dan terkonfirmasi membawa DNA virus ini, paling sering di kelenjar getah bening dan limpa yang erat berkaitan dengan sistem kekebalan. Inilah peta pertama tentang dimana FFRV menetap di dalam tubuh inangnya.

Temuan kedua yaitu mengenai faktor inang yang terlibat dalam infeksi, kami menganalisa secara statistik beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, dan skor kondisi tubuh. Kami menemukan bahwa jenis kelamin merupakan factor predisposisi infeksi dimana kelelawar jantan lebih rentan akan infeksi ini dibandingkan kelelawar betina. Hal ini dimungkinkan karena peran sosial yang berpengaruh, kelelawar jantan sering terlibat perkelahian untuk mempertahankan teritorinya dan juga perebutan saat musim kawin. Sementara usia dan skor kondisi tubuh tidak berpengaruh pada infeksi FFRV. Hasil ini terbatas pada jumlah sampel yang relatif kecil (n=100), sehingga perlu diinterpretasikan dengan hati-hati dan perlu dikonfirmasi dengan studi yang mengguakan jumlah sampel yang lebih besar.

Pada akhirnya untuk melindungi makhluk yang terancam punah, kita perlu mengenal seutuhnya, termasuk mikroorganisme yang dibawa dan bagaimana tubuh kelelawar merespon infeksi tersebut. Dan siapa tahu, dengan mempelajari bagaimana seekor kelelawar hidup damai dengan virus yang dibawanya, kita justru sedang belajar sesuatu tentang kekebalan tubuh kita sendiri. Dengan memahaminya secara utuh secara langsung dan tidak langsung kita sudah bersiap dan lebih siap apabila ada outbreak virus dan berkontribusi pada kesehatan ekosistem dan One Health.

Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Virology (2026) dengan judul “Tissue distribution study of Flying fox retrovirus (FFRV) infection in the endangered Spectacled flying fox (Pteropus conspicillatus)”. Penulis : Martia Tacharina

Penulis: Martia Rani Tacharina, drh., M.Si.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/tissue-distribution-study-of-flying-fox-retrovirus-ffrv-infection/

AKSES CEPAT