Krisis iklim bukan hanya soal data dan sains, ia juga tentang bagaimana manusia memahaminya. Menariknya, media Indonesia ternyata sering memakai metafora 鈥減erang鈥 dan 鈥渁ncaman鈥 untuk menggambarkan perubahan iklim. Penelitian terbaru dari peneliti menunjukkan bagaimana bahasa bisa memengaruhi cara masyarakat melihat isu iklim. Perubahan iklim adalah konsep abstrak yang sulit dijelaskan kepada publik awam. Oleh karena itu, media sering menggunakan metafora untuk menyederhanakannya. Metafora 鈥減erang鈥 dan 鈥渁ncaman鈥 menjadi pilihan dominan. Dalam kerangka ini, perubahan iklim digambarkan sebagai musuh yang harus dilawan, sementara manusia, terutama pemimpin dunia, dianggap sebagai prajurit yang berjuang menyelamatkan bumi.
Dengan menganalisis lebih dari 1.500 artikel berita dari Kompas.com dan Detik.com selama satu dekade (2013鈥2022), penelitian ini menemukan 457 penggunaan metafora 鈥減erang鈥 dan 153 untuk 鈥渁ncaman鈥. Kata-kata seperti memerangi, melawan, menghadapi, dan ancaman sering muncul dalam narasi berita. Namun, yang menarik adalah siapa yang ditampilkan sebagai 鈥減ahlawan鈥 dalam narasi ini. Alih-alih menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, media lebih sering menyebut tokoh-tokoh besar seperti pemimpin dunia, ilmuwan, dan organisasi internasional. Akibatnya, publik terlihat sebagai penonton pasif, bukan bagian dari solusi.
Metafora perang memiliki sisi positif dan negatif. Di satu sisi, ia mampu menumbuhkan rasa urgensi, solidaritas global, dan tekad untuk bertindak. Misalnya, menggambarkan krisis iklim sebagai 鈥渕usuh global鈥 dapat mendorong kolaborasi lintas negara. Namun di sisi lain, metafora ini juga bisa berdampak negatif. Ia menciptakan dikotomi antara 鈥渒ita鈥 (manusia) dan 鈥渕ereka鈥 (iklim atau alam), seolah-olah alam adalah lawan, bukan bagian dari kehidupan manusia. Pendekatan ini dianggap tidak selaras dengan prinsip ekologi mendalam (deep ecology) yang menekankan kesatuan antara manusia, alam, dan spesies lain.
Penelitian ini menilai bahwa metafora perang dan ancaman dalam pemberitaan media Indonesia cenderung menghasilkan wacana yang 鈥渁mbivalen鈥. Artinya, meskipun menekankan pentingnya mitigasi iklim, media kurang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi. Lebih banyak tanggung jawab diarahkan pada aktor-aktor besar.
Sebagai alternatif, peneliti menyarankan agar media mulai menggunakan metafora yang lebih ekologis dan inklusif, seperti metafora 鈥減erawatan鈥 (care) dan 鈥渒eseimbangan鈥 (balance). Metafora ini mengajak masyarakat untuk aktif menjaga lingkungan sebagai bagian dari ekosistem, bukan sekadar korban perubahan iklim.
Media memiliki peran vital dalam membentuk opini dan sikap publik. Oleh karena itu, cara media menyampaikan isu iklim sangat menentukan bagaimana masyarakat bertindak. Penelitian ini menyarankan agar media tidak hanya fokus pada metafora yang menakutkan, tetapi juga memberikan harapan dan tindakan nyata yang bisa dilakukan oleh pembaca. Dengan menyederhanakan pesan, menyertakan contoh aksi nyata, dan melibatkan emosi secara positif, media bisa menjadi motor penggerak dalam perjuangan melawan krisis iklim.
Penulis: Muchamad Sholakhuddin Al Fajri, S.S., M.A.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada tautan publikasi ilmiah berikut:





