Indonesia mencatat tingkat kematian akibat demam berdarah tertinggi di Asia pada tahun 2022, dengan 45.387 kasus dan 432 kematian. Meskipun upaya pengendalian vektor terus dilakukan melalui program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) berbasis masyarakat, sejumlah wilayah masih melaporkan kasus demam berdarah, yang mengindikasikan masih adanya populasi nyamuk Aedes yang mampu mempertahankan penularan. Deteksi virus dapat membantu memantau dan mencegah penyebaran virus, memperkuat sistem surveilans untuk merespons kasus, mengurangi jumlah kasus DENV, serta mendorong pendekatan pengendalian vektor terpadu yang melibatkan partisipasi masyarakat, pengelolaan lingkungan, pengendalian hayati dan kimiawi, serta kolaborasi lintas sektor. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki keberadaan arbovirus dan mekanisme resistensi insektisida pada populasi nyamuk Aedes di Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, selama awal musim hujan tahun 2021.
Survei dilakukan pada bulan Januari 2021 dan larva Aedes dikumpulkan serta dipelihara hingga dewasa di laboratorium. Sebanyak 309 larva Aedes (terdiri dari 65% Aedes aegypti dan 35% Aedes albopictus) dikumpulkan dari 36 tempat perindukan, diidentifikasi, dan diberi informasi geografis menggunakan perangkat lunak QGIS. Ekstraksi RNA dan uji RT-PCR dilakukan untuk mendeteksi virus Dengue (DENV), virus japanese encephalitis (JEV), virus west nile (WNV), dan mutasi knockdown resistance.
Hasil penelitian menunjukkan tujuh sampel positif DENV-2 dan tujuh sampel positif JEV, dengan dua sampel menunjukkan koinfeksi oleh kedua virus tersebut, sementara WNV tidak terdeteksi. Deteksi JEV pada larva Aedes merupakan temuan penting yang mengindikasikan potensi peran vektor sekunder bagi spesies-spesies ini di wilayah penelitian, mengingat nyamuk Culex adalah vektor utama JEV. Mutasi pada kodon 1016 (V1016G) dan 1534 (F1534C), yang terkait dengan resistensi terhadap piretroid dan DDT, masing-masing terdeteksi pada delapan dan tujuh sampel. Temuan ini mengonfirmasi sirkulasi DENV-2 dan JEV pada populasi Aedes setempat serta menyoroti keberadaan mutasi yang menyebabkan resistensi insektisida. Hasil penelitian ini menegaskan perlunya pengelolaan vektor terpadu secara mendesak di Surabaya, yang menggabungkan surveilans arbovirus, pemantauan resistensi insektisida, dan pengendalian sumber berbasis masyarakat untuk memitigasi penularan penyakit arbovirus. Serta temuan ini menyoroti perlunya pengembangan agen antivirus yang menargetkan virus Dengue maupun JEV, sembari mempertimbangkan efektivitas dan keamanan dosis insektisida. Secara khusus, penggunaan alternatif berbasis herbal perlu dijajaki untuk memitigasi potensi dampak berbahaya insektisida kimia terhadap kesehatan manusia.
Penulis: Puspa Wardhani, Teguh Hari Sucipto, Adelia Gita Prasasti, dkk
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Judul Jurnal: Characterization of Aedes sp. larvae: Detection of dengue, Japanese encephalitis and West Nile virus with knockdown resistance mutations in Mulyorejo, Surabaya, Indonesia





