UNAIR NEWS – Kecepatan bukan menjadi satu-satunya penentu kemenangan dalam kompetisi robotika. Berbekal integrasi hardware, software, dan sistem kontrol yang dirancang bekerja secara sinkron untuk menjaga konsistensi penyelesaian misi, Tim BRIDO WCT 东京热 (UNAIR) berhasil meraih Juara Harapan 1 pada Kontes Robot Indonesia (KRI) 2026 Divisi Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) yang dilaksanakan Minggu (12/7/2026).
Ketua tim, Haris Idrak Haikal, menjelaskan bahwa inovasi yang dikembangkan tim berfokus pada sinkronisasi antar sistem robot untuk memastikan setiap tahapan misi dapat diselesaikan secara efektif. Menurutnya, kemampuan menjaga konsistensi penyelesaian misi menjadi faktor yang membedakan performa tim di tengah persaingan KRI 2026.
Integrasi Sistem Jadi Kunci Konsistensi Robot
Keunggulan Tim BRIDO WCT tidak hanya terletak pada kemampuan robot menyelesaikan setiap misi, tetapi juga pada integrasi sistem yang dikembangkan selama proses perancangan. Haris menjelaskan bahwa inovasi utama tim berfokus pada sinkronisasi antara hardware, software, dan sistem kontrol agar robot mampu bekerja secara presisi, stabil, dan konsisten di arena pertandingan. Menurutnya, pendekatan tersebut dipilih karena keberhasilan dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) tidak semata ditentukan oleh kompleksitas teknologi yang digunakan, melainkan oleh kemampuan robot menjalankan setiap tahapan misi tanpa kesalahan.
“Inovasi utama kami ada pada integrasi hardware, software, dan sistem kontrol agar bekerja secara sinkron. Fokus kami bukan membuat fitur yang paling rumit, tetapi menghasilkan robot yang presisi, stabil, dan konsisten dalam menyelesaikan misi di arena,” jelas Haris.
Menurutnya, perpaduan antara sistem robot yang stabil dan strategi pertandingan yang terencana menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi performa tim sepanjang kompetisi.

Strategi Pertandingan Lengkapi Keunggulan Teknologi
Dalam implementasinya, Tim BRIDO WCT mengembangkan dua robot yang saling terintegrasi, yakni robot manual dan robot autonomous. Robot manual bertugas mengambil tombak, sedangkan robot autonomous mengambil bagian kepala sebelum kedua komponen tersebut dirakit untuk melanjutkan misi berikutnya. Robot autonomous juga dibekali sensor, kamera, dan algoritma navigasi guna mendukung pengambilan keputusan secara mandiri selama pertandingan.
Kedepan, Tim BRIDO WCT berkomitmen untuk terus mengembangkan riset robotika serta menyempurnakan sistem yang telah dibangun. Haris berharap semakin banyak mahasiswa UNAIR yang tertarik mendalami bidang robotika karena pengembangan teknologi tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kolaborasi dan strategi dalam menyelesaikan permasalahan.
“Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajar. Keahlian di bidang robotika tidak harus dimiliki sejak awal karena semuanya dapat dipelajari melalui proses, pengalaman, dan latihan bersama tim,” pungkasnya.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Khefti Al Mawalia





