UNAIR NEWS 鈥 Setelah memperkenalkan pemanfaatan pelepah sawit sebagai pakan alternatif, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 东京热 (UNAIR) terus mengembangkan program Sapi Sehat, Limbah Sawit Bernilai, Peternak Berdaya di Distrik Prafi, Manokwari, Papua Barat. Perkembangan program tersebut menjadi fokus dalam forum koordinasi dan diskusi multipihak di Aula Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua Barat, Kabupaten Manokwari, pada Selasa (1/9/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan. Seperti perwakilan BRMP Papua Barat; Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua Barat; Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan Kabupaten Manokwari; Kelompok Penyuluhan Pertanian Provinsi Papua Barat; serta BPP Prafi. Forum tersebut membahas perkembangan program sekaligus kebutuhan penguatan peternakan berbasis sumber daya lokal.
Memperkuat Praktik dan Pendampingan Peternak
Ketua Tim, Prof Dr Erma Safitri drh MSi, menjelaskan bahwa tim menerapkan pendekatan learning by doing melalui penyuluhan, pendampingan lapangan, dan praktik langsung. Pendekatan tersebut membantu peternak memahami inovasi sekaligus memperoleh pengalaman dalam menerapkannya.
鈥淧rogram ini tidak serta-merta berfokus pada peningkatan produktivitas. Tetapi juga penguatan sistem usaha ternak melalui pencatatan ternak, pendampingan peternak potensial, pelibatan masyarakat pemilik lahan sawit, serta pengembangan distribusi hasil ternak,鈥 jelasnya.

Diskusi bersama para pemangku kepentingan juga menemukan tantangan berupa masih dominannya sistem penggembalaan bebas. Kondisi tersebut menyulitkan pengelolaan dan pemantauan ternak, termasuk ketika peternak menerapkan program penggemukan. Oleh karena itu, tim mendorong praktik langsung pembuatan silase agar peternak semakin memahami teknologi pakan tersebut.
鈥淒alam pengembangan silase, kami tidak sekadar melihat proses pembuatannya. Tetapi juga perlu memperhatikan kandungan nutrisi, kebutuhan mineral, biaya produksi, dan efektivitasnya dalam mendukung penggemukan sapi. Hal-hal tersebut penting agar inovasi pakan yang kami kenalkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan peternak dan dapat diterapkan secara berkelanjutan,鈥 ujar Prof Erma.
Menyusun Basis Data Kesehatan Ternak
Sebagai tindak lanjut, tim telah menjalankan Posyandu Ternak Keliling di kawasan SP3 (Satuan Pemukiman) dan SP4. Tim melakukan pendataan ternak, pemberian obat cacing, suplementasi vitamin, serta penyusunan basis data kesehatan ternak. Tim juga merencanakan kegiatan serupa di SP1 dan SP2.
鈥淧endataan menjadi bagian penting karena kondisi setiap ternak perlu dipantau secara berkala. Dengan basis data yang lebih teratur, peternak dan pendamping dapat mengetahui perkembangan kesehatan ternak serta menentukan langkah pengelolaan yang lebih tepat,鈥 imbuh Prof Erma.
Ke depan, kolaborasi pemerintah daerah, penyuluh, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi kunci pengembangan model tersebut sebagai dasar blueprint pembangunan peternakan di Prafi. 鈥淚ntegrasi sapi dan kelapa sawit berpotensi menjadi model peternakan berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan bagi masyarakat Prafi,鈥 pungkasnya.
Program ini turut mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 15 (Ekosistem Daratan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan peternakan, ekonomi sirkular, serta pemanfaatan sumber daya lokal.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Yulia Rohmawati





