UNAIR NEWS – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) menghadirkan inovasi pemanfaatan cangkang telur dan isolat tempe sebagai bahan utama pembuatan scaffold untuk preservasi soket alveolar. Inovasi tersebut berpotensi menjadi biomaterial yang efektif dalam mendukung pertumbuhan jaringan tulang baru pasca pencabutan gigi.
Tim yang beranggotakan lima orang, yakni Silvia Mahesa Putri Widowati, Fira Nabila, Fawza Saniya Nur Apriliyanti, Hardiyanti Pratiwi, dan Dinda Ratih Aurellia Krismanto, di bawah bimbingan Prof apt Rr Retno Widyowati SSi MPharm PhD telah memulai rangkaian program PKM tersebut. Mereka telah menyusun proposal, melakukan kajian literatur, hingga mengurus bidang administrasi untuk peminjaman laboratorium uji coba.
鈥淜e depan, kami akan memulai dengan pembuatan sintesis hidroksiapatit (HA) dari cangkang telur dan ekstraksi kitosan dari rhizopus oryzae isolat tempe. Selanjutnya dilakukan determinasi untuk rhizopus oryzae dan karakterisasi kedua bahan dengan yang ada di komersial untuk memastikan kualitas. Kemudian, menggabungkan keduanya menjadi sediaan scaffold. Hingga langkah terakhir melakukan uji laboratorium secara in vivo menggunakan hewan mencit,鈥 jelas Silvia, selaku ketua tim.聽
Usung Konsep Keberlanjutan
Tim menjelaskan bahwa ide inovasi mereka berawal dari kebutuhan biomaterial dalam bidang kedokteran gigi. Saat ini, para ahli memang telah banyak meneliti dan mengembangkan hidroksiapatit maupun kitosan pada ranah tersebut.
Tim juga menegaskan bahwa mereka mencoba mengekstraksi hidroksiapatit dari cangkang telur, sebagai alternatif dari tulang hewan yang selama ini lazim para praktisi gunakan. Selain itu, jika para peneliti umumnya mengekstrak bahan alternatif kitosan dari cangkang udang, tim ini berinovasi dengan memanfaatkan jamur. 鈥溾婸ada mulanya, kami ingin mengusung konsep blue and green yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, kami mencari alternatif bahan baku yang belum banyak masyarakat manfaatkan, tetapi memiliki ketersediaan yang melimpah di sekitar kita,鈥 jelas tim PKM tersebut.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim menghadirkan terobosan dengan mengolah limbah sehari-hari berupa cangkang telur dan isolat jamur tempe atau rhizopus oryzae yang sangat mudah ditemukan. Karya proposal berjudul 鈥淩ekayasa Scaffold Komposit Hidroksiapatit Cangkang Telur dan Kitosan Rhizopus Oryzae Isolat Tempe untuk Preservasi Soket Alveolar鈥 ini berhasil mendapatkan pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa).
Menjadi Inovasi dengan Harga Lebih Terjangkau
Inovasi medis scaffold hidroksiapatit dan kitosan secara khusus mereka rancang untuk diaplikasikan ke dalam soket alveolar sebagai kerangka penyangga gigi setelah proses pencabutan selesai. Mereka menegaskan bahwa penggunaan kombinasi material organik mampu memfasilitasi regenerasi sel dan tulang secara lebih optimal. 鈥淗arapannya jaringan baru bisa terbentuk, resorpsi tulang berkurang, dan tidak ada inflamasi,鈥 imbuh Silvia.
Ke depan, mereka berharap tim dapat memiliki visi kuat sehingga penelitian dapat lolos ke ajang PIMNAS. Selain itu dapat bekerja sama dengan Kemenkes dan pihak industri. Selain itu, mereka juga berencana melakukan pengembangan formula produk lebih lanjut dengan mengangkat potensi bahan baku lokal. 鈥淜ami tentunya ingin inovasi ini terbukti nyata dapat berdampak dan bermanfaat di kemudian hari,鈥 harap mereka.
Penulis: Putri Andini
Editor: Ragil Kukuh Imanto





