东京热

东京热 Official Website

Dampak Berita tentang Mata Uang Digital Bank Sentral terhadap Stabilitas Perbankan: Bukti dari Negara-negara ASEAN-5

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penelitian ini mengkaji bagaimana pemberitaan mengenai Central Bank Digital Currency (CBDC) memengaruhi stabilitas perbankan di lima negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina). Seiring meningkatnya perhatian bank sentral terhadap pengembangan CBDC sebagai bentuk mata uang digital resmi, persepsi publik terhadap kebijakan tersebut semakin dipengaruhi oleh media. Berita mengenai CBDC diyakini dapat membentuk ekspektasi masyarakat, memengaruhi perilaku deposan, dan akhirnya berdampak pada stabilitas sektor perbankan. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya masih bersifat konseptual dan belum memberikan bukti empiris mengenai hubungan antara perhatian publik terhadap CBDC dan stabilitas bank. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan membangun CBDC Attention Index (CBDCAI) berbasis pemberitaan media dan menguji pengaruhnya terhadap stabilitas bank di kawasan ASEAN-5.

Penelitian ini menggunakan data 92 bank di lima negara ASEAN selama periode 2019鈥�2023. Variabel utama berupa CBDC Attention Index (CBDCAI) dikembangkan dari 553 artikel berita mengenai CBDC yang dikumpulkan dari Reuters Digital News Report dan berbagai media bisnis terpercaya di masing-masing negara. Seluruh berita dianalisis menggunakan NVivo 14 Pro untuk mengidentifikasi sentimen positif maupun negatif. Hasil analisis sentimen kemudian dikonversi menjadi tiga ukuran indeks perhatian (Tone1, Tone2, dan Tone3) yang mencerminkan intensitas perhatian publik terhadap perkembangan CBDC. Stabilitas bank diukur menggunakan Z-Score, sedangkan variabel kontrol meliputi ukuran bank, tingkat permodalan, proporsi deposito, pendapatan nonbunga, dan pertumbuhan ekonomi. Analisis utama dilakukan menggunakan System Generalized Method of Moments (System GMM) untuk mengatasi masalah endogenitas dan karakteristik dinamis data panel, kemudian diverifikasi menggunakan panel quantile regression sebagai uji ketahanan hasil.

Artikel juga menjelaskan perkembangan implementasi CBDC di ASEAN-5. Singapura menjadi pelopor melalui Project Ubin yang kemudian berkembang menjadi Ubin+ untuk pembayaran lintas negara. Thailand mengembangkan Project Inthanon dan proyek digital Baht, Malaysia berpartisipasi dalam Project Dunbar, Filipina mengembangkan Project Agila dan CBDCPh, sedangkan Indonesia menjalankan Project Garuda untuk pengembangan Rupiah Digital. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ASEAN menjadi salah satu kawasan yang aktif mengembangkan CBDC sebagai bagian dari transformasi sistem pembayaran digital.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa CBDCAI berpengaruh positif dan signifikan terhadap stabilitas bank. Semakin tinggi intensitas pemberitaan mengenai CBDC, semakin tinggi pula tingkat stabilitas perbankan yang diukur melalui Z-Score. Secara empiris, peningkatan satu standar deviasi pada indeks perhatian CBDC dikaitkan dengan peningkatan stabilitas bank sekitar 4,2%. Temuan ini konsisten pada berbagai spesifikasi model dan tetap bertahan setelah dilakukan berbagai pengujian ketahanan menggunakan ukuran indeks maupun metode estimasi yang berbeda. Dengan demikian, perhatian publik terhadap CBDC tidak menimbulkan ketidakstabilan perbankan sebagaimana dikhawatirkan sebagian literatur, tetapi justru berkorelasi dengan peningkatan stabilitas sektor keuangan.

Penulis menjelaskan beberapa alasan yang mendukung hasil tersebut. Pertama, pemberitaan positif mengenai CBDC meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap inovasi sistem pembayaran yang dikembangkan bank sentral. Kedua, pengembangan CBDC dipandang mampu memperluas inklusi keuangan karena memberikan akses pembayaran digital kepada masyarakat yang sebelumnya belum memiliki rekening bank. Ketiga, implementasi CBDC mendorong efisiensi sistem pembayaran, mempercepat transmisi kebijakan moneter, meningkatkan transparansi transaksi, serta mengurangi biaya pembayaran. Seluruh faktor tersebut pada akhirnya memperkuat stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Penelitian juga mengacu pada CBDC Stability Hypothesis yang dikembangkan Bank for International Settlements (BIS), yaitu bahwa bank sentral hanya akan menerbitkan CBDC apabila keberadaannya mendukung mandat utama bank sentral, terutama menjaga stabilitas moneter dan stabilitas keuangan.

Selain variabel utama, penelitian menemukan bahwa ukuran bank (bank size) dan tingkat permodalan (capitalization) juga berpengaruh positif terhadap stabilitas bank. Bank dengan aset yang lebih besar dan modal yang lebih kuat memiliki kemampuan lebih baik dalam menyerap risiko sehingga memiliki tingkat stabilitas yang lebih tinggi. Sebaliknya, variabel deposito maupun pendapatan nonbunga tidak selalu menunjukkan pengaruh yang konsisten pada seluruh model estimasi, sehingga pengaruhnya relatif lebih kecil dibandingkan ukuran bank, permodalan, dan perhatian terhadap CBDC. Pertumbuhan ekonomi juga berkontribusi positif terhadap stabilitas perbankan karena kondisi makroekonomi yang lebih baik meningkatkan kualitas aset dan kemampuan debitur memenuhi kewajibannya.

Meskipun demikian, artikel juga mengakui adanya sejumlah risiko yang harus diantisipasi dalam implementasi CBDC. Apabila dirancang secara kurang tepat, CBDC dapat mendorong perpindahan dana masyarakat dari bank komersial ke rekening bank sentral sehingga mengurangi fungsi intermediasi perbankan. Selain itu, isu privasi data, keamanan siber, konsumsi energi, serta kemungkinan terjadinya digital bank run masih menjadi perhatian penting. Oleh karena itu, desain CBDC harus mempertimbangkan keseimbangan antara inovasi, perlindungan konsumen, stabilitas keuangan, dan efektivitas kebijakan moneter. Peran komunikasi publik juga menjadi sangat penting agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan tidak menimbulkan kepanikan akibat pemberitaan yang bersifat spekulatif.

Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap literatur karena menjadi salah satu studi empiris pertama yang menghubungkan pemberitaan CBDC dengan stabilitas perbankan melalui pembentukan indeks perhatian berbasis media. Temuan ini memperluas penelitian sebelumnya yang lebih banyak membahas aspek konseptual CBDC tanpa menguji dampaknya terhadap sektor perbankan. Dari sisi kebijakan, hasil penelitian menunjukkan bahwa bank sentral di ASEAN perlu membangun strategi komunikasi yang efektif mengenai pengembangan CBDC, karena kualitas dan intensitas informasi yang diterima publik terbukti berkaitan dengan stabilitas sistem perbankan. Dengan kata lain, keberhasilan implementasi CBDC tidak hanya bergantung pada desain teknologi dan regulasi, tetapi juga pada bagaimana informasi mengenai CBDC dikomunikasikan kepada masyarakat secara jelas, konsisten, dan kredibel.

Oleh:

Firman Hidayat Bank Indonesia, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia, firman_h@bi.go.id

Raditya Sukmana Uinversitas Airlangga, Indonesia, raditya-s@feb.unair.ac.id

Masrizal Masrizal Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, Indonesia, masrizalrizal95@gmail.com

Rahmat Heru Setianto 东京热, Indonesia, rahmat.heru@feb.unair.ac.id

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/the-impact-of-central-bank-digital-currencies-news-on-bank-stabil/

AKSES CEPAT